Studi Paradigma Pembangunan Pertanian  dari Perspektif Islām

Studi Paradigma Pembangunan Pertanian dari Perspektif Islām

Oleh: Daru Nurdianna
Peser­ta Program Kaderisasi Ulama’ (PKU) Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor, Ponorogo, Angkatan ke-XII Tahun 1439-1440 H/2018 M.

Abstrak:

Paper ini bertujuan untuk melakukan kajian paradigma pembangunan pertanian dari perspektif Islām. Pertanian Indonesia yang dimana menjadi basis ekonomi Bangsa, mengalami sebuah keadaan yang tidak berkembang dengan baik. Maka, persoalan yang multidimensi ini, mendorong dilakukannya usaha-usaha pembangunan pertanian. Namun dari kajian pembangunan pertanian, ia berkiblat dan selalu diarahkan kepada kemajuan peradaban Barat. Di sisi lain, Islam sebagai dīn sekaligus peradaban, memiliki paradigmanya sendiri dalam melihat realitas, kebenaran, tujuan dan konsep dari sebuah pembangunan atau sebuah usaha yang membawa kepada suatu keadaan yang lebih baik dan maju. Maka, paper ini akan menjelaskan persoalan mendasar dari paradigma pembangunan yang pada umumnya tidak menyentuh aspek spiritual; dan memberikan gambaran bagaimana haluan pembangunan dari perspektif Islām adalah untuk menuju kemenangan hakiki (al-falāḥ) kesejahteraan yang materil dan non-materil; dan mengetahui perbedaan mendasar paradigma pembanguan Barat dan Islām.


Dewasa ini, sektor pertanian dari nasion agraris yang bernama Indonesia, masih belum termaksimalkan potensinya. Masih terpatri dalam menghadapi persoalan dan tantangan yang tidak sedikit dan multidimensi, diantaranya: kerusakan lingkungan dan perubahan iklim; infrasturktur, sarana prasarana, lahan dan air; kepemilikan lahan; sistem perbenihan dan pembibitan nasional; akses petani terhadap permodalan kelembagaan petani dan penyuluh; keterpaduan antar sektor, dan kinerja pelayanan birokrasi pertanian.[1] Karena itu, dibutuhkan dialektika pembangunan agar ketahanan pangan terjaga dan sektor pertanian –yang menjadi penopang perekonomian bangsa- menjadi lebih baik. Kemudian,  krisis multidimensi dan kompleks yang dikhawatirkan berkepanjangan ini, memerlukan penyelesaian melalui kejernihan pandangan tentang tiga hal yaitu: pertama, memahami kenyataan sekarang; kedua, bagaimana keadaan yang diinginkan di masa depan; dan ketiga, paradigma yang diperlukan untuk mewujudkan keadaan yang diinginkan.[2] Hal ini karena paradigma, akan menentukan hasil yang dicapai. Adapun di dunia ini, ternyata ada banyak berbagai cara pandang yang dipengaruhi oleh ‘kepercayaan’.[3] Keanekaragaman cara memandang dunia (weltanschauung atau worldview) atau paradigma ini, membuat interpretasi yang beragam terhadap realitas dari suatu fenomena yang ada.[4] Sehingga, interpretasi ini akan mempengaruhi pemahaman tentang konsep-konsep dasar yang dibutuhkan dalam menentukan arah dan desain pembangunan.

Adapun diskursus pembangunan pertanian di Indonesia dewasa ini, merujuknya kepada konsep pembangunan Barat. Hal ini bisa dilihat dari kuliah “Pembangunan Pertanian”, buku yang terkenal adalah “Getting Agriculture Moving” karya Arthur Theodore Mosher. Kebijaksanaan-kebijaksanaan pembangunan pertanian di Indonesia di tahun 1970-an praktis mengacu pada prinsip-prinsip yang dikembangkan pada buku ini.[5] Sehingga, dalam praksis kebijakan pada tahun itu dipengaruhi oleh buku tersebut.[6] Di sisi lain, lembaga rujukan diskursus pertanian dunia, merujuk ke FAO (Food and Agriculture Organization of the United Nations).[7] Umat Islām yang menjadi mayoritas di Indonesia lupa dan terputus akan konsep dan ilmu pertanian dari Ulama’ Islām.[8] Umat Islām melupakan sumbangsih Ulama’ Islām sebelum Barat mengalami rainnasance dan masuk kepada zaman modern.[9] Bahawa salah satu karya Ulama’ yang mengubah dunia saat itu adalah ilmu pertanian. Sehingga, tidak sadar, konsep pembangunan pertanian Indonesia yang mayoritas muslim ini, jauh dari konsep pertanian dalam Islām dan terpengaruhi ilmu dan budaya peradaban Barat.

Padahal, Islām sebagai dīn sekaligus peradaban, memiliki cara pandangnya sendiri (Islamic Worldview)[10]  terhadap realitas dan konsep-konsep penting dalam kehidupan seperti pembangunan. Sehingga, Islām sebenarnya memiliki khazanah keilmuan dan konsep pertanian yang khas. Dikarenakan umat Islām terputus akan sejarah tersebut dan rujukan pembangunan pertanian merujuk ke Barat, maka makalah ini akan berusaha memberikan gagasan dan penjelasan mengenai pembangunan pertanian dari sudut pandang ajaran Islām yang universal; dengan tujuan mengembalikan apa yang seharusnya diusahakan dalam pembangunan pertanian dari perspektif Islām bagi umat Islām khususnya dan pada umat manusia pada umumnya.

UNDUH MAKALAH LENGKAPNYA DI SINI

_________
[1] Lihat Peraturan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 19/Permentan/Hk.140/4/2015 Tentang Rencana Strategis Kementerian Pertanian Tahun 2015-2019. Link: www1.pertanian.go.id/file/RENS-TRA_2015-2019.pdf

[2] Singgih Hawibowo, “Menggali Visi dan Paradigma Pembangunan”, dalam Sutanto J, Revitalisasi Pertanian dan Dialog Perdaban, (Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2006), 558.

[3] Ninian Smart, Worldview; Crosscultural Explorations of Human Beliefs, (New York: Charles Scribner’s Sons, ), 37.

[4] Ibid.,

[5] Lihat P. Wiryono, “Pembangunan Pertanian Indonesia ke Depan: Ke Mana Mau Diarahkan? (Sebuah Pencarian dalam Terang Baru), dalam Jusuf Sutanto et al. Revitalisasi Pertanian dan Dialog Peradaban…, 87.

[6] Dalam Bahasa indonesia terkenal dengan judul “Menggerakkan Sektor Pertanian”. Buku “Getting Agriculture Moving: Essentials For Development And Modernization” diterbitkan di New York oleh ‘For The Agricultural Development’ pada tahun 1966. Beberapa negara berkembang, tidak terkecuali Indonesia mengikuti saran dan langkah kebijakan yang disarankan Mosher. Lihat Bustanul Arifin, Pembangunan Pertanian; Paradigma Kebijakan dan Strategi Revitalisasi, (Jakarta: PT Grasindo, 2005), 11.

[7] Lihat publikasi-publikasi dan karya-karya FAO seperti Jelle Bruinsma, World Agriculture: Toward 2015-2030 An FAO Perspektif, (London: Earthscan Publications Ltd, 2003). FAO,Biotechnologies for Agricultural Development”, Proceedings of the FAO International technical conference on “Agricultural Biotechnologies in developing countries: options and opportunities in crops, forestry, livestock, fisheries And Agro-industry to face the challenges of food insecurity and climate change”, (Rome: FAO, 2011). Land and Water Division (NRL) and the Climate, Energy and Tenure Division (NRC) Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO), The Water-Energy-Food Nexus A New Approach In Support Of Food Security And Sustainable Agriculture, (Roma: FAO, 2014).

[8] Lihat A. H. Fitzwilliam-Hall, An Introductory Survey of the Arabic Books of Filāḥa and Farming Almanacs, Link: alfilaha.org, 2010, Diakses pada tanggal 7 November 2018. Di zaman kegemilangan peradaban Islam, berkembang keilmuan dan teknologi pertanian. Ditemukan banyak manuskrip-manuskrip para Ulama’ Islam yang membahas pertanian.[8] Menurut lembaga riset manuskrip pertanian dalam peradaban Islām ‘al-Filāha Text Project’, di antara banyak sumber karya yang dikagumi dan dikutip oleh ahli agronomi Islām adalah mereka yang berasal dari Yunani. Diantaranya termasuk Aristotle (384-322 SM), yang banyak dikutip oleh Abu’l-Khayr, dan dokter yang sekaligus filsuf Bolos Democritos dari Mendes di Mesir (abad ke-2 SM). Mereka dikutip oleh Ibn Wafid, Abū ‘l-Khayr, Ibn Ḥajjāj dan Ibn al-‘Awwām. Selain itu, ada juga yang dari tradisi Kartago, Mago, yang dikenal ‘Father of Agriculture’, dan dari orang Latin, Varro (116-27 SM), yang mengirim materi dari Cato, penulis pertanian Romawi pertama, dan Columella (abad ke-1 M) yang berasal dari Gades di Roman Hispania; dari Akhir Romawi Timur Dekat, Vindonios Anatolios of Berytos (abad 4-5 M), yang dikenal langsung dari orang-orang Arab dan banyak dikagumi oleh Ibn Wafid, Ibn Ḥajjāj dan Ibn al-‘Awwām; dari tradisi Bizantium ada kitab “Al-Filāḥa al-Rūmīya”, ‘pertanian Bizantium’, dari Cassianus Bassus (abad 6/7th abad ke-7); dan akhirnya yang paling berpengaruh dari semuanya, Al-Filāḥa al-Nabatīya awal abad ke-10, ‘pertanian Nabataean’, diterjemahkan oleh Ibnu Waḥshīya, yang sebagian tampaknya mencerminkan tradisi teologi peradaban lain. Maka, Ada dua karya yang berpengaruh dan diakui oleh para ahli agronomi Arab. Pertama adalah “al-Filāḥa al-Rūmīya”, ‘pertanian Bizantium’ atau “al-Filāḥa al-Yūnānīya al-Rūmīya, ‘Pertanian Yunani-Bizantium’, yang ditulis oleh Qusūs ibn Askūrāskīnah (dari judul Yunani skholastikós), juga disebut Qusṭūs al-Rūmī, yang mungkin ia adalah Cassianus Bassus Scholasticus berdasar kepada siapa karya agronomi yang dikumpulkan dari penulis Yunani dan Latin yang dikatakan telah hidup pada akhir tahun ke-6 atau awal abad ke-7. Sayangnya, tidak ada yang diketahui tentang Cassianus Bassus, karena  karyanya tidak lagi ada dalam terjemahan asli bahasa Yunani atau dalam bahasa Syriac. Kedua, adalah kitab “al-Filāḥa al-Nabatīya” yang dikenal kontroversial dan misterius. Buku ini menjadi sumber yang paling banyak digunakan dalam Buku-buku Pertanian Andalusi (Andalusi Books of Filāḥa), dan “the Rasulid Yemeni and Syrian texts”, yang dikenal juga untuk Maimonides dan Thomas Aquinas di dunia abad pertengahan yang lebih luas. Subjek perdebatan sengit di antara para ilmuwan abad ke-19 dan ke-20, adalah bahwa ‘pertanian Nabatea’ sangat populer dan berpengaruh ditanggung oleh sejumlah besar naskah awal dan akhir (setidaknya empat puluh yang diketahui), dan keberadaan banyak ringkasan (abridgements) dan ikhtisar (summary). Seperti yang telah kita lihat, risalah pertanian Andalusi di awal abad ke-14 dari Ibn al-Raqqām adalah versi ringkasan yang telah dihilangkan hal-hal yang tidak perlu (expurgated) dari ‘pertanian Nabataean’, sementara Al-Falāḥa al-muntakhaba Al-Tamār-Tamurī dari Mesir dan ‘Mutiara Suriah Dimashqī‘ yang diperoleh dari ilmu pertanian dari Bizantium dan Nabataean tampaknya sebagian besar didasarkan pada itu juga.

[9] Pada hakikatnya, Barat mengambil dan menemukan ilmu Yunani, tidak bisa lepas dari bantuan ilmuwan Muslim. Hal ini karena ilmuwan Muslim saat itulah yang menemukan, menyalin, menjelaskan, dan melengkapi ilmu-ilmu peninggalan peradaban Yunani. Setelah itu, barulah Barat menyalin dan mengambil dari ilmuwan Muslim. Cemil Akdoğan mengatakan, “Most European scholars unjustifiably ignore the achievements of islamic science and philosophy in order to trace the origin of their civilization directly to ancient Greek legacy. According to them the only contribution Muslims made was to transmit to Europe what they had inherented from Greek science and philosophy with not much addition”. Lihat Cemil Akdoğan, Science in Islam & the West, (Kuala Lumpur: ISTAC, 2018), 63.

[10] Islam memililki cara pandang terhadap dunia yang khas. Untuk menyebutkan cara pandang Islām yang khas, dalam bahasa Inggris disebut sebagai ‘Islamic Worldview’ sebagai bahasa Univerasal abad ini. Syed Muahmmad Naquib al-Attas menyebutnya dengan isilah ‘Ru’yat al-Islām lil-wujūd’, yang bermakna sebuah cara pandang Islām dalam memandang realitas dan kebenaran yang nampak oleh mata hati kita dan yang menjelaskan hakikat wujud. Syed Muhammad Naquib al-Attas, Prolegomena to The Metaphysics of Islām; an Exposition of the Fundamental Elements of The Worldview of Islām, (Kuala Lumpur: ISTAC, 1995) 2.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *