[KHUTBAH EID] IBADAH PUASA RAMADHAN MEMBANGUN KOMITMEN MUSLIM KAFFAH

[KHUTBAH EID] IBADAH PUASA RAMADHAN MEMBANGUN KOMITMEN MUSLIM KAFFAH

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh…

 

PENDAHULUAN

Allahu Akbar (3X) walillahilhamdu

Kaum Muslimin yang berbahagia…

Puja puji hanya miliki Allah SWT yang telah menurunkan kenikmatan-Nya kepada kita semua, diantaranya kenikmatan bulan Ramadhan yang telah berlalu yang masih terbayang-bayang di depan mata kita. Bulan dimana Allah SWT melipatgandakan setiap kebajikan dengan pahala yang tak terhingga. Maka, sudah sepantasnya pada hari kemenangan ini, kita melantunkan takbir, tahmid, tasbih, dan tahlil kepada-Nya sebagai wujud rasa haru dan syukur atas nikmat-nikmat tersebut. Shalawat dan salam terhaturkan kepada manusia agung, teladan manusia, penutup para Nabi dan Rasul (Rasulullah Saw), beserta keluarga, sahabat, dan pengikutnya hingga akhir jaman.

Di hari yang bahagia ini, kita merayakan iedul fitri dengan suka cita karena telah menyelesaikan puasa ramadhan sebulan penuh. Allah SWT berjanji akan mengampuni dosa-dosa yang telah lalu bagi hamba-Nya yang melaksanakan puasa dengan landasan iman dan mengharap pahala-Nya.

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“barangsiapa yag melaksanakan shaum Ramadhan karena iman kepada Allah & mengharapkan pahala (hanya dariNya) maka akan diampuni dosa-dosa yang telah dikerjakannya”. [HR. Bukhari].

Semoga kita semua mendapatkan ampunan dari Allah SWT dan menjadi hamba-hamba yang bertaqwa. Aamiin…

ISLAM KAFFAH

Allahu Akbar (3X) walillahilhamdu

Ma’syiral Muslimin Rahimakumullah…

Setiap orang yang beriman, diperintah oleh Allah SWT untuk menjalankan ajaran Islam secara kaffah, sebagaimana firman-Nya di dalam QS. Al-Baqarah ayat 208;

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu”. [QS. Al-Baqarah: 208]

Islam kaffah adalah Islam secara menyeluruh, dengan seluruh aspeknya, seluruh sisinya, yang terkait urusan IMAN, atau terkait dangan dengan AKHLAK, atau terkait dengan IBADAH, atau terkait dangan MU’AMALAH, atau terkait dangan urusan pribadi, rumah tangga, masyarakat, negara, dan yang lainnya yang sudah diatur dalam Islam. Ini makna Islam yang kaffah.

Dari pengertian Islam kaffah tersebut, maka ajaran Islam secara global terdiri dari tiga pilar utama sistem kehidupan beragama; yaitu sistem kredo, sistem ritus, dan sistem nilai. Pertama, sistem kredo merupakan tata keyakinan/ keimanan yang terdapat dalam ajaran tauhid berupa prinsip Allah SWT sebagai Tuhan Yang Esa. Penjabaran tata keyakinan ini dipaparkan dalam 6 rukun iman (arkaanul iman) yang terdiri dari iman kepada Allah Yang Esa, iman kepada malaikat, iman kepada Nabi dan Rasul Allah, iman kitab-kitab Allah, iman kepada hari kiamat, dan kepada Qada dan Qadar.

Kedua, sistem ritus merupakan tata ibadah dalam bentuk dan kaifiyatnya. Ada ibadah mahdhah seperti shalat, puasa, zakat, dan haji, dan ibadah ghaira mahdhah berupa muamalah yang memiliki ruang lingkup lebih luas. Ketiga, sistem nilai berupa tata kaidah yang berkaitan dengan etika manusia dengan Tuhannya, antar sesama manusia, serta hubungan antar sesama makhluk dan lingkungan.

 

PUASA RAMADHAN DAN MUSLIM KAFFAH

Allahu Akbar (3) Walillahilhamdu

Kaum muslimin yang dirahamati Allah SWT…

Perintah ibadah puasa Ramadhan didasarkan pada firman Allah SWT dalam QS. Al-Baqarah ayat 183;

“ Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”.

Bila dikaji lebih mendalam, ibadah puasa mencakup ajaran Islam yang kaffah. Perintah berpuasa hanya ditujukan kepada orang-orang yang beriman (sistem kredo) sebagai landasan menjalankan ibadah (sistem ritus) dengan tujuan membentuk kepribadian taqwa (sistem nilai). Dengan demikian, pada hakikatnya orang-orang yang melaksanakan perintah Allah SWT untuk berpuasa sedang membangun jadi dirinya sebagai muslim Kaffah, yaitu muslim yang menegakkan komitmen pada tata keimanan/ keyakinan, tata ibadah/ syariat, dan tata nilai.

Pertama, menegakkan komitmen tata keimanan/ keyakinan. Muslim kaffah adalah sosok pribadi yang memiliki keimanan yang kuat (al-imaan al-‘amiiq). Komitmen kepada Allah SWT sebagai Tuhan yang benar. Setiap kita tentu sudah memahami bahwa menuhankan Allah SWT tidak cukup hanya dengan pernyataan, tapi harus kita buktikan dengan sikap dan tingkah laku yang sesuai dengan ketentuan Allah SWT. Ramadhan kita akhiri dengan gema takbir, tahlil dan tahmid, suatu penegasan dari kita bahwa kepada Allah SWT kita perkuat komitmen ketuhanan. Bila kita sudah memiliki komitmen kepada Allah SWT, segala keterikatan kepada yang lain kita sesuaikan dengan keterikatan kepada Allah SWT. Kita bisa mencontoh sahabat Nabi, Bilal bin Rabbah yang tetap berkomitmen mentauhidkan Allah SWT walaupun berada di bawah ancaman penyiksaan fisik dan pembunuhan pada dirinya. Dengan komitmen pada tata keimanan yang kuat ini, pribadi muslim kaffah akan mampu menghadapi segala macam ujian hidup tanpa pernah meninggalkan keyakinannya dan tetap istiqamah menjalankan syariat-Nya. Allah SWT berfirman;

“Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), Maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui” [QS. Al-Jatsiyah: 18].

Satu hal yang harus kita waspadai bahwa banyak orang mengaku beriman kepada Allah SWT, tapi ternyata tidak mau komitmen kepada segala ketentuan-Nya. Ini merupakan keimanan yang tidak ideal, bahkan bisa jadi tidak diakui oleh Rasulullah saw, dalam satu hadits beliau bersabda:

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يَكُوْنَ هَوَاهُ تَبَعًا لِمَا جِئْتُ بِهِ

“Tidak beriman seseorang di antara kamu sehingga hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa (syariat Islam)” [HR. Thabrani].

Ibadah puasa Ramadhan yang baru saja berlalu telah mendidik kita agar memiliki kekuatan komitmen tata keimanan kepada Allah SWT, dan ini harus kita implementasikan dalam kehidupan sehari-hari sebagai bukti nyatanya.

Allahu Akbar (3X) Walillahilhamdu

Jama’ah Shalat Ied yang dimuliakan Allah SWT…

Kedua, menegakkan komitmen tata ritual/ ibadah. Muslim kaffah adalah sosok muslim yang menjalankan ibadah dengan benar (ibadah al-shahihah). Ibadah yang benar harus didasari akidah yang lurus (aqiidah al-saliimah), motivasi yang murni karena lillahi ta’ala, dan mengikuti petunjuk dari Rasulullah SAW (ittiba’ al-Rasuul). Melaksanakan kewajiban ibadah merupakan cerminan komitmen hamba kepada Tuhannya dalam menjalankan peran dan fungsi sebagai ‘aabid (hamba). Allah SWT berfirman di dalam QS. Adz-Dzariyaat ayat 56;

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”.

Muslim kaffah akan melaksanakan ibadah yang diperintahkan oleh Tuhan-Nya sesuai dengan syariat yang telah ditentukan baik dalam kondisi lapang maupun sempit, baik dalam kondisi terpaksa maupun kerelaan hati. Dia senantiasa sami’na wa atha’na dalam menyambut seruan Allah SWT dan rasul-Nya. Allah SWT berfirman;

“Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya”, dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan Kami taat.” (mereka berdoa): “Ampunilah Kami Ya Tuhan Kami dan kepada Engkaulah tempat kembali.” [QS. Al-Baqarah: 285]

Allahu Akbar (3X) Walillahilhamdu

Kaum muslimin Rahimakumullah

Ketiga, menegakkan komitmen tata nilai/ akhlak. Muslim kaffah yaitu sosok pribadi muslim yang komitmen menjaga kemuliaan pribadi, keluarga dan masyarakat dengan akhlak yang mulia (matiin al-khuluq). Satu hal yang harus kita sadari bahwa sekarang ini di antara masyarakat kita banyak yang menunjukkan akhlak yang tercela, bahkan sangat tercela dan amat rendah. Fakta yang diberitakan oleh berbagai media massa semakin mengkhawatirkan, bahkan mencekam perasaan kita semua, apalagi diperkuat dengan data yang tidak perlu kita ragukan. Pornografi yang bertubi-tubi menyerang generasi kita telah menunjukkan hasilnya yang sangat menakutkan mulai dari pergaulan bebas tanpa batas antara pria dengan wanita, perzinaan yang merajalela, pengguguran kandungan yang semakin banyak, hingga pemerkosaan yang disertai dengan pembunuhan, bahkan yang amat memilukan adalah sampai ada bapak menzinai anaknya hingga anak menzinai ibunya, Na’udzubillah, ada apa dengan masyarakat kita sekarang, mengapa semua ini harus terjadi?.

Karena itu, rasa malu untuk melakukan yang tercela membuat kita dapat mempertahankan kemuliaan pribadi, keluarga dan masyarakat, dan ini berpangkal dari keimanan dan keterikatan yang kokoh kepada Allah SWT, Rasulullah saw bersabda:

الْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ اْلِايْمَانِ

Malu itu cabang dari iman” [HR. Bukhari].

Antara keimanan dengan rasa malu merupakan sesuatu yang tidak bisa dipisahkan dan tidak boleh dipisah-pisahkan, seperti dua sisi mata uang yang tidak diakui dan tidak bisa digunakan sebagai alat pembayaran yang sah. Bila malu tidak ada pada jiwa seseorang yang mengaku beriman, maka pada hakikatnya ia tidak beriman, paling tidak pada saat rasa malu itu tidak dimilikinya, Rasulullah Saw bersabda:

اِنَّ الْحَيَاءَ وَاْلِايْمَانَ قُرِنَا جَمِيْعًا فَاِذَا رُفِعَ أَحَدُهُمَا رُفِعَ اْلاَخَرُ

Sesungguhnya malu dan iman dua hal yang digandeng, tak dapat berpisah. Bila salah satunya diambil, yang lain akan ikut terambil [HR. Hakim dan Baihaqi]
Demikian khutbah Iedul Fitri ini kami sampaikan, semoga nilai-nilai Ibadah Ramadhan dapat kita lestarikan dalam kehidupan sehari-hari yang membuat kita semakin bertaqwa kepada Allah SWT. Akhirnya, marilah kita akhiri khutbah ied kita hari ini dengan sama-sama berdoa:

اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَاتَحُوْلُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعْصِيَتِكَ وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَابِهِ جَنَّتَكَ وَمِنَ الْيَقِيْنِ مَاتُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا.

Ya Allah, anugerahkan kepada kami rasa takut kepada-Mu yang membatasi antara kami dengan perbuatan maksiat kepadamu dan berikan ketaatan kepada-Mu yang mengantarkan kami ke surga-Mu dan anugerahkan pula keyakinan yang akan menyebabkan ringan bagi kami segala musibah di dunia ini.

اَللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا وَاجْعَلْهُ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ عَاداَنَا وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيْبَتَنَا فِى دِيْنِنَا وَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا

Ya Allah, anugerahkan kepada kami kenikmatan melalui pendengaran, penglihatan dan kekuatan selama kami masih hidup dan jadikanlah ia warisan bagi kami. Dan jangan Engkau jadikan musibah atas kami dalam urusan agama kami dan janganlah Engkau jadikan dunia ini cita-cita kami terbesar dan puncak dari ilmu kami dan jangan jadikan berkuasa atas kami orang-orang yang tidak mengasihi kami.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ.

Ya Allah, ampunilah dosa kaum muslimin dan muslimat, mu’minin dan mu’minat, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, Dekat dan Mengabulkan doa.

رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami kehidupan yang baik di dunia, kehidupan yang baik di akhirat dan hindarkanlah kami dari azab neraka.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Download : KHUTBAH IDUL FITRI 1438

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *