[ARTIKEL] KONSEP REVOLUSI MENTAL PERSPEKTIF ISLAMIC VALUES

[ARTIKEL] KONSEP REVOLUSI MENTAL PERSPEKTIF ISLAMIC VALUES

KONSEP REVOLUSI MENTAL PERSPEKTIF ISLAMIC VALUES

Ajat Syarif Hidayatulloh[1]

 

Revolusi Indonesia digagas pertama kali oleh presiden Soekarno; (founding father)[2] pada 1957.[3] Dimana kondisi rakyat sedang “mandeg” dan belum tercapainya cita-cita kemerdekaan. Revolusi mental dikobarkan sebagai suatu gerakan untuk:

“Membimbing bangsa Indonesia agar menjadi manusia baru yang berhati putih, berkemauan baja, bersemangat Elang Rajawali, berjiwa api yang menyalanyala.”[4]

Setelah tujuh dekade, revolusi mental kembali diiklankan Jokowi. Suatu jargon, dan program unggulan[5] kampanye pilpres 2014 guna menggaet massa, mendulang suara. Tentu bukan sebatas ilusi, ada harapan besar dibalik keterpilihannya nanti. Namun bukan sebatas spirit sosialisai, tentunya realisasi pada kehidupan berbangsa dan bernegara harus jadi bukti bukan sekedar janji.[6] Revolusi mental harus mampu menjadi penawar luka, obat penyakit degradasi wibawa Negara, pil lesunya sendi perekonomian, penyambung pudarnya solidaritas dan toleransi, serta pembangkit krisis kepribadian bangsa.[7] Agar revolusi mental sebagai pembaharuan tidak terpental, relevan dengan cita-cita „trisaki‟ pelopor bangsa, demi kedaulatan NKRI, berdikari dalam ekonomi, masyarakat berkepribadian[8] budi tinggi, terwujudnya keadilan sosial, kesejahteraan, serta bangsa yang bermartabat[9] dan berperadaban. Maka dibutuhkan nilai agama, tradisi kebudayaan dan nilai falsafah bangsa.

Integritas, etos kerja dan gotong royong, [10] merupakan gagasan Jokowi beserta tim-nya meski berpedoman. Pelaksanaannya tidak berbentur dan berlari dari pancasila[11] dan UUD 45 landasan negara. Sulit kiranya mencapai keberhasilan jika tidak memiliki landasan teologis yang jelas, bebas nilai, serta adanya ketidakserasian misi pejabat (hulu) penerima amanah, dan rakyat (hilir) pemberi amanah.[12] Krisis multi dimensi, korupsi, kolusi dan nepotisme, intoleransi SARA, pudarnya nasionalisme, maraknya perjudian, narkotika, free sex, merupakan PR rusaknya mental bangsa yang harus diselesaikan bersama. Disinilah perlunya pendidikan mental yang bernilai. Pendidikan yang mampu melahirkan manusia sadar sebagai individu, sebagai sosial dan makhluk tuhan.

Menyadari bahwa bangsa adalah kumpulan dari manusia, imaji, wilayah dan tata nilai (values) yang beragam dan plural. Sedangkan mental adalah identitas sebuah bangsa. Maka mental harus menjadi pondasi nilai pokok dalam membangun peradaban suatu bangsa. Mental yang terlahir dari sucinya pikiran (aql), bersihnya hati (qalb), dan beningnya jiwa (nafs). Sebab maju dan terbelakangnya suatu bangsa ditentukan oleh nilai-nilai dan mental penduduk-nya. Sebagaimana dikatakan Ahmad Syauqi dalam syauqiyat-nya.[13]

Mental yang dimaksud dalam Islam adalah akhlak. Untuk menjadi seseorang berakhlak diperlukan proses agar menjadi manusia paripurna, proses itu pendidikan namanya. Pendidikan yang mampu mencetak individu berakhlak mulia (good character). Shalih secara individu, shalih sosial. Oleh karena itu, M. Nurdin, menyatakan bahwa pendidikan tidak dapat dipegang sembarang orang, pendidikan harus dipegang orang yang memiliki keahlian dan kecakapan.[14] Hal itu disebabkan pendidikan bersifat irreversible (tidak dapat didaur ulang). Artinya, bila dalam proses pendidikan mental itu terjadi salah asuh, maka selamanya terjadi salah asuh.[15]

Dahulu orang yang memiliki keahlian dalam merevolusi akhlak itu Muhammad Rasululloh Saw, menyempurnakan akhlak dan seruan pada tauhid merupakan misi risalahnya. Petunjuk Al-Qur‟an dan wahyu dijadikan pijakannya, dakwahnya terprogram, dari teologis ke sosial tujuan revolusinya, dari individu ke masyarakat dimulai pergerakannya, dan para ebagai kader militannya. Revolusi yang   diajarkan berupa internalisasi wahyu yaitu nilai-nilai Qur‟ani dan petunjuk Nabi (hadiṡ), sehingga terhimpun manusia berakhlak karimah, masyarakat madani yang berkemajuan dan berperadaban. Makalah ini ditulis untuk membahas konsep revolusi mental perspektif Islam sebagai perbandingan atas revolusi mental pemerintah saat ini.

Download Makalah : Konsep Revolusi Mental Perspektif Islamic Values.Pdf

Footnote:

                [1] Peserta PKU Universitas Darussalam Gontor Angkatan XI. Utusan PPM Daarul Huda Banjar Jawa Barat. Menamatkan Sekolah Tingkat MTS/MA di TMI Darusslam Garut 2002, Diploma „Aam di LIPIA Jakarta 2007, S1 PBA di INISA Bekasi 2009, dan S2 PAI di IAID Ciamis 2015.

                [2] Founding Fathers (bapak Pendiri), umunya diberikan kepada 55 delegasi yang hadir dalam penyusunan konstitusi AS dalam Konvensi Philadelfia pada Mei 1787. Roger, Scruton, Kamus Politik, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2013), 35.

                [3] Soekarno mengatakan, “…Bahwa revolusi adalah kebudayaan, sebagaimana halnya politik”. Ucapan itu keluar dari mulutnya setelah beberapa seniman dan sastrawan (budayawan) menghadap presiden di Istana pada 6 Maret 1957. Di awal tahun itu tepatnya 21 Februari 1957, Soekarno melontarkan gagasan konsepsional yang kemudian disebut dengan “konsepsi Presiden Soekarno” atau “konsepsi Presiden”. Lihat, Nurani Soyomukti, Soekarno: Visi kebudayaan & Revolusi Indonesia, (Jogjakarta: Arruz Media, 2016), 147.

                [4] Soekarno, Soekarno, (Jakarta: Kompas Penerbit, 2013), 95.

                [5] E. Mulyasa, Revolusi Mental dalam Pendidikan, (Bandung: Rosda Karya, 2015), 1.

                [6] Janji politik berarti kata kolektif yang menunjukan pemikiran yang bertujuan untuk mendapatkan kekuasaan. Pius A Partanto & M. Dahlan Al Barry, Kamus Ilmiah Populer, (Surabaya, Alkola,t.t), 608.

                [7] Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia Dan Kebudayaan, Sosialisasi Gerakan Nasional Revolusi Mental, Jakarta, 21 Agustus 2015

                [8] Soekarno, Soekarno, 98.

                [9] E. Mulyasa, Revolusi Mental dalam Pendidikan, 1.

                [10] Kementrian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Panduan Umum Gerakan Nasional Revolusi Mental, 2014, 5-6.

                [11] Secara struktur Pancasila memiliki dimensi idealis, fleksibelitas dan realitas. Dimensi idealis berarti idealisme yang mewujud dalam prilaku, sikap dan kebiasaan hidup sehari-hari. Dimensi fleksibelitas berarti ada fleksibelitas dalam hidup tanpa kehilangan hakikat dan nilai-nilai dasar. Dimensi realitas berarti nilai-nilai yang mewujud dalam konteks legislasi, penegakan hukum, penganggaran, kebijakan program dan kegiatan monitoring dan evaluasi serta kehidupan sehari-hari, berupa prilaku, sikap dan kebiasaan. Lihat. Al Khanif, Pancasila Sebagai Realitas, Percik Pemikiran Tentang Pancasila & Isu-Isu Kontempoler di Indonesia, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2016), 279-280.

                [12] Jiwa Atmaja, Wahana, Semiotika Revolusi Mental, No. 91 Th. XXXI Mei 2015

                [13] إنما األمم األخالق ما بقيت فإن همو ذهبت أخالقهم ذهبوا lihat Ahmad Syauqi, Syauqiyat Juz 1, (Kairo: Dar Kutub al-Ilmiyah, 1946), 224.

                [14] M. Nurdin, Pendidikan yang Menyebalkan, (Jogjakarta: Arruz Media, 2005), h. 78.

                [15] Ibid, h. 77.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *