Merefleksikan Semangat Berhijrah dalam Kehidupan

“Hijrah bukan hanya bermakna berpindahnya raga dari satu tempat ke tempat lainnya, tapi pada pindahnya makna diri atas dasar keimanan kepadaNya”

Satu tahun telah berlalu. Seiring dengan terus berputarnya waktu kita telah mengalami banyak hal dalam kehidupan. Baik keberhasilan, kegagalan, maupun cita-cita yang masih menggantung dan belum teraih. Momen tahun baru Hijriah merupakan saat yang tepat untuk kita jadikan sebagai kilas balik perjalanan setahun yang telah berlalu. Berkaca dari proses hijrah Rasulullah saw dan para sahabat di masa lampau, kita dapat mengambil beberapa pelajaran yang penting. Bahwa hijrah merupakan suatu awal perubahan bagi kehidupan menuju kehidupan dan peradaban yang lebih baik. Oleh karena itu, segala persiapan haruslah matang, baik raga maupun jiwa.

Sejatinya peristiwa hijrah yang dialami Rasulullah saw dan para sahabat merupakan sebenar-sebenarnya hijrah. Baik secara makaniyah maupun ma’nawiyah. Sesuai dengan arti kata hijrah itu sendiri, hijrah berarti “at-tarku” berpindah atau meninggalkan. Hijrah makaniyah adalah berpindah secara fisik, dari satu tempat ke tempat lain. Kebanyakan ayat-ayat tentang hijrah bermakna makaniyah, seperti dalam QS. An-Nisa: 100  dan  QS. Al-Hajj: 58.  Sedangkan ayat tentang hijrah secara ma’nawiyah, sebagaimana dalam firman Allah, dalam surat QS. Al-Ankabut: 26,

“Dan berkatalah Ibrahim: “Sesungguhnya aku senantiasa berhijrah kepada Tuhanku; sesungguhnya Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

Hijrah dalam sejarah Islam adalah satu peristiwa monumental yang sangat penting bukan hanya bagi kehidupan Nabi Muhammad SAW, tapi juga bagi pertumbuhan dan perkembangan agama Islam. Peristiwa itu adalah hijrahnya Rasulullah SAW besama seluruh kaum muslim dari Makkah ke Yatsrib yang kemudian kota ini dikenal menjadi Madinah.

Peristiwa hijrah juga menunjukkan akan keimanan yang tinggi para Sahabat Nabi dan juga keyakinan mereka yang mendalam terhadap perjuangan dalam menegakkan kalimat Allah yang suci. Dengan niatan untuk mendapat keridhaan Allah SWT, mereka sanggup untuk meninggalkan kampung halaman, sanak saudara, dan harta benda. Dengan hijrah juga terjalin persaudaraan yang kuat antara golongan Muhajiran dan Anshar yang Allah telah sifatkan sebagai mukmin yang sebenar-benarnya.

Betapa pentingnya peristiwa hijrah hingga diabadikan dalam Al-Qur’an,

“Orang-orang yang beriman dan berhijrah, serta berjihad di jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman, dan memberi pertolongan, mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki (nikmat) yang mulia.” (QS. Al-Anfaal: 74).

Dalam kehidupan sekarang, seharusnya hijrah tidak hanya dimaknai sebagai perpindahan raga dari tempat satu ke tempat yang lain. Melihat dari perjalanan Rasulullah saw dan para sahabat, hijrah juga berarti membawa jiwa kita menuju ke tempat yang lebih ‘tinggi’ atas dasar keimanan kepada Allah SWT. Oleh karena itu, hijrah secara ma’nawiyah sangat penting untuk diperhatikan. Nilai-nilai yang terkandung dalam perjalanan itulah yang harus dijadikan pelajaran.

Bahwa nilai dan semangat hijrah Rasulullah saw dan para sahabat harus kita bawa dalam kehidupan. Umat Islam harus mempunyai semangat hijrah yaitu hijrah dari jahiliyah menuju Islamiyah. Hijrah dari kekufuran menuju keimanan. Hijrah dari kebatilan menuju al-haq. Hijrah dari maksiat menuju ta’at. Hijrah dari keterbelakangan menuju kemajuan. Itulah hakikat hijrah yang sesungguhnya.

Sehingga nilai filosofis dari hijrah adalah perubahan. Perubahan menuju yang lebih baik dalam segala hal, dan perubahan itu dilakukan semata-mata karena kebaikan dan mencari ridha Allah SWT, sebagaimana ditegaskan dalam sabda Rasulullah SAW:

Barangsiapa yang berhijrah untuk Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang berhijrah untuk dunia (untuk memperoleh keuntungan duniawi) dan untuk menikahi wanita maka hijrah itu untuk apa yang diniatkannya” (Imam Bukhari).

Dari penggalan hadits di atas, kita juga bisa mengambil pelajaran bahwa niat merupakan salah satu syarat penting dalam melakukan hijrah. Apa yang kita niatkan akan berdampak pada apa yang kita dapatkan. Hijrah yang hanya didasari akan nafsu dunia hanya akan bermuara pada dunia saja. Akan tetapi hijrah yang didasari atas keimanan untuk meraih kemuliaan di sisi Allah akan berdampak jauh lebih besar.

Niat yang lurus juga harus diimbangi dengan semangat dan usaha yang tidak kalah baiknya. Berikhtiar untuk melakukan usaha yang lebih baik dari sebelumnya perlu dijadikan sebagai salah satu bentuk sikap yang harus dilekatkan dalam diri. Hendaknya kegagalan yang telah lalu bukan menjadi mimpi buruk yang selalu dihindari. Kita justru harus menjadikannya sebagai teman untuk belajar mengeja langkah ke depan. Selaras dengan itu, keberhasilan yang telah diraih pun hendaknya tidak dijadikan sebagai sarana untuk berbangga diri dan lalai untuk berusaha. Semangat hijrah untuk selalu berubah menjadi lebih baik merupakan semangat yang mampu menjadikan kegagalan menjadi pelajaran dan keberhasilan sebagai ujian. Masa lalu yang buruk merupakan pelajaran untuk menyulam masa depan yang baik. Karena tanpa merasakan perihnya kegagalan mungkin kita tidak dapat merasakan nikmat keberhasilan.

Allah SWT tidak akan pernah luput untuk menilai apa yang kita usahakan. Kembali melihat masa lalu sebagai usaha untuk merancang masa depan adalah salah satu usaha yang harus kita lakukan untuk menyambut tahun baru Hijriah ini. Merefleksikan kembali apa yang telah kita lakukan untuk membuat resolusi satu atau beberapa tahun ke depan. Karena sesuai dengan apa yang kita ketahui, keberhasilan dalam merancang juga berarti merancang keberhasilan, dan sebaliknya. Wallahu a’lam bish shawab

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *