[ARTIKEL] WORLDVIEW ISLAM DAN BARAT (Study Komparatif)

[ARTIKEL] WORLDVIEW ISLAM DAN BARAT (Study Komparatif)

Oleh: Dedy Irawan[1]

            Samuel P. Huntington adalah pemberi nama konflik global yang terjadi saat ini dengan sebutan “Clash of Civilization”.[2] Alasannya, sumber konflik umat manusia saat ini bukan lagi ideologi, politik atau ekonomi, tapi kultural. Namun, yang menjadi pertanyaan adalah Jika kultur atau peradaban adalah identitas, maka identitas peradaban itu sendiri adalah worldview. Jadi, Clash of Civilization berindikasi pada Clash of Worldview.[3] Clash of Worldview, istilah ini paling tepat untuk digunakan sebagai komparasi antara worldview Barat yang menjadikan “konsep manusia” sebagai konsep tertinggi diantara konsep-konsep lainnya (Antroposentrisme), dengan worldview Islam yang menjadikan “konsep Tuhan” sebagai konsep kunci, inti dan tertinggi (Teosentrisme atau pandangan tauhid).[4] Sehingga, mempengaruhi cara pandang antara kedua peradaban ini dalam memandang ilmu pengetahuan.

            Worldview mencakup semua sistem dalam kehidupan, baik sistem pendidikan, politik, hukum, atau pun sistem ekonomi, semuanya berlatar belakang dan memancarkan pandangan alam (worldview) serta nilai-nilai utama bangsa dan peradaban tersebut. worldview inilah yang menjadi cara setiap orang memahami kehidupan, serta menjadi asas bagi setiap kegiatannya. [5] Karena urgensinya worldview ini, Alparslan Acikgence menyatakan bahwa seluruh tingkah laku manusia pada akhirnya bisa dilacak sampai ke worldviewnya, suatu kesimpulan yang cukup dengan sendirinya untuk mengungkapkan pentingnya worldview dalam diri seseorang dan dalam kehidupan bermasyarakat, termasuk, tentu saja, kegiatan ilmiah. Ini menunjukkan bahwa semua nilai dan tindakan manusia, sadar atau tidak, merupakan refleksi atas keyakinan-keyakinan metafisis atau worldview tertentu, dan bidang pengetahuan serta pendidikan merupakan bidang yang berakar pada worldview tersebut.[6] Artinya, worldview sangat urgen, karena ia mencakup semua aspek kegiatan dan aktivitas manusia.

Islam sebagai peradaban yang memiliki worldview membekalkan kepada manusia tidak saja dengan tata cara peribadatan tapi juga dengan pandangan-pandangan (views) dasar tentang konsep Tuhan, kehidupan, manusia, alam semesta, iman, ilmu, amal, akhlak, dan sebagainya. Pandangan-pandangan yang merupakan kepercayaan asasi itu pada akhirnya berfungsi sebagai cara pandang terhadap segala sesuatu dan secara epistemologis dapat berfungsi sebagai kerangka dalam mengkaji segala sesuatu.[7] Yang mana konsep-konsep yang terdapat dalam sistem pandangan hidup Islam (worldview Islam)[8] merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan yang bersumber hanya kepada satu Tuhan (Tauhidi). Dan jika metode berpikir seorang Muslim sudah dipengaruhi oleh cara pandang Tauhidi ini, maka inilah yang disebut sebagai tujuan tertinggi,[9] dan tujuan akhir dalam Islam.[10] Sehingga, tujuan Allah menciptakan manusia sebagai khalifah di muka bumi ini terealisasi.

Adapun, worldview Barat secara umum bertolak belakang dengan Islam, karena menafikan peran wahyu dalam membimbing rasio dan panca indra mereka, serta lebih memprioritaskan keduanya, maka lahirlah worldview yang sekular dalam memandang ilmu. Memisahkan sains dengan agama, rasio dengan wahyu, iman dengan ilmu, dan pada akhirnya worldview sekular ini melahirkan faham ateisme.[11] Sehingga berpengaruh pada berbagai bidang dan disiplin keilmuan, seperti filsafat, teologi, sains, sosiologi, psikologi, ekonomi, dan lain-lain.

Akibat dari pengaruh worldview Barat yang telah merasuk kedalam pemikiranpemikiran kaum Muslimin, maka terjadilah di sana-sini kebingungan (confusion) intelektual dan kehilangan identitas (lost of identity).[12] Hal tersebut bukanlah persoalan sederhana karena pada gilirannya pandangan hidup dari anak-anak peradaban Islam yang keyakinannya tauhid menjadi bermasalah. Sehingga dalam konsep keilmuan dan sistem berfikirnya, iman tidak berhubungan dengan ilmu, alam semesta sepenuhnya material, menolak keberadaan alam metafisik, menyandarkan kebenaran pada alam empiris dan rasio, mempertentangkan sifat subyektif-obyektif ataupun rasionalisme-empirisme pada ilmu, dan sebagainya. Maka bukan hal yang mengagetkan jika muncul pernyataanpernyataan seperti: “Tuhan kan mutlak, manusia yang relatif tidak mungkin bisa mencapainya”, “jika mengkaji persoalan demikian, lepaskan dulu imannya”, “yang tidak rasional dan tidak ada bukti fisiknya tidak bisa dinyatakan benar”, dan sebagainya. Kekeliruan yang ditimbulkan oleh campuran kedua pandangan alam (worldview intrusion) inilah menurut al-Attas, yang menjadi akar permasalahan epistemologis, dan juga seterusnya menjadi masalah teologis.[13] Sehingga dampaknya, Islam akan dipandang hanya sebagai agama saja, bukan sebagai peradaban (lost of civilization).

Maka wajar, jika Al-Attas berani mengatakan bahwa problem terbesar yang dihadapi kaum Muslimin adalah ilmu pengetahuan modern yang tidak netral, telah merasuk ke dalam praduga-praduga agama, budaya dan filosofis, yang sebenarnya berasal dari refleksi kesadaran dan pengalaman serta pemikiran manusia Barat. Jadi, ilmu pengetahuan modern harus diislamkan.[14] Maka dari pada itu, menjadi urgen untuk memahami perbedaan antara worldview Islam dan Barat, baik dari elemen-elemennya maupun karakteristiknya. Sehingga, tidak terbawa oleh arus westernisasi ilmu pengetahuan dari Barat.

Download Makalah : WORLDVIEW ISLAM DAN BARAT (Study Komparatif)

_________

                [1] Peserta Program Kaderisasi Ulama Universitas Darussalam Gontor Angkatan ke XI.

                [2] Samuel P. Huntington, The Clash of Civilization and the Remaking of the World Order (1996).

                [3] Hamid Fahmy Zarkasyi, Misykat (Refleksi Tentang Westernisasi, Liberalisasi Dan Islam), (Jakarta: INSISTS,2012), hal. 241.

                [4] Muhammad Ismail, Menalar Makna Berpikir Dalam al-Qur’an, (Ponorogo, Unida Gontor Press: 2016), hal. 116.

                [5] Lihat pernyataan Ninian Smart dan Alparslan Acikgenc dalam Hamid Fahmy Zarkasyi, Peradaban Islam, hal. 12-13.

                [6] Alparslan Acikgence, Islamic Science towards a Definition, (Kuala Lumpur: ISTAC, 2006), p. 8-9.

                [7] Hamid Fahmy Zarkasyi, Pandangan Alam Islam Sebagai Kerangka Pengkajian Falsafah Islam: Adab dan Peradaban, hal. 134.

                [8] Konsep-konsep dasar Islam itu di antaranya adalah: (1) Konsep din; (2) Konsep manusia (insan); (3) Konsep ilmu (ilm dan ma’rifah); (4) Konsep keadilan (‘adl); (5) Konsep amal yang benar (amal sebagai adab) dan semua istilah dan konsep yang berhubungan dengan itu semua; dan (6) Konsep tentang universitas (kulliyah, jami’ah) yang berfungsi sebagai bentuk implementasi semua konsep-konsep itu dan menjadi model sistem pendidikan. Lihat Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam dan Sekularisme, hal. 201.

                [9] Lihat. Abu Achmadi, Islam Sebagai Paradigma Ilmu Pendidikan, (Yogyakarta: Aditya Media, 1992), 65. Hal ini dikarenakan ‘tujuan utama’ ilmu, dalam Islam adalah untuk mengenal Allah Swt (ma’rifatulllah), dan meraih kebahagiaan (sa’adah), sebab ilmu mengkaji tentang ayat-ayat (tanda-tanda), baik ayat kauni atau qauli, yang menjadi petunjuk bagi yang ditandai, yaitu Allah sang pencipta. Silahkan lihat, Adian Husaini, Filsafat Ilmu, (Jakarta: Gema Insani, 2013), hal.32.

                [10] Hal ini dikarenakan, Prinsip tauhid dalam Islam merupakan inti pengetahuan dan sekaligus pengalaman. Allah sebagai kenormatifan berarti bahwa Dia adalah Zat yang memerintah. Gerakan-Nya, pemikiran-Nya, dan perbuatan-Nya, adalah realitas yang tak bisa diragukan. Dia adalah tujuan akhir, yakni akhir di mana semua jalinan finalistik mengarah dan berhenti. Allah adalah tujuan akhir dari segala kehendak dan keinginan. Karena itu, secara etis, Dia-lah yang membuat setiap kebaikan yang lain menjadi baik. Tujuan akhir adalah dasar aksiologis dari semua mata rantai atau rangkaian tujuan-tujuan. Lihat Isma’il Raji al-Faruqi, Tauhid; it’s Implications for Thuoght and Life, hal. 3-4.

                [11] Kasus Ludwig Feurbach yang menjadi Ateis, karena disebabkan berguru kepada Hegel yang berpandangan diatas worldview sekular dengan Dialektikanya…Lihat, Dr. Adian Husaini, et. al. Filsafat Ilmu Perspektif Barat dan Islam, (Jakarta: Gema Insani, 2013), hal. 8-9. Dan hal ini terus berlanjut hingga zaman post-modern. Puncaknya dicapai oleh Nietzsche dengan doktrin nihilisme-nya. Menurut Nietzsche, proses nihilisme adalah devaluasi nilai tertinggi (Tuhan), yang membawa pada kesimpulan doktrin “kematian Tuhan”. Lihat di Nietsche, The Will To Power, p. 8-9.

[12] Hamid Fahmy Zarkasyi, Misykat (Refleksi Tentang Westernisasi, Liberalisasi Dan Islam), Hal. 244

[13] Syed Muhammad Naquib Al-Attas, Islam dan Sekulerism, (Kuala Lumpur: ISTAC, 2003), hal. 19.

[14] SMN al-Attas, Islam dan Sekularisme, terj. (Bandung: PIMPIN, 2010) hlm. 169

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *