[ARTIKEL] Al Quds: Keberadaan dan Maknanya

[ARTIKEL] Al Quds: Keberadaan dan Maknanya

Sungguh, Baitul Maqdis punya hikayat dan kisah … sejak dimulainya zaman dengan adanya pembagian dan pembeda, antara Makkah yang agung dan al-Quds yang indah, antara Makkah tempat turunnya rahmat dan al-Quds tempat naiknya malaikat. Baitul Maqdis pada umat sekarang ini menunjukkan perhatian mereka, seakan-akan keadaan menunjukkan bahwa Makkah haram kita, tempat kita, habitat kita, tidak akan ada seseorang yang dapat menguasainya, namun al-Quds sebagai lading dan tanda ukuran umat ini. Jika umat ini meningkat perhatiannya, keadaan dan perkara serta adabnya, meningkat pula hubungannya dengan Tuhannya, maka Baitul Maqdis begitu pula. Jika keadaan umat dalam keadaan menurun dan lemah, maka Baitul Maqdis akan dikuasai oleh tangantangan dan kelompok-kelompok yang merebutnya hingga umat ini siap bangkit dari keterpurukannya

Download Makalah Lengkap : Al Quds: Makna dan Keberadaannya

[ARTIKEL] Optimalisasi Lembaga Keuangan Islam

[ARTIKEL] Optimalisasi Lembaga Keuangan Islam

Oleh : Nur Septiyani Rahmah

Fenomena perekonomian dunia telah berubah dari waktu ke waktu sesuai perkembangan zaman dengan perubahan tekhnologi informasi yang berkembang pesat. Dimana terdapat nilai-nilai baru yang dibentuk namun sulit menentukan mana yang benar dan mana yang salah, sehingga tatkala membawa kebaikan, didalamnya juga terdapat kehancuran. Hal ini ditandai dengan adanya globalisasi ekonomi yang telah mengubah suasana kehidupan menjadi individualistis dan menimbulkan persaingan yang amat ketat.

Padahal pada dasarnya hampir semua agama yang ada didunia memberikan petunjuk kepada para penganutnya untuk menjalankan kehidupan mereka dimuka bumi ini dengan cara yang baik[1] . Dalam tataran perekonomian Indonesia, telah terjadi jurang kesenjangan antara masyarakat miskin dan masyarakat kaya yang semakin besar. Yang mana menurut Badan Pusat Statistik pada tahun 2017 jurang kemiskinan menunjukkan angka 0,39. Artinya penduduk miskin di tahun ini mencapai 27,7 juta orang dan jumlah tersebut bertambah sekitar 6,90ribu dibanding tahun 2016[2] . Hal ini berarti terdapat adanya ketidak adilan dalam sebuah perekonomian bangsa ini.

Continue reading

[ARTIKEL] WORLDVIEW ISLAM DAN BARAT (Study Komparatif)

[ARTIKEL] WORLDVIEW ISLAM DAN BARAT (Study Komparatif)

Oleh: Dedy Irawan[1]

            Samuel P. Huntington adalah pemberi nama konflik global yang terjadi saat ini dengan sebutan “Clash of Civilization”.[2] Alasannya, sumber konflik umat manusia saat ini bukan lagi ideologi, politik atau ekonomi, tapi kultural. Namun, yang menjadi pertanyaan adalah Jika kultur atau peradaban adalah identitas, maka identitas peradaban itu sendiri adalah worldview. Jadi, Clash of Civilization berindikasi pada Clash of Worldview.[3] Clash of Worldview, istilah ini paling tepat untuk digunakan sebagai komparasi antara worldview Barat yang menjadikan “konsep manusia” sebagai konsep tertinggi diantara konsep-konsep lainnya (Antroposentrisme), dengan worldview Islam yang menjadikan “konsep Tuhan” sebagai konsep kunci, inti dan tertinggi (Teosentrisme atau pandangan tauhid).[4] Sehingga, mempengaruhi cara pandang antara kedua peradaban ini dalam memandang ilmu pengetahuan.

            Worldview mencakup semua sistem dalam kehidupan, baik sistem pendidikan, politik, hukum, atau pun sistem ekonomi, semuanya berlatar belakang dan memancarkan pandangan alam (worldview) serta nilai-nilai utama bangsa dan peradaban tersebut. worldview inilah yang menjadi cara setiap orang memahami kehidupan, serta menjadi asas bagi setiap kegiatannya. [5] Karena urgensinya worldview ini, Alparslan Acikgence menyatakan bahwa seluruh tingkah laku manusia pada akhirnya bisa dilacak sampai ke worldviewnya, suatu kesimpulan yang cukup dengan sendirinya untuk mengungkapkan pentingnya worldview dalam diri seseorang dan dalam kehidupan bermasyarakat, termasuk, tentu saja, kegiatan ilmiah. Ini menunjukkan bahwa semua nilai dan tindakan manusia, sadar atau tidak, merupakan refleksi atas keyakinan-keyakinan metafisis atau worldview tertentu, dan bidang pengetahuan serta pendidikan merupakan bidang yang berakar pada worldview tersebut.[6] Artinya, worldview sangat urgen, karena ia mencakup semua aspek kegiatan dan aktivitas manusia.

Continue reading

[ARTIKEL] KONSEP REVOLUSI MENTAL PERSPEKTIF ISLAMIC VALUES

[ARTIKEL] KONSEP REVOLUSI MENTAL PERSPEKTIF ISLAMIC VALUES

KONSEP REVOLUSI MENTAL PERSPEKTIF ISLAMIC VALUES

Ajat Syarif Hidayatulloh[1]

 

Revolusi Indonesia digagas pertama kali oleh presiden Soekarno; (founding father)[2] pada 1957.[3] Dimana kondisi rakyat sedang “mandeg” dan belum tercapainya cita-cita kemerdekaan. Revolusi mental dikobarkan sebagai suatu gerakan untuk:

“Membimbing bangsa Indonesia agar menjadi manusia baru yang berhati putih, berkemauan baja, bersemangat Elang Rajawali, berjiwa api yang menyalanyala.”[4]

Setelah tujuh dekade, revolusi mental kembali diiklankan Jokowi. Suatu jargon, dan program unggulan[5] kampanye pilpres 2014 guna menggaet massa, mendulang suara. Tentu bukan sebatas ilusi, ada harapan besar dibalik keterpilihannya nanti. Namun bukan sebatas spirit sosialisai, tentunya realisasi pada kehidupan berbangsa dan bernegara harus jadi bukti bukan sekedar janji.[6] Revolusi mental harus mampu menjadi penawar luka, obat penyakit degradasi wibawa Negara, pil lesunya sendi perekonomian, penyambung pudarnya solidaritas dan toleransi, serta pembangkit krisis kepribadian bangsa.[7] Agar revolusi mental sebagai pembaharuan tidak terpental, relevan dengan cita-cita „trisaki‟ pelopor bangsa, demi kedaulatan NKRI, berdikari dalam ekonomi, masyarakat berkepribadian[8] budi tinggi, terwujudnya keadilan sosial, kesejahteraan, serta bangsa yang bermartabat[9] dan berperadaban. Maka dibutuhkan nilai agama, tradisi kebudayaan dan nilai falsafah bangsa.

Continue reading

[KHUTBAH IED] Reaktualiasi  Suri Tauladan  Nabi Ibrahim Dalam Mewujudkan Keluarga  Yang Taat Dan Patuh Terhadap Perintah  Allah

[KHUTBAH IED] Reaktualiasi Suri Tauladan Nabi Ibrahim Dalam Mewujudkan Keluarga Yang Taat Dan Patuh Terhadap Perintah Allah

Reaktualiasi  Suri Tauladan  Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam Dalam Mewujudkan Keluarga  Yang Taat Dan Patuh Terhadap Perintah  Allah Subhanahu Wa Ta’ala

oleh : DR. M. Hudi Asrori Suyuti, S.H., M.H

[pdf]

اللهُ أكْبرُ اللهُ أكْبرُ اللهُ أكْبرُ اللهُ أكْبرُ كبِيرْاً والْحمْدُ للهِ كثِرْاً وسُبحْان اللهِ بُكْرة وأصِيْلاً لا إلِه إلِا اللهُ اللهُ أكبرُ ، اللهُ أكبرُ ولله الْحمْدُ

إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ،

وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه.

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلىَ اَلِهِ وَ أَصْحَابِهِ وَ مَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا .

أَمَّا بَعْدُ

فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَ خَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ و كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ

Hadirin, Jamaah Shalat Idul Adha yang dimuliakan Allah Subhanahuwataa’ala. Setelah tidak henti-hentinya kita memanjatkan puja & puji syukur ke hadhirat Allah Subhanahu wata’ala, atas segala nikmat dan karuniaNYA, maka marilah kita saling berwasiat untuk senantiasa meningkatkan iman & taqwa kepada Allah Subhanahuwata’ala dengan sebenar-benar taqwa.

Hari ini semua Umat Islam di seluruh penjuru dunia menyambut dan merayakan hari raya Idul Adha dengan melaksanakan ibadah shalat ‘ied dan menyembelih ternak korban. Setiap ibadah tentu sudah dituntunkan rukun dan tata cara melaksanakannya, yang di dalamnya tentu mengandung hikmah yang hanya Allah sendiri yang mengetahuinya.

Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahilhamdu.

Bagi manusia hikmah setiap ibadah seringkali tidak mampu menangkapnya secara nalar ataupun dhohir, sehingga sering menggiring kita untuk bersu’udhon kepada Allah Subhanahu wata’ala, bahkan bermaksiat dengan melanggar hukum-hukumNYA. Astaghfirullahal’adzim.

Hikmah dari ibadah Qurban diantaranya adalah mendekatkan diri kepada Allah atas segala kenikmatan yang telah diberikan kepada kita, sebagaimana disabdakan oleh Allah Subhanahuwata’ala di dalam Al Qur’an, Surat Ibrahim  ayat 34,

وَآتَاكُمْ مِنْ كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لا تُحْصُوهَا إِنَّ الإنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ

yang artinya “Dan Dia telah memberikan kepadamu segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah)“.

Inilah karakter manusia, yaitu sering berani berbuat maksiat, mengingkari nikmat Allah dan tidak mensyukurinya. Dengan ayat ini Allah mengajak hamba-hamba-Nya mensyukuri nikmat-nikmatNya, serta meminta dan berdoa kepada-Nya di setiap waktu.

Mengapa kita seringkali ingkar? Karena kita sering silau terhadap kebahagiaan kehidupan dunia yang bersifat sementara ini dan melupakan kehidupan di akhirat yang abadi kelak.

Sudah kita yakini kehidupan di dunia ini “mung mampir ngombe“. Oleh karena itu, kebahagiaan  mestinya kita cari untuk kehidupan di dunia dengan cara halalan thayibah, supaya kita bisa meraih kebahagiaan yang kekal dan abadi di akhirat.

Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahilhamdu.

Hadirin para Jamaah Yang dimuliakan Allah Subhanahu wata’ala.

Kebahagiaan fiddini wa dunya wal akhirat harus menjadi target kehidupan manusia. Oleh karenanya amat tidak disukai oleh Iblis, sebagai musuh abadi manusia. Iblis, akan terus menghalangi upaya meraih kebahagiaan tersebut.

Untuk menjaga kebahagiaan, baik dalam berkeluwarga, bermasyarakat & bernegara, salah satu benteng yang kuat, sehingga dapat mengatasi halangan iblis adalah ketaqwaan kita kepada Allah Subhanahuwata’ala. Tingkatkan taqwa & kuatkan selama-lamanya, karena ia akan mencegah masuknya intervensi Iblis dalam menghancurkan kebahagiaan anak-anak Adam. Namun demikian kita sering berpikir praktis, yaitu mengutamakan kebahagiaan dunia dengan mengabaikan kebahagiaan di akhirat.

Inilah yang menjebak kita untuk terperosok kepada kebahagiaan semu. Kebahagiaan yang dilandasi nafsu kehidupan di dunia yang tidak ada puasnya, segala sesuatu yang telah didapatkan hanya dinikmati sementara dan selalu diikuti nafsu mencari yang lain dan berlebih, dengan segala cara. Nafsu manusia seperti inilah, yang dijadikan skema penelitian dan pengabdian masyarakat Iblis yang sangat sistematis dan tersetruktur. Godaan iblis bersifat komprehensif dan holistik, subyeknya berbentuk manusia dan ghaib, obyeknya adalah nafsu-nafsu manusia, dan cakupannya meliputi semua hal yang menyenangkan manusia : materialistik- kapitalistik, prestisius-egoistik lengkap dengan sentimentilnya. Kita sering terbuai, lupa peringatan dari Allah Subhanahuwata’ala (Yaasin : 60)

أَلَمْ أَعْهَدْ إِلَيْكُمْ يَا بَنِي آدَمَ أَنْ لا تَعْبُدُوا الشَّيْطَانَ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

Bukankah Aku telah perintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaitan? Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu.

Saat ini, Iblis sedang meraih sukses besar. Banyak di antara kita yang menghambakan diri kepada Iblis. Perilaku pelanggaran hukum dan kejahatan  merajalela bahkan seperti gurita yang menggapai-gapai di semua lini kehidupan kita, seiring dengan fatamorgana keelokan duniawi yang membelokan mata dan pikiran menjadi tidak jernih lagi.

Dalam konteks interaksi antar manusia dalam kehidupan sosial, yg di dalamnya terkandung perbedaan-perbedaan tetapi saling pengaruh mempengaruhi, pada dasarnya merupakan dampak dari pembawaan karakteristik pribadi-pribadi manusia yang spesifik dengan kelebihan dan kelemahannya. Konsekwensinya adalah perbedaan dan persaingan adalah suatu keniscayaan. Keteguhan adalah kegoncangan yang tertahan karena digoyang godaan yang sangat mempesona untuk diraih oleh nafsu manusia. Oleh karena itu, saling mengingatkan pd hal yg haq & kesabaran,  watawa shoubil haq, watawa shoubishshabr’, merupakan suatu kewajiban sekaligus kebutuhan bagi manusia.

Berkaitan erat dengan ibadah korban adalah ibadah haji, yang saat ini saudara-saudara kita sudah selesai melaksanakan wukuf di arafah dan malam ini, waktu Saudi, sedang mabit di Muzdalifah, untuk selanjutnya melaksanakan pelemparan jumrah aqabah serta thawaf ifadhah dan sya’i sebagai kesempurnaan terhadap rukun hajinya.

Kita melihat ada hikmah yang besar dari ibadah korban dan ibadah haji yang semuanya bersumber pada keimanan dan ketaqwaan satu keluarga sebagai basic tata kehidupan Muslim Mukmin, yaitu ketaatan Nabi Ibrahim terhadap perintah Allah, kepatuhan Nabi Ismail terhadap ayahnya yang melaksanakan perintah Allah dan keshalihahan Siti Hajar yang ihlas dan tabah ditinggalkan suaminya di pedang gersang dekat Baitullah di sisi pohon Dauhah bersama anaknya Ismail karena memenuhi perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dialog penuh kesabaran dan kemesraan nampak diantara mereka berdua. Pada saat Ibrahim meninggalkan keduanya. Siti Hajar mengikutinya dan bertanya, “Hendak ke manakah, wahai Ibrahim? Engkau meninggalkan kami di lembah yang tiada teman atau apa pun?” Hajar mengulang pertanyaannya beberapa kali. Saat dilihatnya Ibrahim hanya diam, segera ia tersadar. “Apakah Allah yang menyuruhmu berbuat demikian?” tanyanya dengan kecerdasan luar biasa.

“Benar,” jawab Ibrahim. “Jika demikian, maka Allah tak akan menelantarkan kami.” Kemudian Hajar kembali ke tempat semula, sedangkan Ibrahim melanjutkan perjalanannya. Sebagai seorang suami yang bertanggung jawab, Nabi Ibrahim menghadapkan wajahnya ke Baitullah seraya mengangkat kedua tangannya dan berdoa, “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak memiliki pepohonan, yaitu di sisi rumah-Mu yang suci. Mudah-mudahan mereka berterima kasih.” Sementara itu, Siti Hajar menyusui Ismail kecil dan minum dari tempat perbekalannya. Setelah air itu habis, ia dan anaknya kehausan. Dengan penuh cinta, ia beranjak pergi mendaki Bukit Shafa dan Marwa untuk menemukan lokasi air. Terus-menerus seperti itu sebanyak tujuh kali, sampai datanglah pertolongan Allah. Tiba-tiba air keluar dari bawah kaki Ismail kecil yang menangis karena kehausan. yang dikenal dengan air Zamzam. Demikianlah satu episode nan indah dari kehidupan suami yang taat kepada Allah dan istri yang patuh kepada suami yang taat kepada Allah. Nuansa kehidupan harmonis yang dilandasi cinta kasih yang ihlas dan tulus karena Allah, sehingga tercipta sinergitas keluarga yang saling asah, asuh dan asih di segala situasi, baik suka dan duka.

Satu episode yang melengkapi keharmonisan Ibrahim dan Siti Hajar berkaitan erat dengan ibadah Qurban, yang berawal dari ketaatan Nabi Ibrahim terhadap perintah Allah Subhanahuwata’ala untuk menyembelih puteranya yang sangat dikasihinya, Nabi Ismail. Allah sangat menghargai dan memuji pengurbanan Nabi Ibrahim yang dilandasi oleh iman dan takwanya yang tinggi dan murni, kemudian mengganti puteranya Ismail yang akan dikurbankan itu dengan seekor hewan domba yang besar. Sebagaimana dituangkan dalam Al Qur’an Surat Ash-Shaaffat ayat 100-108, yang artinya :

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ (100) فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلامٍ حَلِيمٍ (101) فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ (102) فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ (103) وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ (104) قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ (105) إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلاءُ الْمُبِينُ (106) وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ (107) وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الآخِرِينَ (108)

 “Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shaleh. (100). Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar.(101). Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata. ‘Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!’ Ia menjawab, ‘Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar’. (102). Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). (103). dan Kami panggillah dia, ‘Hai Ibrahim, (104). Sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. (105). Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. (106). dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. (107). Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian.

Subhanallah, suatu suri tauladan yang valid dan terhormat karena dituangkan di dalam Al-Qur’an.

Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahilhamdu.

Hadirin, Para Jamaah rahimakumullah.

Anak adalah amanah Allah SWT kepada ayah dan ibunya, oleh karena itu harus senantiasa dipelihara, dididik dan dibina dengan sungguh-sungguh agar supaya menjadi orang yang shalih atau shalihah, jangan sampai anak tersebut tersesat jalan dalam menempuh jalan hidupnya. Maka kewajiban orang tua terhadap anaknya bukan hanya mencarikan nafkah dan kesenangan-kesenangan yang sifatnya duniawi, tetapi lebih dari itu orang tua harus mengarahkan anak-anaknya untuk mengerti kebenaran, mendidik akhlaqnya, memberinya teladan yang serta mendoakannya. Firman Allah SWT :

يايُّهَا الَّذِيْنَ امَنُوْا قُوْآ اَنْفُسَكُمْ وَ اَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَ اْلحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلئِكَةٌ غِلاَظٌ شِدَادٌ لاَّ يَعْصُوْنَ اللهَ مَآ اَمَرَهُمْ وَ يَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ. التحريم:6

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, tidak mendurhakai (perintah) Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. [QS. At-Tahrim : 6]

Dan sabda Rasulullah SAW :

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ. وَالرَّجُلُ رَاعٍ فيِ اَهْلِهِ وَمَسْئُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ. وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ فيِ بَيْتِ زَوْجِهَا وَمَسْئُوْلَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا. البخارى 1: 215

Kamu sekalian adalah pemimpin dan kamu akan ditanya tentang kepemimpinanmu. Orang laki-laki (suami) adalah pemimpin dalam keluarganya dan akan ditanya tentang kepemimpinannya. Isteri adalah pemimpin dalam rumah tangga suaminya dan akan ditanya tentang kepemimpinannya [HR Bukhari juz 1, hal. 215]

Dengan ayat dan hadits tersebut menunjukkan bahwa orang tua mempunyai tanggungjawab yang berat terhadap anaknya. Fenomena masyarakat sekarang yang timbul adalah orang tua sibuk dengan urusan duniawi, anak terjebak pada iklim modernisasi yang seakan tak terkendali, sehingga komunikasi di dalam keluarga menjadi tidak intens seakan terurai bagaikan “sapu ilang suhe“. Alih peradaban dan perilaku dari orang tua yang seharusnya melekat di dalam kehidupan sehari-hari menjadi renggang dan longgar. Situasi kekeluargaan yang jauh dari suri tauladan nenak moyang kita.

Di dalam masyarakat banyak sekali petuah-petuah yang berdasarkan ajaran Islam, dalam bentuk budaya dan olah rasa, namun kini sudah banyak ditinggalkan. Sebagai contoh, ada pepetah “anak polah bopo kepradah“, “ojo cedhak kebo gupak“, “kacang mongso ninggalo lanjaran“, dan lain sebagainya. Itu semua merupakan ungkapan yang menunjukan tanggung jawab orang tua kepada anak-anaknya. Akibat dari semua itu adalah banyak yang terjebak pada perilaku yang melanggar ketentuan-ketentuan di dalam hukum agama dan hukum negara. Saat ini muncul kejahatan dengan berbagai modus dan sarananya. Orang tua melakukan korupsi untuk mengejar gelimang duniawi dan anak-anak terperosok dalam perilaku negatif penyalahgunaan narkoba, hubungan bebas, perkelahian bahkan pembunuhan, dan lain sebagainya.

Memang, di dalam tata kehidupan bermasyarakat dan bernegara konsekwensi logis dari hukum negara, ciptaan manusia, terdapat banyak kelemahan. Meskipun berlaku asas iedereen wordt geacht de wet te kennen, semua orang dianggap tahu hukum, namun substansinya selain double faced chatarters, juga sering tdk lengkap, tdk jelas, tdk mengatur atau mengatur tdk sesuai dng keadilan masyarakat. Inilah pintu masuk terhadap pelanggaran2 hukum/UU. Oleh karenanya orang tdk takut hukum/UU (dunia) karena terbuka lebar pintu2 penyelematan, namun tdk ingat bahwa orang juga akan berhadapan dng Hukum Allah yang dengannya tdk mungkin dpt dihindarinya dan harus dipertanggungjawabkan di hari qiyamat kelak, dng sanksi yg sangat berat.

Oleh karena itu, Orang tua harus dan harus menanamkan pendidikan serta  pengawasan terhadap ‘aqidah dan syariah yang benar terhadap anak-anaknya. Orang tua wajib mendidik, menjaga dan menyelamatkan keluwarganya jangan sampai syirik, dan menyuruh mereka untuk mendirikan shalat sebagai benteng yang kokoh. Allah berfirman :

وَأْمُرْ اَهْلَكَ بِا لصَّلوةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ، لاَنَسْاَلُكَ رِزْقًا ، نَحْنُ نَرْزُقُكَ ، وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوى. طه :132

Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bershabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezqi kepadamu, Kamilah yang memberi rezqi kepadamu. Dan akibat (yang baik) adalah bagi orang yang bertaqwa. [QS. Thaahaa : 132]

Bagi masyarakat Jawa, oleh nenek moyang kita, kehidupan keIslaman sebagai agama yang haq sudah ditanamkan sehingga hidup, tumbuh dan berkembang di dalam masyarakat kita, khususnya Jawa Tengah, sebagai pewaris dan penerus dinasti Mataram Islam. Hadirin tentu hafal dengan tembang Sabdhatama, YayasanDalem KGPAA Mangkunegara IV, pada pupuh Pangkur, Gatra pertama, yaitu “mingkar mingkuring angkara, akarana karnan mardi siwi, sinawung resmining kidung, sinubo sinungkarta, mrih krtarto pakartining ngelmu luhung, kang tumrap ing tanah jawa, agama ageming aji“. Mingkar mingkuring angkara, berarti mengendalikan diri dari angkara (kemurkaan), Akarana karenan mardi siwi berarti dalam hal akan mendidik putra, Sinawung resmining kidung,  berati  dipresentasikan dengan syair, Sinuba sinukarta, berarti dirangkai dengan  keindahan,  Mrih kretarta pakartining ngèlmu luhung, berarti agar tercapai implemntasi ilmu yang luhur, dan Kang tumrap ing tanah Jawa, berarti yang berlaku di tanah Jawa, Agama ageming aji berarti agama pegangan para pemimpin (keluwarga).

Untuk mencapai tujuan tersebut di dalam keluwarga harus tercipta sinergi yang saling kait mengkait dengan erat dan kuat antara ayah, ibu dan anak-anaknya secara “golong gilig“. Golong berarti bulat dan gilig berarti membujur sejajar tanpa tepi. Memang itu suatu idea yang tidak mudah untuk dilaksanakan. Tetapi itu adalah taget kehidupan dan hidup bagi seseorang baik secara mandiri ataupun di dalam keluwarga dan masyarakatnya yaitu Muslim Mukmin yang ingin mencapai kehidupan yang baik di dunia dan akhirat. Hal ini pulalah yang mengilhami NgarsaDalem Sri Sultan Hamengku Buwono I untuk memberikan pendidikan moral dan karakter orang (satria) Jawa dengan sikap “nyawiji, greget, sengguh lan ora mingkuh“. Nyawiji yang berarti di dalam dirinya satu, menyatu, terpadu. Greget diartikan sebagai gigih, semangat, kerja keras dan dinamis. Sengguh berarti percaya diri dalam bertindak tanpa pongah atau besar kepala (tetap rendah hati). Ora mingkuh berarti tidak akan mundur dalam menghadapai tantangan maupun halangan dan tidak lari dari tanggung jawab.

Demikianlah, untuk mengarungi mahligai rumah tangga yang didalamnya terdapat anak-anak yang menjadi tanggung jawab kita, perlu kiranya mereaktualisasi suri teladan ketaatan Nabi Ibrahim, keshalihahan Siti Hajar dan kepatuhan Nabi Ismail di dalam keluarga kita. Semoga Allah Subhanahu wata’ala memberikan taufiq dan hidayah kepada kita semua.

Sebagai akhir dari khutbah kali ini, marilah kita berdo’a kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامً

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْإِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِلَّذِيْنَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

اَللَّهُمَّ آمِنَّا فِيْ أَوْطَانِنَا وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةَ أُمُوْرِنَا وَاجْعَلْ وِلَايَتَنَا فِيْ مَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ وَاتَّبَعَ رِضَاكَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. اَللَّهُمَّ وَفِّقْ وَلِيَّ أَمْرِنَا لِهُدَاكَ وَاجْعَلْ عَمَلَهُ فِيْ رِضَاكَ، وَارْزُقْهُ الْبِطَانَةَ الصَّالِحَةَ النَاصِحَةَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِيْ أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ

[KHUTBAH EID] IBADAH PUASA RAMADHAN MEMBANGUN KOMITMEN MUSLIM KAFFAH

[KHUTBAH EID] IBADAH PUASA RAMADHAN MEMBANGUN KOMITMEN MUSLIM KAFFAH

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh…

 

PENDAHULUAN

Allahu Akbar (3X) walillahilhamdu

Kaum Muslimin yang berbahagia…

Puja puji hanya miliki Allah SWT yang telah menurunkan kenikmatan-Nya kepada kita semua, diantaranya kenikmatan bulan Ramadhan yang telah berlalu yang masih terbayang-bayang di depan mata kita. Bulan dimana Allah SWT melipatgandakan setiap kebajikan dengan pahala yang tak terhingga. Maka, sudah sepantasnya pada hari kemenangan ini, kita melantunkan takbir, tahmid, tasbih, dan tahlil kepada-Nya sebagai wujud rasa haru dan syukur atas nikmat-nikmat tersebut. Shalawat dan salam terhaturkan kepada manusia agung, teladan manusia, penutup para Nabi dan Rasul (Rasulullah Saw), beserta keluarga, sahabat, dan pengikutnya hingga akhir jaman.

Di hari yang bahagia ini, kita merayakan iedul fitri dengan suka cita karena telah menyelesaikan puasa ramadhan sebulan penuh. Allah SWT berjanji akan mengampuni dosa-dosa yang telah lalu bagi hamba-Nya yang melaksanakan puasa dengan landasan iman dan mengharap pahala-Nya.

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“barangsiapa yag melaksanakan shaum Ramadhan karena iman kepada Allah & mengharapkan pahala (hanya dariNya) maka akan diampuni dosa-dosa yang telah dikerjakannya”. [HR. Bukhari].

Semoga kita semua mendapatkan ampunan dari Allah SWT dan menjadi hamba-hamba yang bertaqwa. Aamiin…

Continue reading

Membangun Kembali Peradaban Islam (Secara Sinergis, Simultan dan Konsisten) – Bag 3

Membangun Kembali Peradaban Islam (Secara Sinergis, Simultan dan Konsisten) – Bag 3

 

Kemunduran Peradaban Islam

Setelah mengetahui asas kebangkitan peradaban Islam kini kita perlu mengkaji sebab-sebab kemunduran dan kejatuhannya. Dengan begitu kita dapat mengambil pelajaran dan bahkan menguji letak kelemahan, kekuatan, kemungkinan dan tantangan (SWOT). Kemunduran suatu peradaban tidak dapat dikaitkan dengan satu atau dua faktor saja. Karena peradaban adalah sebuah organisme yang sistemik, maka jatuh bangunnya suatu perdaban juga bersifat sistemik. Artinya kelemahan pada salah satu organ atau elemennya akan membawa dampak pada organ lainnya. Setidaknya antara satu faktor dengan faktor lainnya – yang secara umum dibagi menjadi faktor eksternal dan internal – berkaitan erat sekali. Untuk itu, akan dipaparkan faktor-faktor ekternal terlebih dahulu dan kemudian faktor internalnya.

Untuk menjelaskan faktor penyebab kemunduran umat Islam secara eksternal kita rujuk paparan al-Hassan yang secara khusus menyoroti kasus kekhalifahan Turkey Uthmani, kekuatan Islam yang terus bertahan hingga abad ke 20M Faktor-faktor tersebut adalah sbb:

Faktor ekologis dan alami, yaitu kondisi tanah di mana negara-negara Islam berada adalah gersang, atau semi gersang, sehingga penduduknya tidak terkonsentrasi pada suatu kawasan tertentu. Kondisi ekologis ini memaksa mereka untuk bergantung kepada sungai-sungai besar, seperti Nil, Eufrat dan Tigris. Secara agrikultural kondisi ekologis seperti ini menunjukkan kondisi yang miskin. Kondisi ini juga rentan dari sisi pertahanan dari serangan luar. Faktor alam yang cukup penting adalah Pertama, Negara-negara Islam seperti Mesir, Syria, Iraq dan lain-lain mengalami berbagai bencana alam. Antara tahun 1066-1072 di Mesir terjadi paceklik (krisis pangan) disebabkan oleh rusaknya pertanian mereka. Demikian pula di tahun 1347-1349 terjadi wabah penyakit yang mematikan di Mesir, Syria dan Iraq. Kedua, letak geografis yang rentan terhadap serangan musuh. Iraq, Syria, Mesir merupakan target serangan luar yang terus menerus. Sebab letak kawasan itu berada di antara Barat dan Timur dan sewaktu-waktu bisa menjadi terget invasi pihak luar.

Faktor eksternal. Faktor eksternal yang berperan dalam kajatuhan peradaban Islam adalah Perang Salib, yang terjadi dari 1096 hingga 1270, dan serangan Mongol dari tahun 1220-1300an. “Perang Salib”, menurut Bernard Lewis, “pada dasarnya merupakan pengalaman pertama imperialisme barat yang ekspansionis, yang dimotivasi oleh tujuan materi dengan menggunakan agama sebagai medium psikologisnya.”Sedangkan tentara Mongol menyerang negara-negara Islam di Timur seperti Samarkand, Bukhara dan Khawarizm, dilanjutkan ke Persia (1220-1221). Pada tahun 1258 Mongol berhasil merebut Baghdad dan diikuti dengan serangan ke Syria dan Mesir. Dengan serangan Mongol maka kekhalifahan Abbasiyah berakhir.

Hilangnya Perdagangan Islam Internasional dan munculnya kekuatan Barat. Pada tahun 1492 Granada jatuh dan secara kebetulan Columbus mulai petualangannya. Dalam upayanya mencari rute ke India ia menempuh jalur yang melewati negara-negara Islam. Pada saat yang sama Portugis juga mencari jalan ke Timur dan juga melewati negara-negara Islam. Di saat itu kekuatan ummat Islam baik di laut maupun di darat dalam sudah memudar. Akhirnya pos-pos pedagangan itu dengan mudah dikuasai mereka. Pada akhir abad ke 16 Belanda, Inggris dan Perancis telah menjelma menjadi kekuatan baru dalam dunia perdagangan. Selain itu, ternyata hingga abad ke 19 jumlah penduduk bangsa Eropa telah meningkat dan melampaui jumlah penduduk Muslim diseluruh wilayah kekhalifahan Turkey Uthmani. Penduduk Eropa Barat waktu itu berjumlah 190 juta, jika ditambah dengan Eropa timur menjadi 274 juta; sedangkan jumlah penduduk Muslim hanya 17 juta. Kuantitas yang rendah inipun tidak dibarengi oleh kualitas yang tinggi.

Sebagai tambahan, meskipun Barat muncul sebagai kekuatan baru, Muslim bukanlah peradaban yang mati seperti peradaban kuno yang tidak dapat bangkit lagi. Peradaban Islam terus hidup dan bahkan berkembang secara perlahan-lahan dan bahkan dianggap sebagai ancaman Barat. Sesudah kekhalifahan Islam jatuh, negara-negara Barat menjajah negara-negara Islam. Pada tahun 1830 Perancis mendarat di Aljazair, pada tahun 1881 masuk ke Tunisia. Sedangkan Inggris memasuki Mesir pada tahun 1882. Akibat dari jatuhnya kekhalifahan Turki Uthmani sesudah Perang Dunia Pertama, kebanyakan negara-negara Arab berada dibawah penjajahan Inggris dan Perancis, demikian pula kebanyakan negara-negara Islam di Asia dan Afrika. Setelah Perang Dunia Kedua kebanyakan negara-negara Islam merdeka kembali, namun sisa-sisa kekuasaan kolonialisme masih terus bercokol. Kolonialis melihat bahwa kekuatan Islam yang selama itu berhasil mempersatukan berbagai kultur, etnik, ras dan bangsa dapat dilemahkan. Yaitu dengan cara adu domba dan tehnik divide et impera sehingga konflik intern menjadi tak terhindarkan dan akibatnya negara-negara Islam terfragmentasi menjadi negeri-negeri kecil.

Itulah di antara faktor-faktor eksternal yang dapat diamati. Namun analisa al-Hassan di atas berbeda dari analisa Ibn Khaldun. Bagi Ibn Khaldun justru letak geografis dan kondisi ekologis negara-negara Islam merupakan kawasan yang berada di tengah-tengah antara zone panas dan dingin sangat menguntungkan. Di dalam zone inilah peradaban besar lahir dan bertahan lama, termasuk Islam yang bertahan hingga 700 tahun, India, China, Mesir dll. Menurut Ibn Khaldun faktor-faktor penyebab runtuhnya sebuah peradaban lebih bersifat internal daripada eksternal. Suatu peradaban dapat runtuh karena timbulnya materialisme, yaitu kegemaran penguasa dan masyarakat menerapkan gaya hidup malas yang disertai sikap bermewah-mewah. Sikap ini tidak hanya negatif tapi juga mendorong tindak korupsi dan dekadensi moral. Lebih jelas Ibn Khaldun menyatakan:

Tindakan amoral, pelanggaran hukum dan penipuan, demi tujuan mencari nafkah meningkat dikalangan mereka. Jiwa manusia dikerahkan untuk berfikir dan mengkaji cara-cara mencari nafkah, dan untuk menggunakan segala bentuk penipuan untuk tujuan tersebut. Masyarakat lebih suka berbohong, berjudi, menipu, menggelapkan, mencuri, melanggar sumpah dan memakan riba.

Tindakan-tindakan amoral di atas menunjukkan hilangnya keadilan di masyarakat yang akibatnya merembes kepada elit penguasa dan sistem politik. Kerusakan moral dan penguasa dan sistem politik mengakibatkan berpindahnya Sumber Daya Manusia (SDM) ke negara lain (braindrain) dan berkurangnya pekerja terampil karena mekanimse rekrutmen yang terganggu. Semua itu bermuara pada turunnya produktifitas pekerja dan di sisi lain menurunnya sistem pengembangan ilmu pengertahuan dan ketrampilan.

Dalam peradaban yang telah hancur, masyarakat hanya memfokuskan pada pencarian kekayaan yang secepat-cepatnya dengan cara-cara yang tidak benar. Sikap malas masyarakat yang telah diwarnai oleh materialisme pada akhirnya mendorong orang mencari harta tanpa berusaha. Secara gamblang Ibn Khaldun menyatakan:

…..mata pencaharian mereka yang mapan telah hilang, ….jika ini terjadi terus menerus, maka semua sarana untuk membangun peradaban akan rusak,dan akhirnya mereka benar-benar akan berhenti berusaha. Ini semua mengakibatkan destruksi dan kehancuran peradaban.

Lebih lanjut ia menyatakan:

Jika kekuatan manusia, sifat-sifatnya serta agamanya telah rusak, kemanusiaannya juga akan rusak, akhirnya ia akan berubah menjadi seperti hewan.

Intinya, dalam pandangan Ibn Khaldun, kehancuran suatu peradaban disebabkan oleh hancur dan rusaknya sumber daya manusia, baik secara intelektual maupun moral. Contoh yang nyata adalah pengamatannya terhadap peradaban Islam di Andalusia. Disana merosotnya moralitas penguasa diikuti oleh menurunnya kegiatan keilmuan dan keperdulian masyarakat terhadap ilmu, dan bahkan berakhir dengan hilangnya kegiatan keilmuan. Di Baghdad keperdulian al-Ma’mun, pendukung Mu’tazilah dan al-Mutawakkil pendukung Ash’ariyyah merupakan kunci bagi keberhasilan pengembangan ilmu pengetahuan saat itu. Secara ringkas jatuhnya suatu peradaban dalam pandangan Ibn Khaldun ada 10, yaitu: 1) rusaknya moralitas penguasa, 2) penindasan penguasa dan ketidak adilan 3) Despotisme atau kezaliman 4) orientasi kemewahan masyarakat 5) Egoisme 6) Opportunisme 7) Penarikan pajak secara berlebihan 8) Keikutsertaan penguasa dalam kegiatan ekonomi rakyat 9) Rendahnya komitmen masyarakat terhadap agama dan 10) Penggunaan pena dan pedang secara tidak tepat.

Kesepuluh poin ini lebih mengarah kepada masalah-masalah moralitas masyarakat khususnya penguasa. Nampaknya, Ibn Khaldun berpegang pada asumsi bahwa karena kondisi moral di atas itulah maka kekuatan politik, ekonomi dan sistem kehidupan hancur dan pada gilirannya membawa dampak terhadap terhentinya pendidikan dan kajian-kajian keislaman, khususnya sains. Menurutnya “ketika Maghrib dan Spanyol jatuh, pengajaran sains di kawasan Barat kekhalifahan Islam tidak berjalan.” Namun dalam kasus jatuhnya Baghdad, Basra dan Kufah ia tidak menyatakan bahwa sains dan kegiatan saintifik berhenti atau menurun, tapi berpindah ke bagian Timur kekhalifahan Baghdad, yaitu Khurasan dan Transoxania atau ke Barat yaitu Cairo.

Itulah sebagian pelajaran yang dapat dipetik dari apa yang disampaikan oleh para sejarawan Muslim tentang kemunduran peradaban Islam. Jika al-Hassan memfokuskan pengamatannya pada masa-masa terakhir kejatuhan kekuasaan Islam pada abad ke 16 hingga abad ke 20, Ibn Khaldun mengamati peristiwa-peristiwa sejarah pada abad ke 15 dan sebelumnya. Kini masih diperlukan redifinisi tentang kemunduran ummat Islam secara umum dan mendasar, agar kita dapat memberikan solusi yang tepat.

Membangun Kembali peradaban Islam

Membangun kembali peradaban Islam memerlukan beberapa prasyarat konseptual. Pertama, memahami sejarah jatuh bangunnya peradaban Islam dimasa lalu, kedua, memahami kondisi ummat Islam masa kini dan mengidentifikasi masalah atau problematika yang sedang dihadapi ummat Islam masa kini. Dan ketiga, sebagai prasyarat bagi poin kedua, adalah memahami kembali konsep-konsep kunci dalam Islam. Yang pertama telah kita bahas di atas, dimana telah digambarkan mengenai cara-cara bagaimana kejayaan peradaban Islam itu dicapai dan bagaimana kejatuhannya itu terjadi. Sedangkan yang kedua akan kita bahas khususnya untuk mencari solusi yang berupa langkah-langkah strategis dan juga praktis. Pada saat yang sama kita perlu memahami Islam dengan menggali konsep baru dalam berbagai bidang sehingga dapat membentuk bangunan baru peradaban Islam yang mampu menghadapi tantangan zaman. Artinya dengan konsep-konsep Islam kita dapat bersikap kritis ataupun apresiatif terhadap konsep-konsep yang datang dari luar Islam.

 

Bagian 2  <<  >>  (Bersambung)

___________
Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A. Ed, M. Phil,  lahir di Gontor, 13 September 1958, adalah putra ke-9 dari KH Imam Zarkasyi, pendiri Pesantren Modern Gontor Ponorogo. Beliau juga Pemimpin Redaksi Majalah ISLAMIA dan direktur Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization (INSISTS), lulus program Ph.D. dari International Institute of Islamic Thought and Civilization – International Islamic University Malaysia (ISTAC-IIUM) Malaysia pada 6 Ramadhan 1427 H/29 September 2006, setelah berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul ‘Al-Ghazali’s Concept of Causality’, di hadapan para penguji yang terdiri atas Prof. Dr. Osman Bakar, Prof. Dr. Ibrahim Zein, dan Prof. Dr. Torlah. Prof. Dr. Alparslan Acikgence, penguji eksternal dari Turki, memuji kajian Hamid terhadap teori kausalitas al-Ghazali pada kajian sejarah pemikiran Islam. Sebab, pendekatan Hamid terhadap konsep kausalitas al-Ghazali telah menjelaskan sesuatu yang selama ini telah dilewatkan oleh kebanyakan pengkaji al-Ghazali. 

Sirah Nabawiyah : Perkembangan Studi Sirah

Sirah Nabawiyah : Perkembangan Studi Sirah

Sirah Nabi SAW. dan Sejarah Manusia

Tidak diragukan lagi, sirah rasulullah SAW. telah menjadi soko guru bagi pergerakan sejarah agung yang dilalui umat Islam di seluruh dunia.

Dengan sirah sebagai titik awal, kaum Muslimin kemudian menguir sejarah. Hal ini menjadi keniscayaan karena bahan pertama yang ditulis oleh para sejarawan muslim tak lain adalah kejadian yang berhubungan dengan Rasulullah SAW. Setelah itu, berlanjut menjadi mata rantai sejarah panjang yang tersambung hingga sekarang.

Bahkan, sejarah jahiliah yang menjadi “gambar latar belakang” pentas sejarah Islam di Semenanjung Arab baru mendapat perhatian besar dari kalangan masyarakat muslim dan non muslim di sana dengan menuangkannya dalam literatur tertulis karena adanya dorongan dari agama Islam yang muncul dengan membawa batasan tentang definisi “jahiliah” seiring dengan kelahiran sang Cahaya Terang, Muhammad SAW.

Alhasil, sirah Nabi SAW. benar-benar menjadi pust orbit bagi semua kegiatan penulisan sejarah Islam yang dilakukan di Semenanjung Arab. Bahkan, sirah pula yang memberi pengaruh kuat terhadap berbagai kejadian penting dalam sejarah Islam di penjuru dunia, khususnya di Semananjung Arab.

Continue reading

Membangun Kembali Peradaban Islam (Secara Sinergis, Simultan dan Konsisten) – Bag 2

Membangun Kembali Peradaban Islam (Secara Sinergis, Simultan dan Konsisten) – Bag 2

Oleh : Hamid Fahmy Zarkasyi

Tradisi intelektual Islam

Bagaimanakah pandangan alam Islam itu tumbuh dan berkembang dalam pikiran seseorang dan kemudian menjadi motor bagi perubahan sosial umat Islam merupakan proses yang panjang. Secara historis tradisi intelektual dalam Islam dimulai dari pemahaman (tafaqquh) terhadap al-Qur’an yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw, secara berturut-turut dari periode Makkah awal, Makkah akhir dan periode Madinah. Kesemuanya itu menandai lahirnya pandangan alam Islam. Di dalam al-Qur’an ini terkandung konsep-konsep seminal yang kemudian dipahami, ditafsirkan dan dikembangkan oleh para sahabat, tabiin, tabi’ tabiin dan para ulama yang datang kemudian. Konsep ‘ilm yang dalam al-Qur’an bersifat umum, misalnya dipahami dan ditafsirkan para ulama sehingga memiliki berbagai definisi. Cikal bakal konsep Ilmu pengetahuan dalam Islam adalah konsep-konsep kunci dalam wahyu yang ditafsirkan kedalam berbagai bidang kehidupan dan akhirnya berakumulasi dalam bentuk peradaban yang kokoh. Jadi Islam adalah suatu peradaban yang lahir dan tumbuh berdasarkan teks wahyu yang didukung oleh tradisi intelektual.

Perlu dicatat bahwa tradisi intelektual dalam Islam juga memiliki medium tranformasi dalam bentuk institusi pendidikan yang disebut al-Suffah dan komunitas intelektualnya disebut Ashhab al-Suffah. Di lembaga pendidikan pertama dalam Islam ini kandungan wahyu dan hadith-hadith Nabi dikaji dalam kegiatan belajar mengajar yang efektif. Meski materinya masih sederhana tapi karena obyek kajiannya tetap berpusat pada wahyu, yang betul-betul luas dan kompleks. Materi kajiannya tidak dapat disamakan dengan materi diskusi spekulatif di Ionia, yang menurut orang Barat merupakan tempat kelahiran tradisi intelektual Yunani dan bahkan kebudayaan Barat (the cradle of western civilization). Yang jelas, Ashhab al-Suffah, adalah gambaran terbaik institusionalisasi kegiatan belajar-mengajar dalam Islam dan merupakan tonggak awal tradisi intelektual dalam Islam.Hasil dari kegiatan ini adalah munculnya, katakan, alumni-alumni yang menjadi pakar dalam hadith Nabi, seperti misalnya Abu Hurayrah, Abu Dharr al-Ghiffari, Salman al-Farisi, ‘Abd Allah ibn Mas’ud dan lain-lain. Ribuan hadith telah berhasil direkam oleh anggota sekolah ini.

Continue reading

Sirah Nabawiyah : Pentingnya Sirah untuk Memahami Islam

Sirah Nabawiyah : Pentingnya Sirah untuk Memahami Islam

Patut disadari, tujuan mempelajari dan mendalami sirah Nabi saw. bukanlah sebatas untuk mengetahui serangkaian peristiwa sejarah belaka. Bukanlah pula sekadar untuk memetik hal-hal positif yang terkandung di dalam berbagi kisah tentang kejadian penting. Oleh karena itu, kita tak boleh sekali-kali menyejajarkan studi sirah nabi saw. dengan sejarah pada umumnya. Terlebih jika menyikapinya seperti ketika kita mempelajari riwayat hidup seorang khilafah atau suatu babk tertentu dalam sejarah panjang umat manusia. Alih-alih, tujuan dari studi sirah Nabi yang agung adalah agar setiap muslim dapat melihat potret agama Islam paling jelas yang terkait dengan hidup rasulullah saw., tentu setelah mereka memahami sepenuhnya akan setiap prinsip dan kaidah yang dapat diterima nalar.

Studi sirah Nabi saw. bisa dikatakan sebuah usaha aplikatif untuk menemukan gambaran Islam yang utuh dalam sosok suri teladan paling agung: Muhammad saw.

Ada baiknya, di sini penulis sematkan tujuan-tujuan sebenanrnya yang menjadi sasaran studi sirah ini.

Continue reading