Mengambil Teladan Dari Tiga Sosok Manusia Utama Dalam Iedul Adha [Khutbah Hari Raya Idul Adha 1435 H/ 2014 M]

Mengambil Teladan Dari Tiga Sosok Manusia Utama Dalam Iedul Adha [Khutbah Hari Raya Idul Adha 1435 H/ 2014 M]

IMG_5596

LUKMAN HAKIM

Wakil Dekan III

Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNS

 

الله اكبر, الله اكبر, الله اكبرx ۳  الله اكبر كبيرا, والحمد لله كثيرا, وسبحان الله بكرة واصيلا, لااله الا الله و الله اكبر, الله اكبر ولله الحمد.  الحمد لله الذى صد ق و عده ونصر عبده واعزجنده وهزم الاحزاب وحده. أشهد ان لآاله إلا الله وحده لاشريك له, وا شهد ان سيد نا محمدا عبده ورسوله, الذى لانبي بعده. اللهم صل و سلم وبارك على سيدنا محمد وعلى اله و اصحابه اجمعين, ومن تبعهم الى يوم الدين. اما بعد فيا عباد الله اتقوا الله, اتقوا الله فى كل سا عة وتزودوا به فان خيرا لزاد التقوى

        Allahu Akbar 3x Walillahilhamd !

Jama’ah  I’dul Adha rahima kumullah !

Marilah pertama kali kita panjatkan puji syukur ke kehadlirat Allah salam dan sholawat kita tujukan kepada junjungan kita Nabi besar Muhammad SAW. Syukur kita terutama karena sampai saat ini Allah masih memberikan kepada kita Iman dan Islam. Pada kesempatan pagi ini sesungguhnya menjalankan rukun iman dan rukun Islam. Dalam peringatan Iedul Adha, secara khusus adalah bagian dari  Rukun Iman adalah terutama kewajiban kita untuk percaya kepada nabi dan rosul Allah, Yakni kisah tentang Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail tentang Qurban. Sementara di dalam rukun Islam, peringatan Iedul Adha tidak lain bagian dari rukun Islam ke lima yakni menjalankan haji ke tanah suci.

Pada hari ini sekitar tiga juta umat Islam dari beragam suku, bangsa dan ras, dari berbagai tingkat sosial dan penjuru dunia, berkumpul berbaur di kota suci Makkah Al-Mukarramah untuk memenuhi panggilan Allah menunaikan ibadah haji, sebagaimana diisyaratkan dalam firman-Nya Surah Al-Hajj 27 :

Dan serulah manusia untuk menunaikan ibadah haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh“. (Al-Hajj: 27)

Simbol manusia yang begitu dekat dengan Allah yang karenanya diberi gelar Khalilullah (kekasih Allah) adalah Ibrahim a.s.. Sosok Ibrahim dengan kedekatan dan kepatuhannya secara totalitas kepada Allah, tampil sekaligus dalam dua ibadah di hari raya Idul Adha, yaitu ibadah haji dan ibadah qurban. Dalam ibadah haji, peran Ibrahim a.s. tidak bisa dilepaskan. Tercatat bahwa syariat ibadah ini sesungguhnya berawal dari panggilan nabi Ibrahim a.s. yang diperintahkan oleh Allah swt dalam firmanNya dalam surah Al-Hajj ayat 26-27 :

“Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di Baitullah (dengan mengatakan) :Janganlah kamu mempersekutukan sesuatupun dengan Aku dan sucikanlah rumahKu ini bagi orang-orang yang thawaf, orang-orang yang beribadat dan orang-orang yang ruku’ serta sujud. Dan berserulah kepada manusia untuk menunaikan ibadah haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh“. (Al-Hajj: 26-27).

Ibadah haji ini harus diawali dengan kesiapan seseorang untuk menanggalkan seluruh atribut dan tampilan luar yang mencerminkan kedudukan dan status sosialnya dengan hanya mengenakan dua helai kain ‘ihram’ yang mencerminkan sikap tawaddu’ dan kesamaan antar seluruh manusia. Dengan pakaian sederhana ini, seseorang akan lebih mudah mengenal Allah karena dia sudah mengenal dirinya sendiri melalui ibadah wuquf di Arafah. Dengan penuh khusyu’ dan tawaddu’, seseorang akan larut dalam dzikir, munajat dan taqarrub kepada Allah sehingga ia akan lebih siap menjalankan seluruh perintahNya.

Dalam proses bimbingan spritual yang cukup panjang, seseorang akan diuji pada hari berikutnya, dengan melontar jumrah sebagai simbol perlawanan terhadap syaitan dan terhadap setiap yang menghalangi kedekatan dengan Rabbnya. Kemudian segala aktifitas kehidupannya diarahkan hanya untuk Allah, menuju Allah dan bersama Allah, dan dalam ibadah thawaf keliling satu titik fokus yang bernama ka’bah. Titik kesatuan ini penting untuk mengingatkan arah dan tujuan hidup manusia :

Katakanlah : “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam”.  (Al-An’am: 162)

Akhirnya dengan modal keyakinan, seseorang akan sanggup berusaha dan berikhtiar untuk mencapai segala cita-cita dalam naungan dan ridha Allah swt dalam bentuk sa’i antara bukit shafa dan bukit marwah. Demikianlah ibadah haji yang sarat dengan pelajaran, yang ditampilkan oleh Ibrahim a.s. dan keluarganya.

Iedul Adha hadir untuk mengingatkan kita akan ketinggian nilai ibadah haji dan ibadah qurban yang sarat dengan pelajaran kesetiakawanan, ukhuwah, pengorbanan serta semangat mendahulukan kepentingan dan kemaslahatan orang lain. Semoga akan lahir keluarga-keluarga Ibrahim di bumi Indonesia tercinta ini, yang layak menjadi contoh tauladan dalam setiap kebaikan untuk seluruh umat manusia.

Allahu Akbar 3x Walillahilhamd !

Setiap tahun kita melakukan sholat Iedul Adha, pada setiap tahun pula kita merenung tentang pentingnya peringatan ini. Salah satu renungan yang penting adalah dalam setiap peringatan sesungguhnya umat Islam tengah diajak untuk melakukan napak tilas sejarah nabi pada masa lampau. Sebagai umat muslim kita diwajibkan tidak saja mengenang tetapi juga menjalankan syariat yang telah dicontohkan oleh para Nabi. Seperti kegiatan ibadah Qurban dan Haji, merupakan syariat yang dahulu dilakukan oleh Nabi Ibrahim, Nabi Ismail dan Siti Hajar.

Nabi Ibrahim adalah bapak agama monoteisme. Perjuangan hidupnya adalah melawan raja dan masyarakat penyembah berhala. Raja Namrud dan masyarakat –termasuk- bapak Ibrahim adalah penyembah berhala. Patung-patung yang mereka buat sendiri, kemudian mereka jadikan sembahan. Dalam proses pencarian tuhan, Nabi Ibrahim pernah menduga bahwa matahari dan bulan adalah tuhan, tetapi mana kalai matarahari dan bulan tenggelam, Ibrahim tidak percaya dengan yang suka tenggelam. Sampai akhirnya Allah memberikan Nabi Ibrahim wahyu. Setelah diangkat sebagai nabi dan rosul tugas pertama adalah menyadarkan masyarakatnya untuk tidak menyembah berhala. Suatu hari, Ibrahim masuk ke tempat persembahan, dan dia penggal semua kepala berhala, kecuali berhala yang paling besar. Dan kapaknya di letakkan di tangan berhala yang besar itu. Ketika kemudian masyarakat geger, dan bertanya kepada Ibrahim, “Siapa yang telah memenggal kepala berhala-hala itu?”, Ibrahim menjawab “Jika berhalamu yang kau sembah memang benar-benar berkuasa tanyakan saja kepada berhala yg paling besar yg kepalanya masih utuh”, jawab mereka “Mengapa kami harus tanya kepada berhala yang tidak bisa bicara itu”, maka jawab Ibrahim “Sudah tahu kalau berhala tidak dapat bicara dan tidak mempunyai kemanfaatan sedikitpun, mengaka kamu sembah?”Karena malu dengan kritik Ibrahim, akhirnya Raja Namrud menghukum Ibrahim dengan di bakar, namun dengan mukjizat Allah, Nabi Ibrahim tidak terbakar.

Nabi Ibrahim juga pernah bertanya kepada Allah bagaimana Allah membangkitkan manusia yang telah jadi tulang belulang pada hari kiamat. Jawab Allah, potonglah beberapa burung dan letakkan di beberapa bukit, kemudian panggillah, dan ternyata setelah dipanggil burung-buruk itu lansung berhamburan ke Ibrahim. Begitulah cara Allah menghidupkan orang mati pada hari kiamat nanti.

Selain itu, dalam ibadah qurban, Nabi Ibrahim tampil sebagai manusia pertama yang mendapat ujian pengorbanan dari Allah swt. Ia harus menunjukkan kepatuhannya yang totalitas dengan harus menyembelih putra kesayangannya yang dinanti kelahirannya sekian lama, sebagaimana disebutkan dalam suroh Ash-Shaffat 102 :

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”(Ash-Shaffat:102).  Begitulah biasanya manusia akan diuji dengan apa yang paling ia cintai dalam hidupnya.

Andaikan Ibrahim manusia yang dha’if, tentu akan sulit untuk menentukan pilihan. Salah satu diantara dua pilihan yang memiliki keterikatan besar dalam hidupnya, Allah atau Isma’il. Berdasarkan rasio normal, boleh jadi Ibrahim akan lebih memilih Ismail dengan menyelamatkannya dan tanpa menghiraukan perintah Allah tersebut. Namun ternyata Ibrahim adalah sosok hamba pilihan Allah yang siap memenuhi segala perintahNya, dalam bentuk apapun. Ia tidak ingin cintanya kepada Allah memudar karena lebih mencintai putranya. Akhirnya ia memilih Allah dan mengorbankan Isma’il yang akhirnya menjadi syariat ibadah qurban bagi umat nabi Muhammad saw.

Dr. Ali Syari’ati dalam bukunya “Al-Hajj” mengatakan bahwa Isma’il adalah sekedar simbol. Simbol dari segala yang kita miliki dan kita cintai dalam hidup ini. Kalau Isma’ilnya nabi Ibrahim adalah putranya sendiri, lantas siapa Isma’il kita? Bisa jadi diri kita sendiri, keluarga kita, anak dan istri kita, harta, pangkat dan jabatan kita. Yang jelas seluruh yang kita miliki bisa menjadi Isma’il yang karenanya kita akan diuji dengan itu. Kecintaan kepada Isma’il itulah yang kerap membuat iman kita goyah atau lemah untuk mendengar dan melaksanakan perintah Allah. Kecintaan kepada Isma’il yang berlebihan juga akan membuat kita menjadi egois, mementingkan diri sendiri, dan serakah tidak mengenal batas kemanusiaan. Allah mengingatkan kenyataan ini dalam firmanNya:

Katakanlah: jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik“. (At-Taubah: 24)

Oleh karena itu, dengan melihat keteladanan dan pengorbanan yang telah ditunjukkan oleh seorang Ibrahim atapun Isma’il a.s., … apapun yang kita miliki dan yang kita cintai, maka kurbankanlah manakala Allah SWT menghendakiNya. Janganlah kecintaan kita terhadap isma’il-isma’il itu akan membuat kita lupa kepada Allah.  Tentu negeri kita tercinta ini sangat membutuhkan hadirnya sosok Ibrahim-Ibrahim yang siap berbuat untuk kemaslahatan ummat meski harus mengorbankan sesuatu yang dicintainya, untuk menyelamatkan rakyat dan bangsa dari kemerosotan dan keterpurukan akibat runtuhnya nilai-nilai dan semangat berkurban, yang kemudian didominasi oleh sikap egois, mementingkan diri sendiri, keserakahan dan kerakusan oleh sementara orang.

Hadirin Jama’ah Shalat Idul Adha yang dirahmati Allah !

Ketaatan yang tidak kalah teguhnya dalam menjalankan perintah Allah adalah ketaatan yang ditunjukkan oleh Ismail a.s. untuk memenuhi tugas bapaknya nabi Ibrahim a.s. Pertanyaan yang timbul adalah : Kenapa Isma’il seorang anak yang masih belia rela menyerahkan jiwanya ? Bagaimanakah Isma’il mampu memiliki kepatuhan yang begitu tinggi ?  Sesungguhnya Nabi Ibrahim a.s. senantiasa berdoa :

“Ya Tuhanku, anugerahkan kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih” (Ash-Shaffat: 100).

Maka Allah mengabulkan doanya :

 “Maka Kami beri dia khabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar”. (Ash-Shaffat: 101).

Inilah rahasia kepatuhan Isma’il yang tidak lepas dari peran orang tuanya dalam proses pembimbingan dan pendidikan. Sosok ghulamun halim dalam arti seorang yang amat sabar dan yang santun, yang memiliki kemampuan mensinergikan antara rasio dengan akal budi, tidak mungkin hadir begitu saja tanpa melalui proses pembinaan yang begitu panjang. Sehingga dengan tegar Isma’il berkata kepada ayahandanya dengan satu kalimat yang indah :

“Wahai bapakku, laksanakanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu, niscaya kamu akan mendapatiku termasuk orang orang yang sabar”.  (Ash-Shaffat: 102)

Orang tua mana yang tidak terharu dengan jawaban seorang anak yang rela menjalankan perintah Allah yang dibebankan dipundak ayahandanya. Ayah mana yang tidak terharu melihat sosok anaknya yang begitu lembut hati dan perilakunya. Disinilah pentingnya didikan agama bagi seorang anak semenjak mereka masih kecil, jangan menunggu ketika mereka remaja apalagi dewasa. Sungguh keteladanan Ibrahim bisa dibaca dari bagaimana ia mendidik anaknya sehingga menjadi seorang yang berpredikat ‘ghulamun halim’.

Allahu Akbar-Allahu Akbar-Allahu Akbar WaliLlahil Hamd

Namun dalam epos tentang Iedul Qurban, tidak dapat kita lupakan peranan seorang Ibu yakni Siti Hajar. Jika kita mencermati kisah nabi Ibrahim dan Ismail, tidak bisa tidak akan terkait dengan seorang wanita bernama Hajar. Siapakah Hajar?Ia adalah seorang wanita hitam bangsa  Ethiopia yang hina, budak sahaya Sarah — istri Ibrahim. Di dalam kualifikasi sistem sosial manusia saat itu, Hajar hampir tak punya makna. Bahkan ia tidak layak untuk dicemburui oleh para wanita, hingga Sarah pun memilihnya untuk menjadi istri kedua Ibrahim, sebagai upaya mencari keturunan. Ya,  Allah mentaqdirkannya untuk menjadi istri kedua Ibrahim, kemudian sekaligus menjadi ibunda Ismail, Hajar kemudian juga dikenang sebagai ibu para nabi, karena dari keturunan Nabi ismail lahir pula beberapa nabi, termasuk nabi penutup, Rasulullah Muhammad Saw.

Begitulah, di dalam kualifikasi sosial sistem tauhid, si budak hitam yang hina akhirnya tampil  sebagai wakil kaum wanita sedunia, yang mendapat penghargaan yang luar biasa dari Allah. Betapa tidak ? Dalam skenario Allah, yang selalu  diperingati umat selanjutnya  melalui pelaksanaan ibadah  haji,  Hajar adalah satu-satunya ‘pemain’ wanita. Hajar, dalam peran itu, adalah sebagai seorang ibu. Hajar —  yang atas perintah Allah ditinggalkan oleh suaminya di padang tandus bersama bayinya, adalah lambang ketawakalan dan ketaatan.

Hajar adalah seorang ibu yang penuh rasa tanggung jawab, seorang ibu yang sarat dengan rasa cinta yang tulus. Seorang diri ia berjalan dan berlari kian kemari, tanpa tempat berteduh, tanpa bantuan, sebatang kara bersama bayi merahnya di gurun gersang. Tapi ia yakin, bahwa Allah tidak akan menelantarkannya. Ia tawakal. Tetapi tawakalnya adalah tawakal yang tak pasif, tak pasrah tanpa upaya.  Hajar tidak seperti mereka yang mengaku taqwa, kemudian duduk menunggu mu’jizat dari langit. Ketika bekal airnya habis, dan air susunya pun mengering, Hajar tak hanya berdoa menengadahkan tangan pada Allah. Tidak! Dipasrahkannya anaknya pada Allah, lalu ia segera bangkit berlari. Ia berlari kian kemari , antara bukit shofa dan marwa, demi memperoleh air, terutama untuk bayi Ismailnya. Hajar tak pernah menyerah pada keadaan, Hajar tak pernah menyerah pada penderitaan. Ia terus bergerak, ia terus berusaha. Hingga akhirnya, Allah menganugerahkan air zam-zam padanya, pada Ismailnya.

Begitulah seterusnya, lembah gersang bernama Makkah itu akhirnya menjadi pusat peradaban manusia, hingga kini. Dan Allah telah menetapkan seorang ibu bernama Hajar, dengan energi ketaatan, energi ketaqwaan, dan energi ikhtiar yang luar biasa, untuk memulai peradaban itu. Atau dengan kata lain, Allah telah menunjukkan pada kita, betapa ibu memiliki peran yang luar biasa di dalam pembentukan peradaban. Dan itu semua tentu saja harus diawali dengan paduan ketaatan, ketaqwaan, sekaligus ikhtiar kemanusiaan.

Setelah mencermati tiga  sosok teladan utama yakni Nabi Ibrahim, Nabi Ismail dan Ibunda Hajar, kita menarik ibrah atau pelajaran. Nabi Ibrahim adalah bapak yang bijaksana, Nabi Ismail adalah anak yang sabar, dan Ibunda Hajar adalah ibu yang tabah. Maka pada kesempatan yang berbahargia kali ini saya akan menegaskan jika kita sebagai seorang bapak maka jadilah seperti Nabi Ibrahim, jika menjadi seorang Ibu jadilah seperti Hajar, dan jika menjadi seorang anak jadilah seperti Ismail.

Demikian uraian khutbah kami sampaikan, semoga dapat menjadi tadzkirah, menyadarkan diri kita masing-masing untuk mau berkurban demi memperoleh keredlaan Allah swt., sekaligus untuk kemaslahatan masyarakat, bangsa dan negara, serta umat manusia pada umumnya. Marilah kita bersama memohon kehadirat Allah swt., semoga kita senantiasa mendapatkan hidayah, ma’unah, serta kekuatan, untuk tetap teguh mempertahankan dan menjalankan nilai-nilai ke-imanan, ke-Islaman, serta ke-taqwaan secara konsekuen, sehingga kehidupan ini akan kita jalani bersama dengan penuh kedamaian, keserasian, serta keselamat an, fiddini, waddun-ya, hattal akhiroh. Amin Ya Robbal ‘Alamin.

اللهم اغفرللمؤمنين والمؤمنات والمسلمين والمسلمات,الاحياءمنهم والاموا ت، ربنا اغفرلنا ولاخواننا الذين سبقونا بالايمان ولا تجعـل فى قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا انك  رؤوف رحيم.  اللهم  إنا نسألك العفو والعا فية فى ديننا ودنيانا واهلنا ومالنا, ربنا آتنا فى الدنيا حسنة وفى الاخرة حسنة وقنا عذا ب النار. سبحان ربك رب العزة عما يصفون وسلام على المرسلين.  والحمد لله رب العالمـين.

                                                                                               

 

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *