Studi Analisis Kepribadian Pada Psikologi Modern dan Psikologi Islam

Studi Analisis Kepribadian Pada Psikologi Modern dan Psikologi Islam

Oleh : Mohammad Khair Alfikry
Peserta Program Kaderisasi Ulama (PKU) UNIDA Gontor Angkatan 12 Tahun 2018

Abstrak

Lahirnya psikologi sebagai sebuah disiplin ilmu di Barat tidak lepas dari worldview Barat yang sekularistik. Sehingga, pemahaman psikologi Barat tentang hakikat kepribadian manusia menjadi tidak holistis karena menafikan nilai spiritual agama. Pemahaman seperti ini berbeda dengan psikologi Islam yang berlandaskan Al-Qur’an dan Sunnah serta mengintegrasikan antara agama dan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, untuk membuktikan bahwa asumsi-asumsi psikologi Barat keliru dan mereaktualisasikan kembali hakikat konsep kepribadian manusia dalam Islam, maka dalam makalah ini penulis akan memaparkan asumsi-asumsi tersebut, serta mengkomparasikan konsep kepribadian menurut psikologi Barat dan kepribadian menurut psikologi Islam yang dijelaskan dalam konsep fitrah. Sehingga dari hasil komparasi tersebut, didapatkan bahwa konsep fitrah dalam psikologi Islam mampu menjelaskan hakikat kepribadian manusia secara holistis berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah.

Kajian tentang kepribadian manusia sebenarnya telah dimulai sejak lama. Para filsuf Yunani kuno dari Plato,[1] Aristoteles[2] dan para filsuf lainnya telah melakukan spekulasi-spekulasi tentang hakikat manusia dalam kajian filsafat. Pembahasan mereka tentang hakikat manusia mencakup pembahasan memori, pembelajaran, persepsi, serta perilaku-perilaku nya. Hingga pada abad ke XIX, ilmu psikologi memisahkan diri dari induknya, yaitu filsafat dan menjadi suatu disiplin keilmuan yang berdiri sendiri.[3] Oleh karena itu, bila kajian psikologi, khususnya yang berkaitan dengan kepribadian dilacak permulaannya, maka dapat ditemukan pada abad ke-5 sebelum Masehi, yaitu pada masa Yunani Kuno.

Kemunculan psikologi sebagai sebuah disiplin ilmu tentunya tidak lepas dari worldview tempat dimana disiplin ilmu tersebut pertama kali muncul. Worldview Barat yang lebih mengedepankan unsur-unsur saintifik[4] dan bersifat sekularistik[5] dalam kajian keilmuannya, dapat ditemukan dalam disiplin ilmu psikologi. Sehingga, kajian psikologi Modern, termasuk kajian tentang kepribadian menjadi tidak holistis, karena hanya menelaah hal-hal yang bersifat lahiriah saja, dan menafikan nilai agama.[6] Akibatnya, kajian kepribadian dengan worldview Barat yang saintifik ini hanya menampilkan manusia “apa adanya” tanpa sedikitpun menyentuh “bagaimana seharusnya”. Hal ini kemudian berdampak kepada pudarnya nilai-nilai spiritual manusia yang berimplikasi dekadensi moral belakangan ini. Psikologi yang berkembang di Barat seolah-olah menjadi ilmu jiwa yang kehilangan jiwa. Maka dari itu, tidak dapat dipungkiri, kajian kepribadian dalam psikologi Modern turut menjadi faktor pudarnya nilai-nilai spiritualitas dan moral.[7]

Hal ini tentu berbeda dengan ilmuwan Islam dalam mengkaji kepribadian. Ilmuwan Islam menggunakan Quasi-scientific Worldview[8] dalam menelaah dan mengkaji kepribadian, sehingga hasil kajian kepribadian dalam Islam bersifat holistis, yakni menelaah kepribadian manusia secara keseluruhan dari aspek jismiyah, nafsaniyah, hingga ruhaniyah. Hasil kajian kepribadian dalam Islam dapat ditemukan pada karya-karya ulama-ulama terdahulu yang telah ditulis sejak abad kejayaan tradisi keilmuan Islam. Di antara karya-karya tersebut adalah kitab Ih}ya>’ Ulu>muddin dan Ma’a>rij Al-Quds fi> Mada>rij Ma’rifat Al-Nafs milik Al-Ghazali, kitab Dar’u Ta’a>rudh Al-‘Aql wa Al-Naql dan Amra>dh Al-Qulu>b wa Syifa>’uha milik Ibnu Taimiyah, kitab Al-Ruh} milik Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dan masih banyak lagi ilmuwan-ilmuwan Islam yang lain yang menelaah dan mengkaji kepribadian. Hal ini membuktikan bahwa Islam bagi kaum muslimin tidak hanya sekedar agama, akan tetapi Islam juga merupakan worldview yang darinya akan memunculkan tradisi keilmuan yang bersifat holistis dan komprehensif.

Oleh karena itu, penting bagi setiap ilmuwan muslim masa kini untuk menelaah, mengkaji ulang, kemudian mereaktualisasikan tradisi keilmuan yang dulu sempat jaya, khususnya dalam kajian keilmuan psikologi kontemporer. Hal ini dimaksudkan untuk mengembalikan nilai-nilai moral dan spiritual dalam kajian psikologi serta mengangkat kembali derajat manusia sebagai makhluk yang istimewa di hadapan Tuhan. Karena secara tidak langsung, kajian kepribadian dalam keilmuan psikologi kontemporer telah melakukan dehumanisasi[9] terhadap objek kajiannya. Maka dari itu, dalam makalah ini, penulis akan menganalisis perbandingan antara teori kepribadian dalam perspektif psikologi Modern dengan teori kepribadian dalam perspektif psikologi Islam.

Unduh Makalah selengkapnya di sini

_______
[1] Menurut Plato, manusia merupakan makhluk terpenting di antara makhluk yang ada di dunia ini. Lebih lanjut, Plato mengungkapkan bahwa jiwa manusia merupakan substansi independen, kekal, dan sudah bereksistensi sebelum bersatu dengan tubuh. Lihat : K. Bertens, Sejarah Filsafat Yunani: Dari Thales ke Aristoteles, (Yogyakarta: Kanisius, 1999), hal. 136

[2] Menurut Aristoteles, manusia mempunyai jiwa dan jiwa manusia itu bukanlah sebuah substansi (sebuah benda yang mengada secara bebas), akan tetapi jiwa adalah bentuk dari sebuah substansi. Maka dari itu, dalam kaitannya dengan kejiwaan manusia, Aristoteles menolak pemisahan jiwa dari tubuh. Lihat : Robert C. Solomon dan Kathleen M. Higgins, Sejarah Filsafat, terj. Saut Pasaribu: A Short History of Philosophy, (Yogyakarta: Bentang Budaya, 2000), hal. 117

[3] Duane P. Schultz & Sydney Ellen Schultz, Sejarah Psikologi Modern, terj. Lita Hardian: A History of Modern Psychology, (Bandung: Nusa Media, 2015), hal. 4

[4] M. Kholid Muslih, et. al. Worldview Islam: Pembahasan Tentang Konsep-Konsep Penting Dalam Islam, (Ponorogo: UNIDA Gontor Press, 2018), hal. 7

[5] Istilah sekuler berasal dari bahasa Latin, yaitu saeculum yang memiliki makna berkaitan dengan dua konotasi, yaitu waktu dan tempat. Waktu menunjuk kepada pengertian masa kini, sedangkan tempat menunjuk kepada pengertian dunia. Sedangkan sekularisasi didefinisikan sebagai pembebasan manusia dari agama dan metafisika yang mengatur nalar dan bahasanya. Worldview yang bersifat sekularistik berarti worldview yang melakukan dikotomi terhadap hal-hal yang fisik dan metafisik serta membuang hal yang bersifat metafisik. Lihat : Syed Muhammad Naquib Al-Attas, Islam dan Sekularisme, terj. Karsidjo Djojosuwarno Islam and Secularism, (Bandung: Pustaka Salman ITB, 1981), hal. 18-20

[6] Ada 2 kemungkinan mengapa Psikologi Kepribadian Barat tidak mengaitkan diri dengan nilai agama. Pertama, ia sengaja tidak melibatkan diri dari nilai-nilai agama, sehingga keberadaannya tidak berbaur dengan disiplin Karakterologi. Ia dicetuskan untuk mengidentifikasi kepribadian seseorang dan mencoba memberi terapi apabila ditemukan patologis-patologis tertentu. Jadi, tugas psikolog kepribadian disini hanya sekedar mengidentifikasi sifat atau tipe tingkah laku tertentu tanpa berupaya menilainya, seperti menyatakan baik dan buruk. Kedua, Psikologi Kepribadian belum mampu mengkaver fenomena agama, sebab sudut pandang yang digunakan berbeda dengan Psikologi Kepribadian Islam. Lihat : Abdul Mujib, Fitrah & Kepribadian Islam: Sebuah Pendekatan Psikologis, (Jakarta: Darul Falah, 1999), hal. 123

[7] Moral (dalam terminologi Islam disebut dengan Akhlaq) memiliki keterkaitan erat dengan segala tingkah laku manusia. Maka dari itu, ketika kajian psikologi Modern memisahkan diri dari nilai moral dan spiritualitas, psikologi Modern turut menyumbangkan pengaruh terhadap krisis kemanusiaan pada dunia modern. Lihat: Agustinus W. Dewantara, Filsafat Moral: Pergumulan Etis Keseharian Hidup Manusia, (Yogyakarta: Kanisius, 2017), hal. 2-3

[8] Merujuk kepada klasifikasi model worldview menurut Alparslan Acikgenc, worldview Islam disebut Quasi-scientific Worldview. Worlview Islam disebut demikian karena seperti halnya worldview saintifik pada umumnya, terbentuk akibat proses keilmuan dan pendidikan yang sistemik, namun tidak sepenuhnya disebut saintifik, karena pada fase awalnya, terdapat faktor esensial yang memengaruhi, yaitu wahyu Al-Qur’an dan Sunnah. Wahyu Al-Qur’an dan Sunnah tersebut menjadi rujukan asasi atas berbagai konsep dasar yang membentuk worldview Islam. Lihat : M. Kholid Muslih, et. al, op.cit, hal. 19

[9] Karena psikologi modern dibangun diatas asumsi-asumsi yang keliru tentang manusia, seperti teori Psikoanalisa Sigmund Freud yang mengajarkan bahwa manusia hanyalah hewan yang bertindak atas dorongan-dorongan seksual agresif dari bawah-sadarnya. Begitu juga dengan teori Behavioristik J.B. Watson yang menganggap manusia tak lebih dari hewan yang pelakunya ditentukan sepenuhnya oleh lingkungan. Lihat : Wawancara Prof. Dr. Malik B. Badri dalam Jurnal Pemikiran dan Peradaban Islam ISLAMIA Vol. X, No.1 Januari 2016, hal. 89

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *