Penerimaan Mahasiswa UNS Jalur SNMPTN dengan Prestasi Tahfidz

Penerimaan Mahasiswa UNS Jalur SNMPTN dengan Prestasi Tahfidz

Hampir setiap tahun, memasuki semester genap, ada banyak pertanyaan yang masuk kepada Admin tekait jalur masuk UNS dengan prestasi Tahfidz Al Qur’an. Ada banyak kesalahpahaman yang muncul, antara lain :
1. Adanya anggapan bahwa dengan prestasi tahfidz  maka calon mahasiswa baru otomatis bisa masuk ke UNS. Faktanya tidak. Calon mahasiswa baru yang ingin mendaftar masuk UNS dengan prestasi tahfidz harus melalui seleksi SNMPTN dengan syarat-syarat yang ada.
2. Program prestasi tahfidz ini bukanlah program beasiswa. Untuk mendapatkan beasiswa calon mahasiswa baru antara lain bisa mengakses program bidikmisi mengikuti syarat dan ketentuan yang ada.

PENTING NIH DIBACA YA:
Prinsipnya penerimaan Mahasiswa UNS lewat jalur hafidz Alquran masuk ke dalam program SNMPTN.
Nilai Raport akademik merupakan indikator utama. Hafalan Alquran masuk ke dalam poin prestasi tambahan.
UNS menetapkan standar minimal hafalan adalah 15 Juz.

Pendaftaran SNMPTN akan dimulai tanggal 4 Feb – 6 Februari 2019. Info bisa langsung dicek di sekolah masing-masing atau melalui web snmptn.ac.id
.
ALUR
.
1. Pastikan kamu adalah siswa yang mendapatkan kuota untuk ikut seleksi SNMPTN di sekolahmu.
2. Konsultasikan kepada pihak sekolah untuk melakukan komunikasi dengan pihak SPMB UNS jika ada siswa dr sekolah tersebut yang ingin mendaftar melalui jalur prestasi tahfidz Alquran.
Setelah tahap ini kamu akan diberitahu terkait syarat-syarat tambahan guna kelengkapan administrasi.
3.  Ikuti alur seleksi SNMPTN sebagimana aturan yang berlaku saat ini.
Saat tahap upload prestasi, jangan lupa upload sertifikat bukti hafalan yang kamu punya.
4. Tunggu pengumuman serentak jalur masuk SNMPTN universitas negeri Se- Indonesia. Menurut web SNMPTN pengumuman hasil seleksi 23 Maret 2019.
5. Akan ada registrasi on desk dan tes hafalan bagi kamu yang telah diterima.
6. Buat kamu yang keterima lewat jalur ini, kamu akan punya keluarga baru yang namanya ‘Keluarga Huffazh UNS’, disini kamu bakal dapet pembinaan berkaitan dengan Alquran.

Studi Analisis Kepribadian Pada Psikologi Modern dan Psikologi Islam

Studi Analisis Kepribadian Pada Psikologi Modern dan Psikologi Islam

Oleh : Mohammad Khair Alfikry
Peserta Program Kaderisasi Ulama (PKU) UNIDA Gontor Angkatan 12 Tahun 2018

Abstrak

Lahirnya psikologi sebagai sebuah disiplin ilmu di Barat tidak lepas dari worldview Barat yang sekularistik. Sehingga, pemahaman psikologi Barat tentang hakikat kepribadian manusia menjadi tidak holistis karena menafikan nilai spiritual agama. Pemahaman seperti ini berbeda dengan psikologi Islam yang berlandaskan Al-Qur’an dan Sunnah serta mengintegrasikan antara agama dan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, untuk membuktikan bahwa asumsi-asumsi psikologi Barat keliru dan mereaktualisasikan kembali hakikat konsep kepribadian manusia dalam Islam, maka dalam makalah ini penulis akan memaparkan asumsi-asumsi tersebut, serta mengkomparasikan konsep kepribadian menurut psikologi Barat dan kepribadian menurut psikologi Islam yang dijelaskan dalam konsep fitrah. Sehingga dari hasil komparasi tersebut, didapatkan bahwa konsep fitrah dalam psikologi Islam mampu menjelaskan hakikat kepribadian manusia secara holistis berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah.

Kajian tentang kepribadian manusia sebenarnya telah dimulai sejak lama. Para filsuf Yunani kuno dari Plato,[1] Aristoteles[2] dan para filsuf lainnya telah melakukan spekulasi-spekulasi tentang hakikat manusia dalam kajian filsafat. Pembahasan mereka tentang hakikat manusia mencakup pembahasan memori, pembelajaran, persepsi, serta perilaku-perilaku nya. Hingga pada abad ke XIX, ilmu psikologi memisahkan diri dari induknya, yaitu filsafat dan menjadi suatu disiplin keilmuan yang berdiri sendiri.[3] Oleh karena itu, bila kajian psikologi, khususnya yang berkaitan dengan kepribadian dilacak permulaannya, maka dapat ditemukan pada abad ke-5 sebelum Masehi, yaitu pada masa Yunani Kuno.

Kemunculan psikologi sebagai sebuah disiplin ilmu tentunya tidak lepas dari worldview tempat dimana disiplin ilmu tersebut pertama kali muncul. Worldview Barat yang lebih mengedepankan unsur-unsur saintifik[4] dan bersifat sekularistik[5] dalam kajian keilmuannya, dapat ditemukan dalam disiplin ilmu psikologi. Sehingga, kajian psikologi Modern, termasuk kajian tentang kepribadian menjadi tidak holistis, karena hanya menelaah hal-hal yang bersifat lahiriah saja, dan menafikan nilai agama.[6] Akibatnya, kajian kepribadian dengan worldview Barat yang saintifik ini hanya menampilkan manusia “apa adanya” tanpa sedikitpun menyentuh “bagaimana seharusnya”. Hal ini kemudian berdampak kepada pudarnya nilai-nilai spiritual manusia yang berimplikasi dekadensi moral belakangan ini. Psikologi yang berkembang di Barat seolah-olah menjadi ilmu jiwa yang kehilangan jiwa. Maka dari itu, tidak dapat dipungkiri, kajian kepribadian dalam psikologi Modern turut menjadi faktor pudarnya nilai-nilai spiritualitas dan moral.[7]

Hal ini tentu berbeda dengan ilmuwan Islam dalam mengkaji kepribadian. Ilmuwan Islam menggunakan Quasi-scientific Worldview[8] dalam menelaah dan mengkaji kepribadian, sehingga hasil kajian kepribadian dalam Islam bersifat holistis, yakni menelaah kepribadian manusia secara keseluruhan dari aspek jismiyah, nafsaniyah, hingga ruhaniyah. Hasil kajian kepribadian dalam Islam dapat ditemukan pada karya-karya ulama-ulama terdahulu yang telah ditulis sejak abad kejayaan tradisi keilmuan Islam. Di antara karya-karya tersebut adalah kitab Ih}ya>’ Ulu>muddin dan Ma’a>rij Al-Quds fi> Mada>rij Ma’rifat Al-Nafs milik Al-Ghazali, kitab Dar’u Ta’a>rudh Al-‘Aql wa Al-Naql dan Amra>dh Al-Qulu>b wa Syifa>’uha milik Ibnu Taimiyah, kitab Al-Ruh} milik Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dan masih banyak lagi ilmuwan-ilmuwan Islam yang lain yang menelaah dan mengkaji kepribadian. Hal ini membuktikan bahwa Islam bagi kaum muslimin tidak hanya sekedar agama, akan tetapi Islam juga merupakan worldview yang darinya akan memunculkan tradisi keilmuan yang bersifat holistis dan komprehensif.

Oleh karena itu, penting bagi setiap ilmuwan muslim masa kini untuk menelaah, mengkaji ulang, kemudian mereaktualisasikan tradisi keilmuan yang dulu sempat jaya, khususnya dalam kajian keilmuan psikologi kontemporer. Hal ini dimaksudkan untuk mengembalikan nilai-nilai moral dan spiritual dalam kajian psikologi serta mengangkat kembali derajat manusia sebagai makhluk yang istimewa di hadapan Tuhan. Karena secara tidak langsung, kajian kepribadian dalam keilmuan psikologi kontemporer telah melakukan dehumanisasi[9] terhadap objek kajiannya. Maka dari itu, dalam makalah ini, penulis akan menganalisis perbandingan antara teori kepribadian dalam perspektif psikologi Modern dengan teori kepribadian dalam perspektif psikologi Islam.

Unduh Makalah selengkapnya di sini

_______
[1] Menurut Plato, manusia merupakan makhluk terpenting di antara makhluk yang ada di dunia ini. Lebih lanjut, Plato mengungkapkan bahwa jiwa manusia merupakan substansi independen, kekal, dan sudah bereksistensi sebelum bersatu dengan tubuh. Lihat : K. Bertens, Sejarah Filsafat Yunani: Dari Thales ke Aristoteles, (Yogyakarta: Kanisius, 1999), hal. 136

[2] Menurut Aristoteles, manusia mempunyai jiwa dan jiwa manusia itu bukanlah sebuah substansi (sebuah benda yang mengada secara bebas), akan tetapi jiwa adalah bentuk dari sebuah substansi. Maka dari itu, dalam kaitannya dengan kejiwaan manusia, Aristoteles menolak pemisahan jiwa dari tubuh. Lihat : Robert C. Solomon dan Kathleen M. Higgins, Sejarah Filsafat, terj. Saut Pasaribu: A Short History of Philosophy, (Yogyakarta: Bentang Budaya, 2000), hal. 117

[3] Duane P. Schultz & Sydney Ellen Schultz, Sejarah Psikologi Modern, terj. Lita Hardian: A History of Modern Psychology, (Bandung: Nusa Media, 2015), hal. 4

[4] M. Kholid Muslih, et. al. Worldview Islam: Pembahasan Tentang Konsep-Konsep Penting Dalam Islam, (Ponorogo: UNIDA Gontor Press, 2018), hal. 7

[5] Istilah sekuler berasal dari bahasa Latin, yaitu saeculum yang memiliki makna berkaitan dengan dua konotasi, yaitu waktu dan tempat. Waktu menunjuk kepada pengertian masa kini, sedangkan tempat menunjuk kepada pengertian dunia. Sedangkan sekularisasi didefinisikan sebagai pembebasan manusia dari agama dan metafisika yang mengatur nalar dan bahasanya. Worldview yang bersifat sekularistik berarti worldview yang melakukan dikotomi terhadap hal-hal yang fisik dan metafisik serta membuang hal yang bersifat metafisik. Lihat : Syed Muhammad Naquib Al-Attas, Islam dan Sekularisme, terj. Karsidjo Djojosuwarno Islam and Secularism, (Bandung: Pustaka Salman ITB, 1981), hal. 18-20

[6] Ada 2 kemungkinan mengapa Psikologi Kepribadian Barat tidak mengaitkan diri dengan nilai agama. Pertama, ia sengaja tidak melibatkan diri dari nilai-nilai agama, sehingga keberadaannya tidak berbaur dengan disiplin Karakterologi. Ia dicetuskan untuk mengidentifikasi kepribadian seseorang dan mencoba memberi terapi apabila ditemukan patologis-patologis tertentu. Jadi, tugas psikolog kepribadian disini hanya sekedar mengidentifikasi sifat atau tipe tingkah laku tertentu tanpa berupaya menilainya, seperti menyatakan baik dan buruk. Kedua, Psikologi Kepribadian belum mampu mengkaver fenomena agama, sebab sudut pandang yang digunakan berbeda dengan Psikologi Kepribadian Islam. Lihat : Abdul Mujib, Fitrah & Kepribadian Islam: Sebuah Pendekatan Psikologis, (Jakarta: Darul Falah, 1999), hal. 123

[7] Moral (dalam terminologi Islam disebut dengan Akhlaq) memiliki keterkaitan erat dengan segala tingkah laku manusia. Maka dari itu, ketika kajian psikologi Modern memisahkan diri dari nilai moral dan spiritualitas, psikologi Modern turut menyumbangkan pengaruh terhadap krisis kemanusiaan pada dunia modern. Lihat: Agustinus W. Dewantara, Filsafat Moral: Pergumulan Etis Keseharian Hidup Manusia, (Yogyakarta: Kanisius, 2017), hal. 2-3

[8] Merujuk kepada klasifikasi model worldview menurut Alparslan Acikgenc, worldview Islam disebut Quasi-scientific Worldview. Worlview Islam disebut demikian karena seperti halnya worldview saintifik pada umumnya, terbentuk akibat proses keilmuan dan pendidikan yang sistemik, namun tidak sepenuhnya disebut saintifik, karena pada fase awalnya, terdapat faktor esensial yang memengaruhi, yaitu wahyu Al-Qur’an dan Sunnah. Wahyu Al-Qur’an dan Sunnah tersebut menjadi rujukan asasi atas berbagai konsep dasar yang membentuk worldview Islam. Lihat : M. Kholid Muslih, et. al, op.cit, hal. 19

[9] Karena psikologi modern dibangun diatas asumsi-asumsi yang keliru tentang manusia, seperti teori Psikoanalisa Sigmund Freud yang mengajarkan bahwa manusia hanyalah hewan yang bertindak atas dorongan-dorongan seksual agresif dari bawah-sadarnya. Begitu juga dengan teori Behavioristik J.B. Watson yang menganggap manusia tak lebih dari hewan yang pelakunya ditentukan sepenuhnya oleh lingkungan. Lihat : Wawancara Prof. Dr. Malik B. Badri dalam Jurnal Pemikiran dan Peradaban Islam ISLAMIA Vol. X, No.1 Januari 2016, hal. 89

Kritik Terhadap Argumen LGBT (Tela’ah Ayat Al-Qur’an yang Dijadikan Argumen Pro-LGBT)

Kritik Terhadap Argumen LGBT (Tela’ah Ayat Al-Qur’an yang Dijadikan Argumen Pro-LGBT)

Oleh: Jajang Supriatna
Peserta Program Kaderisasi Ulama (PKU) Angkatan ke-12 Tahun 2018 Universitas Darussalam Gontor.

Abstrak

LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender) merupakan isu yang masih hangat diperbincangkan. Dalam upaya legitimasi, kalangan pro-LGBT berusaha menghancurkan bangunan pertahanan umat islam, yaitu al-Qur’an. Bagi mereka, ayat yang dijadikan dalil pelarangan homoseksual atau LGBT, hanyalah ayat yang bersifat ambigu. Begitu juga dengan kisah kaum Nabi Luth,  selama ini hanya menjadi suatu  faktor kebencian umat Islam terhadap LGBT. Oleh sebab itu, makalah ini bertujuan membahas berbagai argumen pro-LGBT yang disandarkan pada QS. al-Hujurat[49]:13, begitu juga QS. al-A’raf [7]:80-84 dan QS. Hud [11]:77-82. Kemudian, dipaparkan letak kesalahan mereka dalam memaknai ayat, dengan menunjukkan pandangan para mufassir muslim terdahulu terhadap ayat yang dijadikan argumen. Sehingga, dapat diketahui apakah argumen yang dipakai oleh kalangan pro-LGBT kuat dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah atau tidak.

Masalah homoseksualitas selalu menjadi kajian yang menarik dan penting. Hal ini tidak lain melihat fenomena sosial yang berkembang saat ini, di mana homoseksual berevolusi menjadi sebuah gerakan sosial yang lebih dikenal dengan istilah LGBT.[1] LGBT merupakan isu yang masih diperjuangkan oleh kalangan pendukungnya. Lahirnya keputusan Mahkamah Agung Amerika Serikat, tentang peresmian nikah sesama jenis memberikan ruang yang lebar terhadap gerakan atau perkembangan LGBT di berbagai Negara.[2] Tidak hanya itu, dengan dicabutnya kata “homoseksualitas” sebagai kelainan seksual, dalam DSM IV (Diagnosis and Statistic Manual of Mental Disorder), menjadi bentuk keberhasilan mereka dalam mempertahankan LGBT.[3] Dengan begitu, LGBT menjadi suatu hal yang perlu diakui dan diterima keberadaannya.

Hal yang menjadi permasalahan pokok yaitu gencarnya gerakan LGBT masuk pada tataran teologi. Di mana, para penggerak LGBT berusaha untuk mencari dalih pembenaran. Mereka mencari ayat-ayat tertentu dalam al-Qur’an yang dihubungkan dengan legitimasi atas perilaku LGBT.[4] Misalnya, dalam Qur’an Surat al-Hujurat ayat 13,[5] yang dijadikan alasan bahwa homoseksual adalah keragaman dari hasil kreatif Tuhan. Maka, tidak berhak untuk mengklaim bahwa pelaku homoseksual adalah kotor, karena Tuhan tidak melihat pada orientasi seksual, melainkan ketakwaan manusia.[6] Tidak hanya itu, dalam Qur’an Surat al-A’raf ayat 80-84[7] dan Hud ayat 77-82,[8] para pendukung LGBT mengklaim bahwa tidak ada larangan secara eksplisit baik untuk homo maupun lesbian.[9] Begitu juga pernyataan bahwa pemberian adzab kepada umat Nabi Luth bukan karena tindakan homoseksual, melainkan tindakan kaum sodom yang melawan keadilan dengan perampokan dan pemerkosaan.[10] Dari sini, dapat diketahui bahwa para pendukung LGBT berusaha mencari argumen dengan menyandarkan pada ayat al-Qur’an.

Berangkat dari permasalahan di atas, maka tulisan ini hadir untuk mengangkat beberapa kesalahanpahaman mereka dalam memahami konteks ayat. yang mana, lahir dari kebebasan mereka dalam menginterpretasi ayat. Di sisi lain, penulis ingin melakukan pembandingan dengan mengedepankan pemahaman ayat yang ditafsirkan oleh beberapa mufassir terkemuka dalam Islam.

Unduh Makalah lengkap di sini

_______
[1] Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender merupakan istilah yang digunakan sejak awal tahun 1990-an hingga dewasa ini. LGBT adalah istilah yang dipakai untuk menunjukkan seseorang atau individu yang memiliki perbedaan orientasi seksual dan identitas gender dari  kultur tradisional yaitu heteroseksual. Lihat Sinyo, Anakku Bertanya tentang LGBT, (Jakarta: Elex Media Komputindo, 2014).

[2] Adian Husaini, LGBT di Indonesia; Perkembangan dan Solusinya, (Jakarta: Insists, 2015), hal. 25

[3] Rita Soebagio, “Homoseksual (LGBT) dan Problem Psikologi Sekuler”, dalam Jurnal ISLAMIA, Vol. X , Nomor 1, Januari 2016, Jakarta, INSIST, hal. 10.

[4] https://bimaIslam.kemenag.go.id/post/opini/kritik-argumen-untuk-pendukung-lgbt. diakses pada hari Rabu, 10 Oktober 2018, pukul 08.24 WIB.

[5]  Lihat: Departemen Agama Republik RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya, (Bandung: PT. Sygma Ekamedia Arkanleema, 2009), hal. 517. Adapun teks ayatnya adalah sebagai berikut:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ (١٣)

[6] Siti Musdah Mulia,  “Allah Hanya Melihat Takwa, bukan Orientasi Seksual Manusia”, dalam  Jurnal Perempuan, (Jakarta: Yayasan Jurnal Perempuan, 2008), hal. 127

[7] Lihat: Departemen Agama Republik RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya…, hal. 160-161. Adapun teks ayatnya adalah sebagai berikut:

وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُمْ بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِنَ الْعَالَمِينَ (٨٠) إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِنْ دُونِ النِّسَاءِ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ (٨١) وَمَا كَانَ جَوَابَ قَوْمِهِ إِلَّا أَنْ قَالُوا أَخْرِجُوهُمْ مِنْ قَرْيَتِكُمْ إِنَّهُمْ أُنَاسٌ يَتَطَهَّرُونَ (٨٢) فَأَنْجَيْنَاهُ وَأَهْلَهُ إِلَّا امْرَأَتَهُ كَانَتْ مِنَ الْغَابِرِينَ (٨٣) وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهِمْ مَطَرًا فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُجْرِمِينَ (٨٤)

[8] Lihat: Departemen Agama Republik RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya…, hal. 230-231. Adapun teks ayatnya adalah sebagai berikut:

وَلَمَّا جَاءَتْ رُسُلُنَا لُوطًا سِيءَ بِهِمْ وَضَاقَ بِهِمْ ذَرْعًا وَقَالَ هَذَا يَوْمٌ عَصِيبٌ (٧٧) وَجَاءَهُ قَوْمُهُ يُهْرَعُونَ إِلَيْهِ وَمِنْ قَبْلُ كَانُوا يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ قَالَ يَا قَوْمِ هَؤُلَاءِ بَنَاتِي هُنَّ أَطْهَرُ لَكُمْ فَاتَّقُوا اللَّهَ وَلَا تُخْزُونِي فِي ضَيْفِي أَلَيْسَ مِنْكُمْ رَجُلٌ رَشِيدٌ (٧٨)قَالُوا لَقَدْ عَلِمْتَ مَا لَنَا فِي بَنَاتِكَ مِنْ حَقٍّ وَإِنَّكَ لَتَعْلَمُ مَا نُرِيدُ (٧٩) قَالَ لَوْ أَنَّ لِي بِكُمْ قُوَّةً أَوْ آوِي إِلَى رُكْنٍ شَدِيدٍ (٨٠) قَالُوْا يَا لُوطُ إِنَّا رُسُلُ رَبِّكَ لَنْ يَصِلُوا إِلَيْكَ فَأَسْرِ بِأَهْلِكَ بِقِطْعٍ مِنَ اللَّيْلِ وَلَا يَلْتَفِتْ مِنْكُمْ أَحَدٌ إِلَّا امْرَأَتَكَ إِنَّهُ مُصِيبُهَا مَا أَصَابَهُمْ إِنَّ مَوْعِدَهُمُ الصُّبْحُ أَلَيْسَ الصُّبْحُ بِقَرِيبٍ (٨١) فَلَمَّا جَاءَ أَمْرُنَا جَعَلْنَا عَالِيَهَا سَافِلَهَا وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهَا حِجَارَةً مِنْ سِجِّيلٍ مَنْضُودٍ (٨٢)

[9] Siti Musdah Mulia,  Allah Hanya Melihat…, hal. 124

[10] Matahan Lumban Gaol dalam http://www.satuharapan.com/read-detail/lgbt-dalam-alquran-ini-tafsir-ulil-soal-kisah-nabi-luth, yang dilansir pada hari Senin, 22 Februari 2016 pukul 08:22 WIB. diakses pada hari Rabu, 10 Oktober 2018, pukul 08.33 WIB.

Studi Paradigma Pembangunan Pertanian  dari Perspektif Islām

Studi Paradigma Pembangunan Pertanian dari Perspektif Islām

Oleh: Daru Nurdianna
Peser­ta Program Kaderisasi Ulama’ (PKU) Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor, Ponorogo, Angkatan ke-XII Tahun 1439-1440 H/2018 M.

Abstrak:

Paper ini bertujuan untuk melakukan kajian paradigma pembangunan pertanian dari perspektif Islām. Pertanian Indonesia yang dimana menjadi basis ekonomi Bangsa, mengalami sebuah keadaan yang tidak berkembang dengan baik. Maka, persoalan yang multidimensi ini, mendorong dilakukannya usaha-usaha pembangunan pertanian. Namun dari kajian pembangunan pertanian, ia berkiblat dan selalu diarahkan kepada kemajuan peradaban Barat. Di sisi lain, Islam sebagai dīn sekaligus peradaban, memiliki paradigmanya sendiri dalam melihat realitas, kebenaran, tujuan dan konsep dari sebuah pembangunan atau sebuah usaha yang membawa kepada suatu keadaan yang lebih baik dan maju. Maka, paper ini akan menjelaskan persoalan mendasar dari paradigma pembangunan yang pada umumnya tidak menyentuh aspek spiritual; dan memberikan gambaran bagaimana haluan pembangunan dari perspektif Islām adalah untuk menuju kemenangan hakiki (al-falāḥ) kesejahteraan yang materil dan non-materil; dan mengetahui perbedaan mendasar paradigma pembanguan Barat dan Islām.


Dewasa ini, sektor pertanian dari nasion agraris yang bernama Indonesia, masih belum termaksimalkan potensinya. Masih terpatri dalam menghadapi persoalan dan tantangan yang tidak sedikit dan multidimensi, diantaranya: kerusakan lingkungan dan perubahan iklim; infrasturktur, sarana prasarana, lahan dan air; kepemilikan lahan; sistem perbenihan dan pembibitan nasional; akses petani terhadap permodalan kelembagaan petani dan penyuluh; keterpaduan antar sektor, dan kinerja pelayanan birokrasi pertanian.[1] Karena itu, dibutuhkan dialektika pembangunan agar ketahanan pangan terjaga dan sektor pertanian –yang menjadi penopang perekonomian bangsa- menjadi lebih baik. Kemudian,  krisis multidimensi dan kompleks yang dikhawatirkan berkepanjangan ini, memerlukan penyelesaian melalui kejernihan pandangan tentang tiga hal yaitu: pertama, memahami kenyataan sekarang; kedua, bagaimana keadaan yang diinginkan di masa depan; dan ketiga, paradigma yang diperlukan untuk mewujudkan keadaan yang diinginkan.[2] Hal ini karena paradigma, akan menentukan hasil yang dicapai. Adapun di dunia ini, ternyata ada banyak berbagai cara pandang yang dipengaruhi oleh ‘kepercayaan’.[3] Keanekaragaman cara memandang dunia (weltanschauung atau worldview) atau paradigma ini, membuat interpretasi yang beragam terhadap realitas dari suatu fenomena yang ada.[4] Sehingga, interpretasi ini akan mempengaruhi pemahaman tentang konsep-konsep dasar yang dibutuhkan dalam menentukan arah dan desain pembangunan.

Adapun diskursus pembangunan pertanian di Indonesia dewasa ini, merujuknya kepada konsep pembangunan Barat. Hal ini bisa dilihat dari kuliah “Pembangunan Pertanian”, buku yang terkenal adalah “Getting Agriculture Moving” karya Arthur Theodore Mosher. Kebijaksanaan-kebijaksanaan pembangunan pertanian di Indonesia di tahun 1970-an praktis mengacu pada prinsip-prinsip yang dikembangkan pada buku ini.[5] Sehingga, dalam praksis kebijakan pada tahun itu dipengaruhi oleh buku tersebut.[6] Di sisi lain, lembaga rujukan diskursus pertanian dunia, merujuk ke FAO (Food and Agriculture Organization of the United Nations).[7] Umat Islām yang menjadi mayoritas di Indonesia lupa dan terputus akan konsep dan ilmu pertanian dari Ulama’ Islām.[8] Umat Islām melupakan sumbangsih Ulama’ Islām sebelum Barat mengalami rainnasance dan masuk kepada zaman modern.[9] Bahawa salah satu karya Ulama’ yang mengubah dunia saat itu adalah ilmu pertanian. Sehingga, tidak sadar, konsep pembangunan pertanian Indonesia yang mayoritas muslim ini, jauh dari konsep pertanian dalam Islām dan terpengaruhi ilmu dan budaya peradaban Barat.

Padahal, Islām sebagai dīn sekaligus peradaban, memiliki cara pandangnya sendiri (Islamic Worldview)[10]  terhadap realitas dan konsep-konsep penting dalam kehidupan seperti pembangunan. Sehingga, Islām sebenarnya memiliki khazanah keilmuan dan konsep pertanian yang khas. Dikarenakan umat Islām terputus akan sejarah tersebut dan rujukan pembangunan pertanian merujuk ke Barat, maka makalah ini akan berusaha memberikan gagasan dan penjelasan mengenai pembangunan pertanian dari sudut pandang ajaran Islām yang universal; dengan tujuan mengembalikan apa yang seharusnya diusahakan dalam pembangunan pertanian dari perspektif Islām bagi umat Islām khususnya dan pada umat manusia pada umumnya.

UNDUH MAKALAH LENGKAPNYA DI SINI

_________
[1] Lihat Peraturan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 19/Permentan/Hk.140/4/2015 Tentang Rencana Strategis Kementerian Pertanian Tahun 2015-2019. Link: www1.pertanian.go.id/file/RENS-TRA_2015-2019.pdf

[2] Singgih Hawibowo, “Menggali Visi dan Paradigma Pembangunan”, dalam Sutanto J, Revitalisasi Pertanian dan Dialog Perdaban, (Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2006), 558.

[3] Ninian Smart, Worldview; Crosscultural Explorations of Human Beliefs, (New York: Charles Scribner’s Sons, ), 37.

[4] Ibid.,

[5] Lihat P. Wiryono, “Pembangunan Pertanian Indonesia ke Depan: Ke Mana Mau Diarahkan? (Sebuah Pencarian dalam Terang Baru), dalam Jusuf Sutanto et al. Revitalisasi Pertanian dan Dialog Peradaban…, 87.

[6] Dalam Bahasa indonesia terkenal dengan judul “Menggerakkan Sektor Pertanian”. Buku “Getting Agriculture Moving: Essentials For Development And Modernization” diterbitkan di New York oleh ‘For The Agricultural Development’ pada tahun 1966. Beberapa negara berkembang, tidak terkecuali Indonesia mengikuti saran dan langkah kebijakan yang disarankan Mosher. Lihat Bustanul Arifin, Pembangunan Pertanian; Paradigma Kebijakan dan Strategi Revitalisasi, (Jakarta: PT Grasindo, 2005), 11.

[7] Lihat publikasi-publikasi dan karya-karya FAO seperti Jelle Bruinsma, World Agriculture: Toward 2015-2030 An FAO Perspektif, (London: Earthscan Publications Ltd, 2003). FAO,Biotechnologies for Agricultural Development”, Proceedings of the FAO International technical conference on “Agricultural Biotechnologies in developing countries: options and opportunities in crops, forestry, livestock, fisheries And Agro-industry to face the challenges of food insecurity and climate change”, (Rome: FAO, 2011). Land and Water Division (NRL) and the Climate, Energy and Tenure Division (NRC) Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO), The Water-Energy-Food Nexus A New Approach In Support Of Food Security And Sustainable Agriculture, (Roma: FAO, 2014).

[8] Lihat A. H. Fitzwilliam-Hall, An Introductory Survey of the Arabic Books of Filāḥa and Farming Almanacs, Link: alfilaha.org, 2010, Diakses pada tanggal 7 November 2018. Di zaman kegemilangan peradaban Islam, berkembang keilmuan dan teknologi pertanian. Ditemukan banyak manuskrip-manuskrip para Ulama’ Islam yang membahas pertanian.[8] Menurut lembaga riset manuskrip pertanian dalam peradaban Islām ‘al-Filāha Text Project’, di antara banyak sumber karya yang dikagumi dan dikutip oleh ahli agronomi Islām adalah mereka yang berasal dari Yunani. Diantaranya termasuk Aristotle (384-322 SM), yang banyak dikutip oleh Abu’l-Khayr, dan dokter yang sekaligus filsuf Bolos Democritos dari Mendes di Mesir (abad ke-2 SM). Mereka dikutip oleh Ibn Wafid, Abū ‘l-Khayr, Ibn Ḥajjāj dan Ibn al-‘Awwām. Selain itu, ada juga yang dari tradisi Kartago, Mago, yang dikenal ‘Father of Agriculture’, dan dari orang Latin, Varro (116-27 SM), yang mengirim materi dari Cato, penulis pertanian Romawi pertama, dan Columella (abad ke-1 M) yang berasal dari Gades di Roman Hispania; dari Akhir Romawi Timur Dekat, Vindonios Anatolios of Berytos (abad 4-5 M), yang dikenal langsung dari orang-orang Arab dan banyak dikagumi oleh Ibn Wafid, Ibn Ḥajjāj dan Ibn al-‘Awwām; dari tradisi Bizantium ada kitab “Al-Filāḥa al-Rūmīya”, ‘pertanian Bizantium’, dari Cassianus Bassus (abad 6/7th abad ke-7); dan akhirnya yang paling berpengaruh dari semuanya, Al-Filāḥa al-Nabatīya awal abad ke-10, ‘pertanian Nabataean’, diterjemahkan oleh Ibnu Waḥshīya, yang sebagian tampaknya mencerminkan tradisi teologi peradaban lain. Maka, Ada dua karya yang berpengaruh dan diakui oleh para ahli agronomi Arab. Pertama adalah “al-Filāḥa al-Rūmīya”, ‘pertanian Bizantium’ atau “al-Filāḥa al-Yūnānīya al-Rūmīya, ‘Pertanian Yunani-Bizantium’, yang ditulis oleh Qusūs ibn Askūrāskīnah (dari judul Yunani skholastikós), juga disebut Qusṭūs al-Rūmī, yang mungkin ia adalah Cassianus Bassus Scholasticus berdasar kepada siapa karya agronomi yang dikumpulkan dari penulis Yunani dan Latin yang dikatakan telah hidup pada akhir tahun ke-6 atau awal abad ke-7. Sayangnya, tidak ada yang diketahui tentang Cassianus Bassus, karena  karyanya tidak lagi ada dalam terjemahan asli bahasa Yunani atau dalam bahasa Syriac. Kedua, adalah kitab “al-Filāḥa al-Nabatīya” yang dikenal kontroversial dan misterius. Buku ini menjadi sumber yang paling banyak digunakan dalam Buku-buku Pertanian Andalusi (Andalusi Books of Filāḥa), dan “the Rasulid Yemeni and Syrian texts”, yang dikenal juga untuk Maimonides dan Thomas Aquinas di dunia abad pertengahan yang lebih luas. Subjek perdebatan sengit di antara para ilmuwan abad ke-19 dan ke-20, adalah bahwa ‘pertanian Nabatea’ sangat populer dan berpengaruh ditanggung oleh sejumlah besar naskah awal dan akhir (setidaknya empat puluh yang diketahui), dan keberadaan banyak ringkasan (abridgements) dan ikhtisar (summary). Seperti yang telah kita lihat, risalah pertanian Andalusi di awal abad ke-14 dari Ibn al-Raqqām adalah versi ringkasan yang telah dihilangkan hal-hal yang tidak perlu (expurgated) dari ‘pertanian Nabataean’, sementara Al-Falāḥa al-muntakhaba Al-Tamār-Tamurī dari Mesir dan ‘Mutiara Suriah Dimashqī‘ yang diperoleh dari ilmu pertanian dari Bizantium dan Nabataean tampaknya sebagian besar didasarkan pada itu juga.

[9] Pada hakikatnya, Barat mengambil dan menemukan ilmu Yunani, tidak bisa lepas dari bantuan ilmuwan Muslim. Hal ini karena ilmuwan Muslim saat itulah yang menemukan, menyalin, menjelaskan, dan melengkapi ilmu-ilmu peninggalan peradaban Yunani. Setelah itu, barulah Barat menyalin dan mengambil dari ilmuwan Muslim. Cemil Akdoğan mengatakan, “Most European scholars unjustifiably ignore the achievements of islamic science and philosophy in order to trace the origin of their civilization directly to ancient Greek legacy. According to them the only contribution Muslims made was to transmit to Europe what they had inherented from Greek science and philosophy with not much addition”. Lihat Cemil Akdoğan, Science in Islam & the West, (Kuala Lumpur: ISTAC, 2018), 63.

[10] Islam memililki cara pandang terhadap dunia yang khas. Untuk menyebutkan cara pandang Islām yang khas, dalam bahasa Inggris disebut sebagai ‘Islamic Worldview’ sebagai bahasa Univerasal abad ini. Syed Muahmmad Naquib al-Attas menyebutnya dengan isilah ‘Ru’yat al-Islām lil-wujūd’, yang bermakna sebuah cara pandang Islām dalam memandang realitas dan kebenaran yang nampak oleh mata hati kita dan yang menjelaskan hakikat wujud. Syed Muhammad Naquib al-Attas, Prolegomena to The Metaphysics of Islām; an Exposition of the Fundamental Elements of The Worldview of Islām, (Kuala Lumpur: ISTAC, 1995) 2.

Resolusi 2019, Temukan Bakatmu Raih Suksesmu

Resolusi 2019, Temukan Bakatmu Raih Suksesmu

Nurul Huda – Menjelang masuk tahun baru 2019, Rumah Bakat Indonesia sebuah lembaga yang bergerak dalam bidang konseling dan talent mapping remaja menyelenggarakan kegiatan seminar pada Ahad (30/12). Mengambil tema “Resolusi 2019, Temukan Bakatmu Raih Suksesmu” kegiatan ini ditujukan untuk para remaja dan pelajar di Kota Surakarta dan sekitarnya.

Bertempat di Ruang Seminar Masjid Nurul Huda, menjadi pembicara dalam seminar ini Ahmad S. Ahid, S.Psi, S.Pd.I, M.Psi, Founder Rumah Bakat Indonesia dan Ghazy Alauddin Muhamma, Kolumnis Majalah  dan Santri Talents Mapping.

Berangkat dari pertanyaan “Seberapat greget hidup yang dijalani kaum muda masa kini”. Pertanyaan renyah, terkesan mudah tetapi membuat para remaja berlama-lama berpikir untuk menjawabnya. Karena ternyata banyak dari para remaja yang masih merasakan kesulitan untuk menentukan visi hidupnya. Menjadikan hidup sebagaimana arus air yang mengalir.

Dalam kegiatan ini, para peserta diajak untuk menemukan  bakat mereka agar dapat menjalani kehidupan dan masa mudanya dengan sebaik-baiknya. Rumah Bakat Indonesia memiliki metode assessment sendiri dalam memetakan bakat dan potensi kaum muda. Para peserta selanjutanya akan dibimbing oleh Rumah Bakat Indonesia untuk memaksimalkan potensi yang mereka miliki.

Camping Qur’an 2018

Camping Qur’an 2018

Nurul Huda – Menutup akhir tahun 2018, Unit Kegiatan Mahasiswa Ilmu Al Qur’an dan Masjid Nurul Huda UNS kembali menyelenggarakan kegiatan Camping Qur’an. Dibuka pada Ahad tanggal 30 Desember 2018 oleh Pembina UKM Ilmu Al Qur’an, yang juga merupakan dosen PAI Irfan S.Ag,. M.Ag. Kegiatan ini berlangsung selama 3 hari 2 malam.

Dalam agenda pembukaan, para peserta medapatkan tausyiyah dan motivasi dari Ustadz Muinudinillah Basri, M.A. pengasuh Pondok Pesantren Tahfidz Al Qur’an Ibnu Abbas Klaten dan Moch. Ridwanullah Qori Ammar TV. Dalam tausyiyahnya kedua Ustadz menyampaikan bagaimana Al Qur’an telah mampu mengubah kaum Arab yang pada mulanya hanya dikenal sebagai penggembala menjadi generasi terbaik dan pernah memimpin dunia. Semua terjadi hanya karena interaksi dan pengamalan mereka terhadap Al Qur’an

Agenda rutin tahunan ini diikuti sekitar 150 peserta dari berbagai usia dan kalangan. Tidak hanya mahasiswa namun juga diikuti oleh pelajar dan orang tua. Camping Qur’an adalah kegiatan yang ditujukan bagi para jamaah atau kaum Muslimin yang ingin meningkatkan kemampuan membaca dan menghafal Al Qur’an.

Selama pelaksanaan para peserta akan dibagi ke dalam beberapa kelompok dan didampingi oleh para Pembina dari keluarga huffadz UNS. Kelompok belajar dibagi menjadi kelompok tahsin (memperbaiki bacaan) untuk pemula, kelompok tahfidz (menambah hafalan baru) dan juga kelompok murojaah (mengulang hafalan).

Silaturahmi Santri TPQ “Indonesia Mendongeng 6”

Silaturahmi Santri TPQ “Indonesia Mendongeng 6”

Nurul Huda – Masjid Nurul Huda kembali menjadi tempat penyelenggaraan Silaturahmi Santri TPQ se-Solo Raya pada Selasa (25/12). Kegiatan rutin tahunan bertajuk “Indonesia Mendongeng” tahun ini mengambil tema “Bersatu Santri TPQ, Menjadi Tangguh, Cerdas dan Peduli”

Hujan deras yang mengguyur Kota Surakarta tidak menyurutkan semangat santri TPQ untuk hadir dalam kegiatan ini. Dihadiri oleh lebih dari 500 satri TPQ kegiatan ini berlangsung cukup meriah.  Dibuka oleh Ust. Wardjiyono dari Badko TPQ Jebres, kegiatan dilanjutkan dengan dongeng yang disampaikan oleh Kak Jaja.

Adik-adik yang hadir cukup terhibur dengan aksi yang ditampilkan oleh Kak Jaja dan juga ratusan hadiah yang dibagikan oleh panitia. Dalam kegiatan ini juga diselenggarakan lomba pembuatan majalah dinding. Dalam lomba ini, terpilih tiga TPQ penyaji madding terbaik yaitu TPQ Sumarah, Barokah dan Ar Rahman.

Selain lomba dan dongeng, dalam kegiatan ini diselenggarakan juga do’a dan penggalangan dana bagi saudara-saudara kita di berbagai daerah di Nusantara yang tertimpa berbagai bencana. Dari kegiatan ini diharapkan menjadi syiar bagi dakwah Taman Pendidikan AL Qur’an, dan juga menumbuhkan solidaritas dan cinta sesama pada s generasi muda Islam. (***)

 

 

“Kau Yang Kurindukan”, Tabligh Akbar bersama Ust. Handy Bonny

“Kau Yang Kurindukan”, Tabligh Akbar bersama Ust. Handy Bonny

Nurul Huda – Dalam rangkaian acara Nurul Huda Book Fair 2018, Perpustakaan Masjid Nurul Huda UNS menyelenggarakan tabligh akbar yang menghadirkan Ust. Handy Bonny, dai bikers dari Bandung. Mengambil tema “Kau Yang Kurindukan”, kegiatan ini disambut antusias oleh generasi milenial Solo Raya.

Dalam kajiannya Ustadz Handy Bonny mengajak generasi muda Kota Solo untuk menjadikan Allah satu-satunya tujuan dalam setiap aktifitas kehidupan. Ustadz Handy Bonny adalah seorang da’i muda kelahiran Bandung, 14 April 1988. Saat ini aktif di kebun amal, mendampingi para pemuda dalam berbagai kajian untuk lebih mengenal islam.

Tabligh Akbar yang diselenggarakan di Masjid Nurul Huda ini adalah bagian dari rangkaian kegiatan Nurul Huda Book Fair 2018. Dalam event tahunan yang diselenggarakan setiap akhir tahun ini, selain Tabligh Akbar juga diselenggarakan Nobar Film, Talkshow Budaya, Seminar Pemikiran Islam, dan puncaknya akan ditutup dengan agenda Camping Qur’an pada malam pergantian tahun. (***)