Mengikat Keimanan dan Kebersamaan dengan Berkurban

Mengikat Keimanan dan Kebersamaan dengan Berkurban

“Ada dampak sosial yang tersimpan di dalam ketaatan seorang muslim yang berkurban.”

Menjelang bulan Dzulhijah, tentu sebagai umat muslim kita diingatkan dengan peristiwa penting yaitu Idul Qurban. Pada kesempatan ini, para muslim diberikan kesempatan untuk menunaikan penyembelihan hewan kurban, sebagai bentuk manifestasi ketaqwaan kepada Allah SWT. Seperti yang telah kita ketahui, bahwa secara historis penyembelihan hewan kurban merujuk pada kisah Nabi Ibrahim as yang dengan sadar mengorbankan putra semata wayangnya, Ismail as sebagai bentuk puncak ketaatan kepada Allah SWT. Keikhlasan dan kesabaran sang ayah inilah yang akhirnya mengantarkan turunnya syariat berkurban bagi semua muslim setelahnya, termasuk umat Nabi Muhammad SAW. Seperti firman Allah dalam Al Quran:

Sesungguhnya, Kami telah memberimu (Muhammad) nikmat yang banyak. Maka laksanakanlah shalat karena Tuhanmu, dan berqurbanlah. Sungguh, orang-orang yang membencimu adalah orang-orang yang terputus. (QS. Al-Kautsar : 1-3).

Sebagai masyarakat muslim di kampus tentu kita memiliki tanggung jawab yang sama dalam menjalankan syariat ini. Masyarakat kampus hendaknya menjadi percontohan yang ideal di masyarakat. Mengingat di sinilah tempat berdiamnya para cendekiawan yang memiliki kepahaman dalam hal spesialis ilmu pengetahuan dan juga keagamaan. Sudah barang pasti bahwa aktivitas di kampus menjadi tolok ukur berkembangnya masyarakat secara umum.

Kegiatan kurban yang sering kali dimaknai sebagai bentuk ketaatan seorang muslim kepada Rabbnya tentu menjadi dasar utama dilaksanakan ibadah ini. Hasan Fahrur (20 th), seorang mahasiwa Jurusan Psikologi, Fakultas Kedokteran menyebutkan bahwa baginya berkurban merupakan kewajiban bagi masing-masing pribadi muslim. Seberat apapun pengorbanan yang harus dilakukan, demi penghambaan kepada Allah semua itu harus dilakukan. Seperti yang diungkapkan oleh Rasulullah SAW, “Barangsiapa yang memperoleh kelapangan, namun ia tidak berkurban, janganlah ia menghampiri tempat shalat kami.

Kebiasaan berkurban hendaknya dimulai sejak dini, untuk melatih kepekaan seseorang dalam menjalankan syariat. “Letak pengorbanan itu pada keikhlasan kita dalam menjalankan perintah Allah. Kalau kita merasa siap, ya lakukan saja. Tidak perlu menunggu sampai benar-benar berpunya,” ungkap mahasiswa semester lima tersebut.

Ibadah kurban seperti yang dicontohkan oleh Nabi Ibrahim tentu memiliki nilai spiritual yang tinggi. Di sinilah manusia diuji kelapangan dan kecintaannya akan dunia oleh Allah SWT. Manusia diuji keimanannya dengan harta dan benda yang dimilikinya. Apakah harta dan segala yang ia miliki memalingkan dirinya dari Allah. Meski sebenarnya, cinta kepada harta maupun anak-anak merupakan fitrah, tetapi seharusnya cinta kepada Allah dan Rasul-Nya diletakkan di atas itu semua (lihat QS. Al Taubah: 24).

Namun, jauh dari itu ternyata kurban juga mengandung dampak positif bagi kehidupan sosial. Seperti yang disebutkan pakar tafsir kontemporer, Abdulllah Yusuf Ali dalam The Holy Qur’an; Translation and Commentary, bahwa selain memilik makna spiritual bagi pelakunya, berkurban juga memiliki dampak sosial. Ibadah ini lebih merupakan ungkapan syukur, maka bacaan takbir justru lebih penting dari prosesi penyembelihan itu sendiri. Artinya, karena kurban itu merupakan manifestasi keimanan seseorang, bukanlah wujud kurbannya lebih dipentingkan, melainkan nilai dan motivasi orang itu menjalankannya.

“Momen kurban harusnya bisa dijadikan sarana untuk berbagi dan melihat sekitar. Jangan-jangan selama ini, di atas kenikmatan dan kecukupan hidup kita ada saudara-saudara yang kekurangan. Meskipun hanya beberapa hari, semoga bisa memberikan kegembiraan bagi yang membutuhkan,” kata Zahroh (23 th), mahasiswa FKIP.

Oleh karena itu, Idul Qurban seharusnya bisa dijadikan ungkapan kasih sayang, cinta dan simpati mereka yang berpunya kepada kaum papa. Pasalnya, kurban ini tidak sama dengan upacara persembahan agama-agama lain. Hewan kurban tidak kemudian dibuang dalam altar pemujaan dan tidak pula dihanyutkan di sungai, malah daging kurban dinikmati bersama baik oleh orang yang berkurban maupun orang-orang miskin di sekitarnya.

Imam Al Ghazali jauh-jauh hari telah mengingatkan kita semua bahwa penyembelihan hewan kurban menyimbolkan penyembelihan sifat kehewanan manusia. Oleh karena itu, kurban semestinya bisa pula mempertajam kepekaan dan tanggungjawab sosial (social responsibility). Dengan menyisihkan sebagian pendapatan untuk berkurban diharapkan timbul rasa kebersamaan di masyarakat.

Atas dasar inilah Lembaga Amil Zaka Infaq dan Shodaqoh UNs (LAZIS UNS) kembali menyelenggarakan kegiatan Qurban Sampai Pelosok. Kegiatan ini diselenggarakan untuk berbagi kebahagiaan bersama saudara-saudara kita di daerah yang tidak terjangkau dengan kegiatan qurban.

Manajer umum Lazis UNS Catur Wibowo menyampaikan “Ibadah kurban adalah salah satu ibadah yang paling disukai oleh Allah saat hari raya Idul Adha, disamping itu juga membawa misi kepedulian pada sesama, menggembirakan kaum dhuafa. Namun kita sering kali mendapati penyembelihan dan distribusi qurban hanya terpusat pada beberapa daerah yang ‘kaya’ saja. Sedangkan daerah yang lain sangat sedikit qurban yang disembelih atau bahkan tidak ada qurban sama sekali. Hal ini disebabkan oleh salah satunya adalah teknis distribusi dan keterbatasan pengelola untuk mendistribusikan serta mengelola hewan qurban ke daerah minus qurban. Melalui program Qurban Sampai Pelosok (QSP) 2014, LAZIS UNS berharap bisa kembali mendistribusikan qurban ke daerah-daerah yang minim qurban, sehingga manfaat dari ibadah qurban bisa dirasakan oleh masyarakat luas.”

Ibadah kurban pun mengajarkan kepada manusia utuk rela berkorban demi kepentingan yang lebih universal baik kepentingan agama, bangsa, maupun kemanusiaan. Ibadah kurban adalah manifestasi keimanan dan simbol perlawanan terhadap syetan dan hawa nafsu yang hadir lewat iming-iming harta dan kekuasaan. Akhir kata, semoga kita mampu “menyembelih” ujian dunia untuk mewujudkan kebersamaan dan kesejahteraan umat Islam.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *