[KHUTBAH IED] Reaktualiasi  Suri Tauladan  Nabi Ibrahim Dalam Mewujudkan Keluarga  Yang Taat Dan Patuh Terhadap Perintah  Allah

[KHUTBAH IED] Reaktualiasi Suri Tauladan Nabi Ibrahim Dalam Mewujudkan Keluarga Yang Taat Dan Patuh Terhadap Perintah Allah

Reaktualiasi  Suri Tauladan  Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam Dalam Mewujudkan Keluarga  Yang Taat Dan Patuh Terhadap Perintah  Allah Subhanahu Wa Ta’ala

oleh : DR. M. Hudi Asrori Suyuti, S.H., M.H

[pdf]

اللهُ أكْبرُ اللهُ أكْبرُ اللهُ أكْبرُ اللهُ أكْبرُ كبِيرْاً والْحمْدُ للهِ كثِرْاً وسُبحْان اللهِ بُكْرة وأصِيْلاً لا إلِه إلِا اللهُ اللهُ أكبرُ ، اللهُ أكبرُ ولله الْحمْدُ

إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ،

وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه.

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلىَ اَلِهِ وَ أَصْحَابِهِ وَ مَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا .

أَمَّا بَعْدُ

فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَ خَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ و كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ

Hadirin, Jamaah Shalat Idul Adha yang dimuliakan Allah Subhanahuwataa’ala. Setelah tidak henti-hentinya kita memanjatkan puja & puji syukur ke hadhirat Allah Subhanahu wata’ala, atas segala nikmat dan karuniaNYA, maka marilah kita saling berwasiat untuk senantiasa meningkatkan iman & taqwa kepada Allah Subhanahuwata’ala dengan sebenar-benar taqwa.

Hari ini semua Umat Islam di seluruh penjuru dunia menyambut dan merayakan hari raya Idul Adha dengan melaksanakan ibadah shalat ‘ied dan menyembelih ternak korban. Setiap ibadah tentu sudah dituntunkan rukun dan tata cara melaksanakannya, yang di dalamnya tentu mengandung hikmah yang hanya Allah sendiri yang mengetahuinya.

Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahilhamdu.

Bagi manusia hikmah setiap ibadah seringkali tidak mampu menangkapnya secara nalar ataupun dhohir, sehingga sering menggiring kita untuk bersu’udhon kepada Allah Subhanahu wata’ala, bahkan bermaksiat dengan melanggar hukum-hukumNYA. Astaghfirullahal’adzim.

Hikmah dari ibadah Qurban diantaranya adalah mendekatkan diri kepada Allah atas segala kenikmatan yang telah diberikan kepada kita, sebagaimana disabdakan oleh Allah Subhanahuwata’ala di dalam Al Qur’an, Surat Ibrahim  ayat 34,

وَآتَاكُمْ مِنْ كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لا تُحْصُوهَا إِنَّ الإنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ

yang artinya “Dan Dia telah memberikan kepadamu segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah)“.

Inilah karakter manusia, yaitu sering berani berbuat maksiat, mengingkari nikmat Allah dan tidak mensyukurinya. Dengan ayat ini Allah mengajak hamba-hamba-Nya mensyukuri nikmat-nikmatNya, serta meminta dan berdoa kepada-Nya di setiap waktu.

Mengapa kita seringkali ingkar? Karena kita sering silau terhadap kebahagiaan kehidupan dunia yang bersifat sementara ini dan melupakan kehidupan di akhirat yang abadi kelak.

Sudah kita yakini kehidupan di dunia ini “mung mampir ngombe“. Oleh karena itu, kebahagiaan  mestinya kita cari untuk kehidupan di dunia dengan cara halalan thayibah, supaya kita bisa meraih kebahagiaan yang kekal dan abadi di akhirat.

Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahilhamdu.

Hadirin para Jamaah Yang dimuliakan Allah Subhanahu wata’ala.

Kebahagiaan fiddini wa dunya wal akhirat harus menjadi target kehidupan manusia. Oleh karenanya amat tidak disukai oleh Iblis, sebagai musuh abadi manusia. Iblis, akan terus menghalangi upaya meraih kebahagiaan tersebut.

Untuk menjaga kebahagiaan, baik dalam berkeluwarga, bermasyarakat & bernegara, salah satu benteng yang kuat, sehingga dapat mengatasi halangan iblis adalah ketaqwaan kita kepada Allah Subhanahuwata’ala. Tingkatkan taqwa & kuatkan selama-lamanya, karena ia akan mencegah masuknya intervensi Iblis dalam menghancurkan kebahagiaan anak-anak Adam. Namun demikian kita sering berpikir praktis, yaitu mengutamakan kebahagiaan dunia dengan mengabaikan kebahagiaan di akhirat.

Inilah yang menjebak kita untuk terperosok kepada kebahagiaan semu. Kebahagiaan yang dilandasi nafsu kehidupan di dunia yang tidak ada puasnya, segala sesuatu yang telah didapatkan hanya dinikmati sementara dan selalu diikuti nafsu mencari yang lain dan berlebih, dengan segala cara. Nafsu manusia seperti inilah, yang dijadikan skema penelitian dan pengabdian masyarakat Iblis yang sangat sistematis dan tersetruktur. Godaan iblis bersifat komprehensif dan holistik, subyeknya berbentuk manusia dan ghaib, obyeknya adalah nafsu-nafsu manusia, dan cakupannya meliputi semua hal yang menyenangkan manusia : materialistik- kapitalistik, prestisius-egoistik lengkap dengan sentimentilnya. Kita sering terbuai, lupa peringatan dari Allah Subhanahuwata’ala (Yaasin : 60)

أَلَمْ أَعْهَدْ إِلَيْكُمْ يَا بَنِي آدَمَ أَنْ لا تَعْبُدُوا الشَّيْطَانَ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

Bukankah Aku telah perintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaitan? Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu.

Saat ini, Iblis sedang meraih sukses besar. Banyak di antara kita yang menghambakan diri kepada Iblis. Perilaku pelanggaran hukum dan kejahatan  merajalela bahkan seperti gurita yang menggapai-gapai di semua lini kehidupan kita, seiring dengan fatamorgana keelokan duniawi yang membelokan mata dan pikiran menjadi tidak jernih lagi.

Dalam konteks interaksi antar manusia dalam kehidupan sosial, yg di dalamnya terkandung perbedaan-perbedaan tetapi saling pengaruh mempengaruhi, pada dasarnya merupakan dampak dari pembawaan karakteristik pribadi-pribadi manusia yang spesifik dengan kelebihan dan kelemahannya. Konsekwensinya adalah perbedaan dan persaingan adalah suatu keniscayaan. Keteguhan adalah kegoncangan yang tertahan karena digoyang godaan yang sangat mempesona untuk diraih oleh nafsu manusia. Oleh karena itu, saling mengingatkan pd hal yg haq & kesabaran,  watawa shoubil haq, watawa shoubishshabr’, merupakan suatu kewajiban sekaligus kebutuhan bagi manusia.

Berkaitan erat dengan ibadah korban adalah ibadah haji, yang saat ini saudara-saudara kita sudah selesai melaksanakan wukuf di arafah dan malam ini, waktu Saudi, sedang mabit di Muzdalifah, untuk selanjutnya melaksanakan pelemparan jumrah aqabah serta thawaf ifadhah dan sya’i sebagai kesempurnaan terhadap rukun hajinya.

Kita melihat ada hikmah yang besar dari ibadah korban dan ibadah haji yang semuanya bersumber pada keimanan dan ketaqwaan satu keluarga sebagai basic tata kehidupan Muslim Mukmin, yaitu ketaatan Nabi Ibrahim terhadap perintah Allah, kepatuhan Nabi Ismail terhadap ayahnya yang melaksanakan perintah Allah dan keshalihahan Siti Hajar yang ihlas dan tabah ditinggalkan suaminya di pedang gersang dekat Baitullah di sisi pohon Dauhah bersama anaknya Ismail karena memenuhi perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dialog penuh kesabaran dan kemesraan nampak diantara mereka berdua. Pada saat Ibrahim meninggalkan keduanya. Siti Hajar mengikutinya dan bertanya, “Hendak ke manakah, wahai Ibrahim? Engkau meninggalkan kami di lembah yang tiada teman atau apa pun?” Hajar mengulang pertanyaannya beberapa kali. Saat dilihatnya Ibrahim hanya diam, segera ia tersadar. “Apakah Allah yang menyuruhmu berbuat demikian?” tanyanya dengan kecerdasan luar biasa.

“Benar,” jawab Ibrahim. “Jika demikian, maka Allah tak akan menelantarkan kami.” Kemudian Hajar kembali ke tempat semula, sedangkan Ibrahim melanjutkan perjalanannya. Sebagai seorang suami yang bertanggung jawab, Nabi Ibrahim menghadapkan wajahnya ke Baitullah seraya mengangkat kedua tangannya dan berdoa, “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak memiliki pepohonan, yaitu di sisi rumah-Mu yang suci. Mudah-mudahan mereka berterima kasih.” Sementara itu, Siti Hajar menyusui Ismail kecil dan minum dari tempat perbekalannya. Setelah air itu habis, ia dan anaknya kehausan. Dengan penuh cinta, ia beranjak pergi mendaki Bukit Shafa dan Marwa untuk menemukan lokasi air. Terus-menerus seperti itu sebanyak tujuh kali, sampai datanglah pertolongan Allah. Tiba-tiba air keluar dari bawah kaki Ismail kecil yang menangis karena kehausan. yang dikenal dengan air Zamzam. Demikianlah satu episode nan indah dari kehidupan suami yang taat kepada Allah dan istri yang patuh kepada suami yang taat kepada Allah. Nuansa kehidupan harmonis yang dilandasi cinta kasih yang ihlas dan tulus karena Allah, sehingga tercipta sinergitas keluarga yang saling asah, asuh dan asih di segala situasi, baik suka dan duka.

Satu episode yang melengkapi keharmonisan Ibrahim dan Siti Hajar berkaitan erat dengan ibadah Qurban, yang berawal dari ketaatan Nabi Ibrahim terhadap perintah Allah Subhanahuwata’ala untuk menyembelih puteranya yang sangat dikasihinya, Nabi Ismail. Allah sangat menghargai dan memuji pengurbanan Nabi Ibrahim yang dilandasi oleh iman dan takwanya yang tinggi dan murni, kemudian mengganti puteranya Ismail yang akan dikurbankan itu dengan seekor hewan domba yang besar. Sebagaimana dituangkan dalam Al Qur’an Surat Ash-Shaaffat ayat 100-108, yang artinya :

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ (100) فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلامٍ حَلِيمٍ (101) فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ (102) فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ (103) وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ (104) قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ (105) إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلاءُ الْمُبِينُ (106) وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ (107) وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الآخِرِينَ (108)

 “Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shaleh. (100). Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar.(101). Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata. ‘Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!’ Ia menjawab, ‘Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar’. (102). Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). (103). dan Kami panggillah dia, ‘Hai Ibrahim, (104). Sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. (105). Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. (106). dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. (107). Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian.

Subhanallah, suatu suri tauladan yang valid dan terhormat karena dituangkan di dalam Al-Qur’an.

Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahilhamdu.

Hadirin, Para Jamaah rahimakumullah.

Anak adalah amanah Allah SWT kepada ayah dan ibunya, oleh karena itu harus senantiasa dipelihara, dididik dan dibina dengan sungguh-sungguh agar supaya menjadi orang yang shalih atau shalihah, jangan sampai anak tersebut tersesat jalan dalam menempuh jalan hidupnya. Maka kewajiban orang tua terhadap anaknya bukan hanya mencarikan nafkah dan kesenangan-kesenangan yang sifatnya duniawi, tetapi lebih dari itu orang tua harus mengarahkan anak-anaknya untuk mengerti kebenaran, mendidik akhlaqnya, memberinya teladan yang serta mendoakannya. Firman Allah SWT :

يايُّهَا الَّذِيْنَ امَنُوْا قُوْآ اَنْفُسَكُمْ وَ اَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَ اْلحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلئِكَةٌ غِلاَظٌ شِدَادٌ لاَّ يَعْصُوْنَ اللهَ مَآ اَمَرَهُمْ وَ يَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ. التحريم:6

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, tidak mendurhakai (perintah) Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. [QS. At-Tahrim : 6]

Dan sabda Rasulullah SAW :

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ. وَالرَّجُلُ رَاعٍ فيِ اَهْلِهِ وَمَسْئُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ. وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ فيِ بَيْتِ زَوْجِهَا وَمَسْئُوْلَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا. البخارى 1: 215

Kamu sekalian adalah pemimpin dan kamu akan ditanya tentang kepemimpinanmu. Orang laki-laki (suami) adalah pemimpin dalam keluarganya dan akan ditanya tentang kepemimpinannya. Isteri adalah pemimpin dalam rumah tangga suaminya dan akan ditanya tentang kepemimpinannya [HR Bukhari juz 1, hal. 215]

Dengan ayat dan hadits tersebut menunjukkan bahwa orang tua mempunyai tanggungjawab yang berat terhadap anaknya. Fenomena masyarakat sekarang yang timbul adalah orang tua sibuk dengan urusan duniawi, anak terjebak pada iklim modernisasi yang seakan tak terkendali, sehingga komunikasi di dalam keluarga menjadi tidak intens seakan terurai bagaikan “sapu ilang suhe“. Alih peradaban dan perilaku dari orang tua yang seharusnya melekat di dalam kehidupan sehari-hari menjadi renggang dan longgar. Situasi kekeluargaan yang jauh dari suri tauladan nenak moyang kita.

Di dalam masyarakat banyak sekali petuah-petuah yang berdasarkan ajaran Islam, dalam bentuk budaya dan olah rasa, namun kini sudah banyak ditinggalkan. Sebagai contoh, ada pepetah “anak polah bopo kepradah“, “ojo cedhak kebo gupak“, “kacang mongso ninggalo lanjaran“, dan lain sebagainya. Itu semua merupakan ungkapan yang menunjukan tanggung jawab orang tua kepada anak-anaknya. Akibat dari semua itu adalah banyak yang terjebak pada perilaku yang melanggar ketentuan-ketentuan di dalam hukum agama dan hukum negara. Saat ini muncul kejahatan dengan berbagai modus dan sarananya. Orang tua melakukan korupsi untuk mengejar gelimang duniawi dan anak-anak terperosok dalam perilaku negatif penyalahgunaan narkoba, hubungan bebas, perkelahian bahkan pembunuhan, dan lain sebagainya.

Memang, di dalam tata kehidupan bermasyarakat dan bernegara konsekwensi logis dari hukum negara, ciptaan manusia, terdapat banyak kelemahan. Meskipun berlaku asas iedereen wordt geacht de wet te kennen, semua orang dianggap tahu hukum, namun substansinya selain double faced chatarters, juga sering tdk lengkap, tdk jelas, tdk mengatur atau mengatur tdk sesuai dng keadilan masyarakat. Inilah pintu masuk terhadap pelanggaran2 hukum/UU. Oleh karenanya orang tdk takut hukum/UU (dunia) karena terbuka lebar pintu2 penyelematan, namun tdk ingat bahwa orang juga akan berhadapan dng Hukum Allah yang dengannya tdk mungkin dpt dihindarinya dan harus dipertanggungjawabkan di hari qiyamat kelak, dng sanksi yg sangat berat.

Oleh karena itu, Orang tua harus dan harus menanamkan pendidikan serta  pengawasan terhadap ‘aqidah dan syariah yang benar terhadap anak-anaknya. Orang tua wajib mendidik, menjaga dan menyelamatkan keluwarganya jangan sampai syirik, dan menyuruh mereka untuk mendirikan shalat sebagai benteng yang kokoh. Allah berfirman :

وَأْمُرْ اَهْلَكَ بِا لصَّلوةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ، لاَنَسْاَلُكَ رِزْقًا ، نَحْنُ نَرْزُقُكَ ، وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوى. طه :132

Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bershabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezqi kepadamu, Kamilah yang memberi rezqi kepadamu. Dan akibat (yang baik) adalah bagi orang yang bertaqwa. [QS. Thaahaa : 132]

Bagi masyarakat Jawa, oleh nenek moyang kita, kehidupan keIslaman sebagai agama yang haq sudah ditanamkan sehingga hidup, tumbuh dan berkembang di dalam masyarakat kita, khususnya Jawa Tengah, sebagai pewaris dan penerus dinasti Mataram Islam. Hadirin tentu hafal dengan tembang Sabdhatama, YayasanDalem KGPAA Mangkunegara IV, pada pupuh Pangkur, Gatra pertama, yaitu “mingkar mingkuring angkara, akarana karnan mardi siwi, sinawung resmining kidung, sinubo sinungkarta, mrih krtarto pakartining ngelmu luhung, kang tumrap ing tanah jawa, agama ageming aji“. Mingkar mingkuring angkara, berarti mengendalikan diri dari angkara (kemurkaan), Akarana karenan mardi siwi berarti dalam hal akan mendidik putra, Sinawung resmining kidung,  berati  dipresentasikan dengan syair, Sinuba sinukarta, berarti dirangkai dengan  keindahan,  Mrih kretarta pakartining ngèlmu luhung, berarti agar tercapai implemntasi ilmu yang luhur, dan Kang tumrap ing tanah Jawa, berarti yang berlaku di tanah Jawa, Agama ageming aji berarti agama pegangan para pemimpin (keluwarga).

Untuk mencapai tujuan tersebut di dalam keluwarga harus tercipta sinergi yang saling kait mengkait dengan erat dan kuat antara ayah, ibu dan anak-anaknya secara “golong gilig“. Golong berarti bulat dan gilig berarti membujur sejajar tanpa tepi. Memang itu suatu idea yang tidak mudah untuk dilaksanakan. Tetapi itu adalah taget kehidupan dan hidup bagi seseorang baik secara mandiri ataupun di dalam keluwarga dan masyarakatnya yaitu Muslim Mukmin yang ingin mencapai kehidupan yang baik di dunia dan akhirat. Hal ini pulalah yang mengilhami NgarsaDalem Sri Sultan Hamengku Buwono I untuk memberikan pendidikan moral dan karakter orang (satria) Jawa dengan sikap “nyawiji, greget, sengguh lan ora mingkuh“. Nyawiji yang berarti di dalam dirinya satu, menyatu, terpadu. Greget diartikan sebagai gigih, semangat, kerja keras dan dinamis. Sengguh berarti percaya diri dalam bertindak tanpa pongah atau besar kepala (tetap rendah hati). Ora mingkuh berarti tidak akan mundur dalam menghadapai tantangan maupun halangan dan tidak lari dari tanggung jawab.

Demikianlah, untuk mengarungi mahligai rumah tangga yang didalamnya terdapat anak-anak yang menjadi tanggung jawab kita, perlu kiranya mereaktualisasi suri teladan ketaatan Nabi Ibrahim, keshalihahan Siti Hajar dan kepatuhan Nabi Ismail di dalam keluarga kita. Semoga Allah Subhanahu wata’ala memberikan taufiq dan hidayah kepada kita semua.

Sebagai akhir dari khutbah kali ini, marilah kita berdo’a kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامً

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْإِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِلَّذِيْنَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

اَللَّهُمَّ آمِنَّا فِيْ أَوْطَانِنَا وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةَ أُمُوْرِنَا وَاجْعَلْ وِلَايَتَنَا فِيْ مَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ وَاتَّبَعَ رِضَاكَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. اَللَّهُمَّ وَفِّقْ وَلِيَّ أَمْرِنَا لِهُدَاكَ وَاجْعَلْ عَمَلَهُ فِيْ رِضَاكَ، وَارْزُقْهُ الْبِطَانَةَ الصَّالِحَةَ النَاصِحَةَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِيْ أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ

1000 Santri TPQ se – Solo Raya Peringati Kemerdekaan dengan Wisuda Tahfidz Surah An – Naba

1000 Santri TPQ se – Solo Raya Peringati Kemerdekaan dengan Wisuda Tahfidz Surah An – Naba

Bagi mayoritas orang, akhir pekan merupakan waktu bersantai yang khusus dihabiskan bersama keluarga. Entah dengan pergi ke tempat rekreasi atau sekedar berada di rumah. Tapi berbeda dengan yang dilakukan oleh ribuan anak di Solo dan sekitarnya ini. Ahad ,27 Agustus 2017, bersama dengan keluarganya mereka berkumpul di Masjid Nurul Huda UNS guna mengikuti acara Wisuda Tahfidz Surah An – Naba yang diikuti oleh 1000 Santri TPQ se – Solo Raya.

Acara yang berlangsung sejak pagi sampai dzuhur ini menghadirkan Ustadz Syihabbuddin Al Hafidz selaku Mudir Ma’had Isy Karima dan Prof Zainal Arifin selaku ketua MUI Solo. Dalam sambutannya, beliau mengingatkan pada orang tua dan pembimbing agar senantiasa bersemangat dalam mendekatkan anak-anak pada Al-Quran. “Al-Quran adalah pedoman hidup bagi umat manusia, sehingga kita perlu menanamkan nilai-nilai Al-Quran dalam jiwa setiap anak-anak sejak ia kecil. Jangan sampai kita lalai dalam mendidik anak-anak kita, padahal mereka adalah investasi yang berharga bagi kita. Oleh karena itu, kita harus hadir dan mendampingi mereka dalam masa pertumbuhannya”.

Lebih lanjut, acara yang diselenggarakan oleh LKG Solo dan Takmir Masjid Nurul Huda UNS ini digelar salah satunya bertujuan untuk mensyukuri nikmat Kemerdekaan yang Allah berikan pada bangsa kita melalui perjuangan para Pahlawan, ungkap Suwarto selaku panitia. Beliau melanjutkan, “seharusnya kita memperbanyak hal-hal yang bermanfaat seperti ini dalam mengisi kemerdekaan. Kita ingin mengajarkan pada anak-anak bahwa mensyukuri kemerdekaan tidak terbatas pada acara-acara seperti pawai atau karnaval, tapi juga dengan mengisi keseharian kita dengan hal-hal yang bermanfaat seperti ini, dan itu adalah salah satu jiwa pahlawan”.

Takmir Masjid Nurul Huda UNS ini sendiri berkomitmen dalam membina dan menjaga karakter anak-anak sejak dini serta masyarakat pada umumnya. Diantaranya dengan menyelenggarakan program-program pembinaan dan pemberdayaan masyarakat seperti dusun binaan, TPA binaan hingga bakti social. Program-program tersebut merupakan hasil kerja sama antara Takmir Masjid Nurul Huda UNS dengan Lazis UNS maupun Lembaga Dakwah Kampus. Selain itu ada pula event akbar seperti Holiday with Quran for Kids, Pesantren Rohis, Camping Quran, Indonesia Mendongeng, Silaturahim Akbar Guru TPQ se – Solo Raya dan lain sebagainya.

Kita berharap, acara Wisuda Tahfidz ini memberikan dan menularkan keberkahan bagi seluruh bangsa Indonesia, ujar Wahab selaku ketua panitia.

Qurban Sampai Pelosok 2017

Qurban Sampai Pelosok 2017

Berqurban merupakan ibadah yang paling dicintai Allah Swt. di hari Nahr, sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat At-Tirmidzi dari ‘Aisyah ra. bahwa Nabi Saw. bersabda:” Tidaklah anak Adam beramal di hari Nahr yang paling dicintai Allah melebihi menumpahkan darah (berqurban). Qurban itu akan datang dihari Kiamat dengan tanduk, bulu dan kukunya. Dan sesungguhnya darah akan cepat sampai di suatu tempat sebelum darah tersebut menetes ke bumi. Maka perbaikilah jiwa dengan berqurban”.

Melalui program Qurban Sampai Pelosok, LAZIS UNS ingin mengajak masyarakat untuk membagi kenikmatan dengan para dhuafa di pelosok daerah yang masih kekurangan. Qurban yang dititipkan melalui LAZIS UNS, akan didistribusikan melalui Mitra LAZIS UNS maupun jaringan relawan. Setiap tahun terjadi peningkatan partisipasi masyarakat pada program Qurban Sampai Pelosok LAZIS UNS. Program Qurban Sampai Pelosok LAZIS UNS menjembati para  Shohibul Qurban (pequrban) menunaikan kewajiban berqurban sekaligus menyalurkannya untuk kaum dhuafa didaerah pelosok.

TUJUAN PROGRAM

Ada beberapa Tujuan dilaksanakannya Program Qurban Sampai Pelosok ini anatara lain :

  1. Membantu para Shohibul Qurban untuk menunaikan ibadah qurbannya.
  2. Memudahkan para Shohibul Qurban dalam menunaikan ibadah qurban dengan layanan jemput qurban, transfer qurban, simpanan qurban.
  3. Menyalurkan hewan/ daging qurban secara tepat sasaran.
  4. Melaksanakan ibadah qurban secara professional, sesuai syariah dan dengan administrasi yang baik (Pendataan Shohibul Qurban, Penyaluran Qurban, Dokumentasi dan Laporan Pelaksanaan Qurban)

NILAI LEBIH PROGRAM

Lokasi distribusi difokuskan pada wilayah korban bencana, daerah kumuh dan daerah kurang pangan.

  1. Menjangkau daerah pelosok di Solo Raya
  2. Berpengalaman sejak tahun 2007 dengan Mitra dan relawan
  3. Memberdayakan peternak lokal di daerah
  4. Hewan qurban disembelih sesuai aturan syariat dan langsung dibagikan ke mustahik pada hari itu juga.
  5. LAZIS UNS memberikan laporan distribusi qurban.

KRITERIA DAERAH PENYALURAN

Prioritas daerah sasaran qurban harus memiliki kriteria sebagai berikut :

  • Daerah yang sulit dijangkau (kumuh, terpencil),
  • Daerah dengan mayoritas penduduk 60 % termasuk kategori dhuafa (miskin),
  • Daerah yang mengalami krisis pangan/air,
  • Daerah yang mempunyai indikasi krisis aqidah.
  • Daerah yang jarang mendapat bantuan daging qurban
  • Daerah Binaan LAZIS UNS

Pendistribusian hewan qurban dan daging qurban disalurkan kedaerah pelosok yang kekurangan pangan diantaranya : Solo, Sukoharjo, Karanganyar, Sragen, Boyolali, Wonogiri, Klaten, Gunung Kidul, Kabupaten Semarang, Grobogan dan daerah pelosok lainnya.

DISTRIBUSI QURBAN

Pada program Qurban Sampai Pelosok, LAZIS UNS memaksimalkan seluruh jaringan Mitra LAZIS UNS yang mempunyai daerah binaan dipelosok dan relawan LAZIS UNS yang siap mendistribusikan hewan qurban. LAZIS UNS juga bekerjasama dengan lembaga lain  dalam mendukung program ini.

Selain itu demi terpantaunya kegiatan Qurban Sampai Pelosok 2017 ini berjalan dengan baik, LAZIS UNS menerjunkan relawannya ke setiap daerah dampingan yang bertugas untuk :

  1. Menjadi perwakilan LAZIS UNS di daerah tersebut.
  2. Memastikan qurban terlaksanan sesuai syariat.
  3. Mengawasi pendistribusian daging qurban.
  4. Mendokumentasikan hewan qurban ( kondisi hidup, penyembelihan, pendistribusian daging)
  5. Menuliskan berita acara Qurban disertai Tandatangan dan Cap Stempel Masjid/ RT/ Kelurahan daerah setempat.
  6. Mengirimkan laporan ke kantor LAZIS UNS

PELAKSANAAN PROGRAM

Program QSP 2017 dilaksanakan mulai Jum’at – Senin, 1 – 4 September 2017 dibagi menjadi 2 kegiatan :

  1. Qurban Sampai Pelosok, Di berbagai wilayah distribusi.
  2. Qurban Bersama Pimpinan UNS, Di Masjid Nurul Huda UNS, untuk acara ceremonial dan syiar

PELAPORAN QURBAN

Setiap Shohibul Qurban akan menerima laporan ketika hewan qurban telah dipotong (didistribusikan) kepada masyarakat dhuafa. Laporan lengkap berupa e-mail atau surat  akan dikirim kepada Shohibul Qurban yang berisikan berita acara pemotongan dan foto hewan (hidup, dipotong, disribusi).

PENDAFTARAN QURBAN SAMPAI PELOSOK

LAZIS UNS telah menyiapkan berbagai fasilitas yang memudahkan para calon Shohibul Qurban  untuk bergabung pada program Qurban Sampai Pelosok ini.

  1. Calon Shohibul Qurban dapat melakukan pendaftaran melalui media online LAZIS UNS.
  2. Calon Shohibul Qurban dapat memanfaatkan layanan jemput qurban.
  3. Calon Shohibul Qurban dapat mendatangi kantor LAZIS UNS maupun Mitra Qurban.

Teknis Pendaftaran:

  1. Mengisi Formulir pendaftaran, bisa secara online, offline, maupun via SMS / Telepon
  2. Pembayaran Qurban bisa secara tunai melalui petugas LAZIS UNS atau mitra yang ditunjuk.
  3. Pembayaran via transfer melalui rekening LAZIS UNS
  4. Khusus Qurban sapi patungan, pengelompokan dilaksanakan oleh panitia

Fasilitas Pengqurban / Sohibul Qurban

  1. Mendapat laporan qurban khusus  dan program Qurban secara umum
  2. Mendapatkan merchandise / gift unik
  3. Mendapatkan majalah GIVE terbaru

Paket Donasi Qurban

Jenis Qurban Paket Partisipasi
Kambing Rp 1.850.000,- *
Sapi Mandiri Rp 17.500.000,- *
Sapi (Patungan 1/7) Rp 2.500.000,- *
Sapi Istimewa (Mandiri) Rp 22.500.000,- *
Sapi Istimewa (Patungan 1/7) Rp 3.200.000,- *
Infaq program (bebas)
Biaya operasional ( jika partisipasi dalam bentuk hewan qurban) Rp 100.000,- / Kambing

Rp 500.000,- / Sapi

*) dana tersebut sudah termasuk operasional program

Info Lengkap : Lazis UNS

Hadirkan Mahfud MD, Grand Opening AAI Mengajak Mahasiswa Baru Bermimpi Besar

Hadirkan Mahfud MD, Grand Opening AAI Mengajak Mahasiswa Baru Bermimpi Besar

Grand Opening Asistensi Agama Islam (GO AAI) akan diadakan sebagai rangkaian kegiatan penyambutan mahasiswa baru UNS. Program yang diadakan Biro AAI UNS ini merupakan tanda dimulainya program Asistensi Agama Islam bagi mahasiswa baru.

Pada awal tahun akademik ini GO AAI akan dilaksanakan dua hari. Hari pertama, Jumat (18/08) dengan peserta mahasiswa FP, FK, FMIPA, dan FT di Auditorium UNS.  Kemudian pada hari selanjutnya Sabtu (19/08) GO AAI dilaksanakan di Masjid Nurul Huda UNS untuk mahasiswa FKIP, FH, FISIP, FEB, FIB, dan FSRD.

Rektor UNS Prof. DR. Ravik Karsidi MS akan memberikan sambutan pada kegiatan yang menghadirkan setidaknya 6900 peserta ini. Sedangkan untuk pengisi acara, di hari pertama akan disampaikan materi oleh Prof. Dr. Moh. Mahfud M.D., Ketua Mahkamah Konstitusi 2008-2013 yang juga guru Besar FH-UII Yogyakarta. Selanjutnya untuk hari kedua, pemateri merupakan trainer ESQ Bramanto Wibisono.

Dengan mengusung tema “Bersama AAI, Raih Prestasi, Menjadi Insan Cendekia Berakhlak Mulia”, pada acara tersebut sesi materi akan dilanjutkan dengan sesi training yang akan mengajak mahasiswa berpikir lebih konkret mengenai aksi nyata menjadi insan cendekia yang berakhlak mulia.

Asrori, Ketua Biro AAI UNS, menyatakan bahwa selain mengenalkan mahasiswa baru dengan program AAI, GO AAI ini juga mengajak mahasiswa muslim untuk berprestasi dan bermimpi besar.

“Kami mengajak seluruh mahasiswa baru untuk brainstorming, memilih mimpi sebesar mungkin dan memberi semangat untuk mewujudkannya. Kami menyediakan lembar penulisan cita-cita disertai target-target waktu mewujudkannya. Mahasiswa muslim harus punya mimpi, mimpi yang besar tentunya. Karena ketika punya mimpi yang besar, hari-harinya akan diisi dengan penuh prestasi, prestasi untuk mewujudkan mimpi yang besar yang sudah dicita-citakan” ungkap Asrori.

 

Sumber : Biro AAI UNS

500 Adik Asuh Meriahkan Jalan Sehat LAZIS UNS

500 Adik Asuh Meriahkan Jalan Sehat LAZIS UNS

Kebahagiaan terpancar di wajah remaja yang sekarang duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah (MTs) Kelas 7 ini begitu mendapatkan hadiah sepeda dalam kegiatan Jalan Sehat yang diadakan LAZIS UNS Ahad (20/8). Muhammad Khoirusshobirin merupakan Adik Asuh LAZIS UNS sejak ia duduk di bangku Sekolah Dasar. Ia bersama 500-an adik asuh, yatim dan adik binaan LAZIS UNS mengikuti rangkaian kegiatan dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-72.

Kegiatan yang dilaksanakan sejak pukul 07.00 WIB ini dimulai dengan kegiatan jalan sehat. Dengan titik kumpul di Student Center Universitas Sebelas Maret (SC UNS), rombongan bersama sama melintasi jalanan belakang kampus UNS, hingga sampai kembali di SC UNS. Setelah jalan sehat, acara dimeriahkan dengan live performance adik-adik binaan, Adik asuh, TPA, beserta Rumah Anak Pintar (RAP) yang tampil di atas panggung di dalam SC UNS. Suasana semakin semarak dengan dekorasi ruangan penuh nuansa kemerdekaan dan roncean bendera merah putih.

Sambil menikmati penampilan di panggung, orangtua dan wali anak yang hadir memanfaatkan layanan pengobatan gratis yang ditangani rekan-rekan Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) Surakarta. Tak hanya itu, lapak pakaian pantas pakai juga di serbu oleh peserta jalan sehat yang ingin berburu tas, sepatu dan baju-baju yang masih bagus dengan harga yang sangat murah.

Indra Setiawan selaku penanggungjawab kegiatan mengatakan bahwa kegiatan ini bukan hanya untuk memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia, tetapi juga sebagai ajang silaturohim antar adik-adik dan orang tua  yang mendapatkan beasiswa dari LAZIS UNS. Pada kesempatan ini juga di salurkan beasiswa adik asuh periode bulan Juli-Agustus 2017 untuk 220 Adik Asuh.

“Kita sudah lama tidak mengadakan kegiatan yang melibatkan semua adik asuh yang mendapatkan beasiswa dan adik binaan LAZIS UNS juga beserta orang tuanya, maka pada kesempatan ini kita ingin menjadikan momentum HUT RI ke-72 ini sebagai ajang silaturohim untuk keluarga besar LAZIS UNS”, Kata Indra.

Adik Asuh merupakan program beasiswa rutin yang diberikan setiap bulan kepada adik adik usia SD, SMP, SMA dan Mahasiswa juga program khusus beasiswa yatim yang donasinya berasal dari para donatur rutin Program Donasi Kakak Asuh LAZIS UNS. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Catur Wibowo selaku Manajer umum LAZIS UNS dalam sambutannya di acara tersebut.
“Kami juga mengucapkan terima kasih kepada para Donatur Rutin Program Kakak Asuh LAZIS UNS yang setiap bulannya terus bertambah sehingga kesempatan adik adik asuh semakin besar untuk mendapatkan beasiswa setiap bulannya”, Kata Catur Wibowo dalam sambutannya.

Sumber : Lazis UNS

[KHUTBAH EID] IBADAH PUASA RAMADHAN MEMBANGUN KOMITMEN MUSLIM KAFFAH

[KHUTBAH EID] IBADAH PUASA RAMADHAN MEMBANGUN KOMITMEN MUSLIM KAFFAH

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh…

 

PENDAHULUAN

Allahu Akbar (3X) walillahilhamdu

Kaum Muslimin yang berbahagia…

Puja puji hanya miliki Allah SWT yang telah menurunkan kenikmatan-Nya kepada kita semua, diantaranya kenikmatan bulan Ramadhan yang telah berlalu yang masih terbayang-bayang di depan mata kita. Bulan dimana Allah SWT melipatgandakan setiap kebajikan dengan pahala yang tak terhingga. Maka, sudah sepantasnya pada hari kemenangan ini, kita melantunkan takbir, tahmid, tasbih, dan tahlil kepada-Nya sebagai wujud rasa haru dan syukur atas nikmat-nikmat tersebut. Shalawat dan salam terhaturkan kepada manusia agung, teladan manusia, penutup para Nabi dan Rasul (Rasulullah Saw), beserta keluarga, sahabat, dan pengikutnya hingga akhir jaman.

Di hari yang bahagia ini, kita merayakan iedul fitri dengan suka cita karena telah menyelesaikan puasa ramadhan sebulan penuh. Allah SWT berjanji akan mengampuni dosa-dosa yang telah lalu bagi hamba-Nya yang melaksanakan puasa dengan landasan iman dan mengharap pahala-Nya.

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“barangsiapa yag melaksanakan shaum Ramadhan karena iman kepada Allah & mengharapkan pahala (hanya dariNya) maka akan diampuni dosa-dosa yang telah dikerjakannya”. [HR. Bukhari].

Semoga kita semua mendapatkan ampunan dari Allah SWT dan menjadi hamba-hamba yang bertaqwa. Aamiin…

Continue reading

ITIKAF KAMPUS RAMADHAN UNS

ITIKAF KAMPUS RAMADHAN UNS

Masjid Nurul Huda UNS kembali memfasilitasi jamaah yang ingin melaksanakan i’tikaf di bulan suci ramadhan tahun ini. Sebagaimana pelaksanaan tahun kemarin, jamaah dapat memilih program i’tikaf yang sesuai dengan target ibadah personal.

1. ITIKAF QUR’ANI

Adalah program i’tikaf yang diselenggarakan oleh Masjid Nurul huda dengan target mendekatkan dan membantu jamaah untuk berinteraksi lebih banyak dengan Al Qur’an. Baik memperbaiki bacaan atau menghafal Al Qur’an.

Pelaksanaan : 15 – 22 Juni 2017 di Masjid Nurul Huda.

Program:
1. Target Hafal 3 Juz
2. Bimbingan Tahsin/ Tahfidz
3. Kajian Pagi dan Sore

Biaya Kegiatan : Rp 300.000,00
Fasilitas:
Makan, coffebreak, laundry, pendampingan tahsin/ tahfidz, hadiah, tempat nyaman.

Registrasi:
Putra : 085725503755 (Zamzam)
Putri : 081215312469 (Nafi)

Rekening Pendaftaran
0370829014 BNI Cabang Surakarta an. Wulan Nurjanah.
Konfirmasi pasca pembayaran 08568133633 (Wulan)

2. ITIKAF REGULER

Adalah program Masjid Nurul Huda memfasilitasi jamaah yang ingin melaksanakan program itikaf mandiri.

Pelaksanaan 15-22 Juni 2017 di Masjid Nurul Huda.

Biaya Kegiatan : Gratis
Fasilitas:
Sahur, Buka Puasa, tempat nyaman.

Registrasi:
Putra : 085297306067
Putri : 081804738260

Registrasi on desk : setiap hari jam 20-22 WIB.

Takmir Masjid Nurul Huda UNS juga memfasilitasi jamaah yang ingin menunaikan i’tikaf hingga hari terakhir Ramadhan.

Program I’tikaf ini akan dibuka secara resmi, Kamis 15 Juni 2017 diawali dengan sholat isya dan tarawih berjamaah.

Kuliah perdana Itikaf Kampus Ramadhan UNS akan disampaikan oleh
1. Prof. Dr. Zainal Arofin Adnan, dr. Sp.PD-KR FINASIM (Ketua MUI Kota Surakarta)
2. Ust. Hakimudin Salim, Lc., M.A. (Kandidat Ph.D, Universitas Islam Madinah)

 

85 Adik Asuh Ikuti Pesantren Ramadhan LAZIS UNS

85 Adik Asuh Ikuti Pesantren Ramadhan LAZIS UNS

Solo, LAZIS UNS – LAZIS UNS kembali mengadakan Pesantren Ramadhan untuk Adik Asuh usia SMP-SMA, Sabtu-Ahad (10-11/6). Agenda ini rutin diadakan setiap bulan Ramadhan setiap tahunnya sebagai salah satu bentuk pembinaan terhadap Adik Asuh LAZIS UNS yang merupakan penerima beasiswa Kakak Asuh LAZIS UNS. Sejumlah 85 Adik Asuh mengikuti Pesantren Ramadhan yang kali ini diadakan di Markazul Quran Masjid Darussalam Pundunggede, Kadipiro, Banjarsari, Surakarta.

Kegiatan Pesantren Ramadhan dibuka oleh Manajer Operasional LAZIS UNS, Tri Asmoro Budi W., S.Pd. Dalam sambutannya Pak Tri mengharapkan peserta dapat mengikuti kegiatan dengan tertib dan saling menjaga keamanan. “Kami berharap adik-adik dapat mengikuti rangkaian kegiatan dengan tertib dan dapat mengisi Ramadhan dengan kegiatan yang positif, dan tentunya kami berharap agar saling menjaga keamanan masing-masing”, Kata Pak Tri dalam sambutannya.


Sabtu sore, peserta membagikan makanan untuk buka puasa (ifthar) kepada pengguna jalan raya dan tukang becak di sepanjang jalan Makam Bonoloyo hingga ke Palang Joglo. Ifthar yang dibagikan yaitu sebanyak 150 paket berupa 1 cup kolak pisang dan buah kurma. Selepas membagikan ifthar, adik-adik kembali ke Markazul Quran Masjid Darussalam untuk sharing pengalaman berbagi ifthar.

Waktu berbuka yang dinantikan tiba dan peserta bersama-sama berbuka puasa dilanjutkan dengan melaksanakan shalat Maghrib berjamaah dan kegiatan pribadi. Selepas shalat Isya dan Tarawih berjamaah, peserta mengikuti acara Training  Motivasi oleh Ustadz Amron Yuflaeli, S.Sn. Ustadz Amron menyampaikan materi “Remaja Idaman Surga” dengan gaya anak muda, penuh semangat dan sesekali mengundang gelak tawa. Kondisi peserta yang awalnya mengantuk pun menjadi semangat kembali.

Memasuki hari Ahad, selepas sahur bersama, peserta Pesantren Ramadhan kembali membagikan nasi bungkus kepada para tukang becak dan tunawisma di sekitar. Kegiatan dilanjutkan dengan shalat Subuh berjamaah dan tilawah bersama kelompok mentoring masing-masing. Pukul 6.30 pagi, peserta mengikuti Senam Pokemon yang dipandu oleh relawan LAZIS UNS dan dilanjutkan aktivitas bersih-bersih masjid. Kegiatan berikutnya adalah kreasi majalah dinding. Peserta berdasarkan kelompok mentoringnya membuat majalah dinding yang memuat konten tentang kesan dan kegiatan adik asuh selama setahun.

Kegiatan Pesantren Ramadhan yang bertujuan untuk memberikan alternatif kegiatan positif dan saling mempererat tali silaturahmi antar adik asuh ini menurut Indra Setiawan, S.S. (penanggung jawab program adik asuh, -red) berjalan lancar dan sesuai harapan. “Alhamdulillah kegiatan Pesantren Ramadhan LAZIS UNS selama dua hari ini berjalan lancar, bahkan  ada program dadakan yaitu Berbagi Sahur on the road untuk menyalurkan makanan kepada tukang becak dan orang-orang jalanan dari paket sahur yang masih tersisa banyak”, tutur Indra.

Pesantren Ramadhan LAZIS UNS ditutup dengan penyerahan dana beasiswa bulan Juni kepada adik asuh yang hadir.  serta penghargaan kepada beberapa peserta dengan kriteria khusus, di antaranya Peserta Terbaik, Peserta Tersemangat, dan Peserta Termanis.

Membangun Kembali Peradaban Islam (Secara Sinergis, Simultan dan Konsisten) – Bag 3

Membangun Kembali Peradaban Islam (Secara Sinergis, Simultan dan Konsisten) – Bag 3

 

Kemunduran Peradaban Islam

Setelah mengetahui asas kebangkitan peradaban Islam kini kita perlu mengkaji sebab-sebab kemunduran dan kejatuhannya. Dengan begitu kita dapat mengambil pelajaran dan bahkan menguji letak kelemahan, kekuatan, kemungkinan dan tantangan (SWOT). Kemunduran suatu peradaban tidak dapat dikaitkan dengan satu atau dua faktor saja. Karena peradaban adalah sebuah organisme yang sistemik, maka jatuh bangunnya suatu perdaban juga bersifat sistemik. Artinya kelemahan pada salah satu organ atau elemennya akan membawa dampak pada organ lainnya. Setidaknya antara satu faktor dengan faktor lainnya – yang secara umum dibagi menjadi faktor eksternal dan internal – berkaitan erat sekali. Untuk itu, akan dipaparkan faktor-faktor ekternal terlebih dahulu dan kemudian faktor internalnya.

Untuk menjelaskan faktor penyebab kemunduran umat Islam secara eksternal kita rujuk paparan al-Hassan yang secara khusus menyoroti kasus kekhalifahan Turkey Uthmani, kekuatan Islam yang terus bertahan hingga abad ke 20M Faktor-faktor tersebut adalah sbb:

Faktor ekologis dan alami, yaitu kondisi tanah di mana negara-negara Islam berada adalah gersang, atau semi gersang, sehingga penduduknya tidak terkonsentrasi pada suatu kawasan tertentu. Kondisi ekologis ini memaksa mereka untuk bergantung kepada sungai-sungai besar, seperti Nil, Eufrat dan Tigris. Secara agrikultural kondisi ekologis seperti ini menunjukkan kondisi yang miskin. Kondisi ini juga rentan dari sisi pertahanan dari serangan luar. Faktor alam yang cukup penting adalah Pertama, Negara-negara Islam seperti Mesir, Syria, Iraq dan lain-lain mengalami berbagai bencana alam. Antara tahun 1066-1072 di Mesir terjadi paceklik (krisis pangan) disebabkan oleh rusaknya pertanian mereka. Demikian pula di tahun 1347-1349 terjadi wabah penyakit yang mematikan di Mesir, Syria dan Iraq. Kedua, letak geografis yang rentan terhadap serangan musuh. Iraq, Syria, Mesir merupakan target serangan luar yang terus menerus. Sebab letak kawasan itu berada di antara Barat dan Timur dan sewaktu-waktu bisa menjadi terget invasi pihak luar.

Faktor eksternal. Faktor eksternal yang berperan dalam kajatuhan peradaban Islam adalah Perang Salib, yang terjadi dari 1096 hingga 1270, dan serangan Mongol dari tahun 1220-1300an. “Perang Salib”, menurut Bernard Lewis, “pada dasarnya merupakan pengalaman pertama imperialisme barat yang ekspansionis, yang dimotivasi oleh tujuan materi dengan menggunakan agama sebagai medium psikologisnya.”Sedangkan tentara Mongol menyerang negara-negara Islam di Timur seperti Samarkand, Bukhara dan Khawarizm, dilanjutkan ke Persia (1220-1221). Pada tahun 1258 Mongol berhasil merebut Baghdad dan diikuti dengan serangan ke Syria dan Mesir. Dengan serangan Mongol maka kekhalifahan Abbasiyah berakhir.

Hilangnya Perdagangan Islam Internasional dan munculnya kekuatan Barat. Pada tahun 1492 Granada jatuh dan secara kebetulan Columbus mulai petualangannya. Dalam upayanya mencari rute ke India ia menempuh jalur yang melewati negara-negara Islam. Pada saat yang sama Portugis juga mencari jalan ke Timur dan juga melewati negara-negara Islam. Di saat itu kekuatan ummat Islam baik di laut maupun di darat dalam sudah memudar. Akhirnya pos-pos pedagangan itu dengan mudah dikuasai mereka. Pada akhir abad ke 16 Belanda, Inggris dan Perancis telah menjelma menjadi kekuatan baru dalam dunia perdagangan. Selain itu, ternyata hingga abad ke 19 jumlah penduduk bangsa Eropa telah meningkat dan melampaui jumlah penduduk Muslim diseluruh wilayah kekhalifahan Turkey Uthmani. Penduduk Eropa Barat waktu itu berjumlah 190 juta, jika ditambah dengan Eropa timur menjadi 274 juta; sedangkan jumlah penduduk Muslim hanya 17 juta. Kuantitas yang rendah inipun tidak dibarengi oleh kualitas yang tinggi.

Sebagai tambahan, meskipun Barat muncul sebagai kekuatan baru, Muslim bukanlah peradaban yang mati seperti peradaban kuno yang tidak dapat bangkit lagi. Peradaban Islam terus hidup dan bahkan berkembang secara perlahan-lahan dan bahkan dianggap sebagai ancaman Barat. Sesudah kekhalifahan Islam jatuh, negara-negara Barat menjajah negara-negara Islam. Pada tahun 1830 Perancis mendarat di Aljazair, pada tahun 1881 masuk ke Tunisia. Sedangkan Inggris memasuki Mesir pada tahun 1882. Akibat dari jatuhnya kekhalifahan Turki Uthmani sesudah Perang Dunia Pertama, kebanyakan negara-negara Arab berada dibawah penjajahan Inggris dan Perancis, demikian pula kebanyakan negara-negara Islam di Asia dan Afrika. Setelah Perang Dunia Kedua kebanyakan negara-negara Islam merdeka kembali, namun sisa-sisa kekuasaan kolonialisme masih terus bercokol. Kolonialis melihat bahwa kekuatan Islam yang selama itu berhasil mempersatukan berbagai kultur, etnik, ras dan bangsa dapat dilemahkan. Yaitu dengan cara adu domba dan tehnik divide et impera sehingga konflik intern menjadi tak terhindarkan dan akibatnya negara-negara Islam terfragmentasi menjadi negeri-negeri kecil.

Itulah di antara faktor-faktor eksternal yang dapat diamati. Namun analisa al-Hassan di atas berbeda dari analisa Ibn Khaldun. Bagi Ibn Khaldun justru letak geografis dan kondisi ekologis negara-negara Islam merupakan kawasan yang berada di tengah-tengah antara zone panas dan dingin sangat menguntungkan. Di dalam zone inilah peradaban besar lahir dan bertahan lama, termasuk Islam yang bertahan hingga 700 tahun, India, China, Mesir dll. Menurut Ibn Khaldun faktor-faktor penyebab runtuhnya sebuah peradaban lebih bersifat internal daripada eksternal. Suatu peradaban dapat runtuh karena timbulnya materialisme, yaitu kegemaran penguasa dan masyarakat menerapkan gaya hidup malas yang disertai sikap bermewah-mewah. Sikap ini tidak hanya negatif tapi juga mendorong tindak korupsi dan dekadensi moral. Lebih jelas Ibn Khaldun menyatakan:

Tindakan amoral, pelanggaran hukum dan penipuan, demi tujuan mencari nafkah meningkat dikalangan mereka. Jiwa manusia dikerahkan untuk berfikir dan mengkaji cara-cara mencari nafkah, dan untuk menggunakan segala bentuk penipuan untuk tujuan tersebut. Masyarakat lebih suka berbohong, berjudi, menipu, menggelapkan, mencuri, melanggar sumpah dan memakan riba.

Tindakan-tindakan amoral di atas menunjukkan hilangnya keadilan di masyarakat yang akibatnya merembes kepada elit penguasa dan sistem politik. Kerusakan moral dan penguasa dan sistem politik mengakibatkan berpindahnya Sumber Daya Manusia (SDM) ke negara lain (braindrain) dan berkurangnya pekerja terampil karena mekanimse rekrutmen yang terganggu. Semua itu bermuara pada turunnya produktifitas pekerja dan di sisi lain menurunnya sistem pengembangan ilmu pengertahuan dan ketrampilan.

Dalam peradaban yang telah hancur, masyarakat hanya memfokuskan pada pencarian kekayaan yang secepat-cepatnya dengan cara-cara yang tidak benar. Sikap malas masyarakat yang telah diwarnai oleh materialisme pada akhirnya mendorong orang mencari harta tanpa berusaha. Secara gamblang Ibn Khaldun menyatakan:

…..mata pencaharian mereka yang mapan telah hilang, ….jika ini terjadi terus menerus, maka semua sarana untuk membangun peradaban akan rusak,dan akhirnya mereka benar-benar akan berhenti berusaha. Ini semua mengakibatkan destruksi dan kehancuran peradaban.

Lebih lanjut ia menyatakan:

Jika kekuatan manusia, sifat-sifatnya serta agamanya telah rusak, kemanusiaannya juga akan rusak, akhirnya ia akan berubah menjadi seperti hewan.

Intinya, dalam pandangan Ibn Khaldun, kehancuran suatu peradaban disebabkan oleh hancur dan rusaknya sumber daya manusia, baik secara intelektual maupun moral. Contoh yang nyata adalah pengamatannya terhadap peradaban Islam di Andalusia. Disana merosotnya moralitas penguasa diikuti oleh menurunnya kegiatan keilmuan dan keperdulian masyarakat terhadap ilmu, dan bahkan berakhir dengan hilangnya kegiatan keilmuan. Di Baghdad keperdulian al-Ma’mun, pendukung Mu’tazilah dan al-Mutawakkil pendukung Ash’ariyyah merupakan kunci bagi keberhasilan pengembangan ilmu pengetahuan saat itu. Secara ringkas jatuhnya suatu peradaban dalam pandangan Ibn Khaldun ada 10, yaitu: 1) rusaknya moralitas penguasa, 2) penindasan penguasa dan ketidak adilan 3) Despotisme atau kezaliman 4) orientasi kemewahan masyarakat 5) Egoisme 6) Opportunisme 7) Penarikan pajak secara berlebihan 8) Keikutsertaan penguasa dalam kegiatan ekonomi rakyat 9) Rendahnya komitmen masyarakat terhadap agama dan 10) Penggunaan pena dan pedang secara tidak tepat.

Kesepuluh poin ini lebih mengarah kepada masalah-masalah moralitas masyarakat khususnya penguasa. Nampaknya, Ibn Khaldun berpegang pada asumsi bahwa karena kondisi moral di atas itulah maka kekuatan politik, ekonomi dan sistem kehidupan hancur dan pada gilirannya membawa dampak terhadap terhentinya pendidikan dan kajian-kajian keislaman, khususnya sains. Menurutnya “ketika Maghrib dan Spanyol jatuh, pengajaran sains di kawasan Barat kekhalifahan Islam tidak berjalan.” Namun dalam kasus jatuhnya Baghdad, Basra dan Kufah ia tidak menyatakan bahwa sains dan kegiatan saintifik berhenti atau menurun, tapi berpindah ke bagian Timur kekhalifahan Baghdad, yaitu Khurasan dan Transoxania atau ke Barat yaitu Cairo.

Itulah sebagian pelajaran yang dapat dipetik dari apa yang disampaikan oleh para sejarawan Muslim tentang kemunduran peradaban Islam. Jika al-Hassan memfokuskan pengamatannya pada masa-masa terakhir kejatuhan kekuasaan Islam pada abad ke 16 hingga abad ke 20, Ibn Khaldun mengamati peristiwa-peristiwa sejarah pada abad ke 15 dan sebelumnya. Kini masih diperlukan redifinisi tentang kemunduran ummat Islam secara umum dan mendasar, agar kita dapat memberikan solusi yang tepat.

Membangun Kembali peradaban Islam

Membangun kembali peradaban Islam memerlukan beberapa prasyarat konseptual. Pertama, memahami sejarah jatuh bangunnya peradaban Islam dimasa lalu, kedua, memahami kondisi ummat Islam masa kini dan mengidentifikasi masalah atau problematika yang sedang dihadapi ummat Islam masa kini. Dan ketiga, sebagai prasyarat bagi poin kedua, adalah memahami kembali konsep-konsep kunci dalam Islam. Yang pertama telah kita bahas di atas, dimana telah digambarkan mengenai cara-cara bagaimana kejayaan peradaban Islam itu dicapai dan bagaimana kejatuhannya itu terjadi. Sedangkan yang kedua akan kita bahas khususnya untuk mencari solusi yang berupa langkah-langkah strategis dan juga praktis. Pada saat yang sama kita perlu memahami Islam dengan menggali konsep baru dalam berbagai bidang sehingga dapat membentuk bangunan baru peradaban Islam yang mampu menghadapi tantangan zaman. Artinya dengan konsep-konsep Islam kita dapat bersikap kritis ataupun apresiatif terhadap konsep-konsep yang datang dari luar Islam.

 

Bagian 2  <<  >>  (Bersambung)

___________
Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A. Ed, M. Phil,  lahir di Gontor, 13 September 1958, adalah putra ke-9 dari KH Imam Zarkasyi, pendiri Pesantren Modern Gontor Ponorogo. Beliau juga Pemimpin Redaksi Majalah ISLAMIA dan direktur Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization (INSISTS), lulus program Ph.D. dari International Institute of Islamic Thought and Civilization – International Islamic University Malaysia (ISTAC-IIUM) Malaysia pada 6 Ramadhan 1427 H/29 September 2006, setelah berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul ‘Al-Ghazali’s Concept of Causality’, di hadapan para penguji yang terdiri atas Prof. Dr. Osman Bakar, Prof. Dr. Ibrahim Zein, dan Prof. Dr. Torlah. Prof. Dr. Alparslan Acikgence, penguji eksternal dari Turki, memuji kajian Hamid terhadap teori kausalitas al-Ghazali pada kajian sejarah pemikiran Islam. Sebab, pendekatan Hamid terhadap konsep kausalitas al-Ghazali telah menjelaskan sesuatu yang selama ini telah dilewatkan oleh kebanyakan pengkaji al-Ghazali. 

Santri TPA & RAP Binaan LAZIS UNS Ikuti Pawai Sambut Ramadhan

Santri TPA & RAP Binaan LAZIS UNS Ikuti Pawai Sambut Ramadhan

Solo, LAZIS UNS – Dalam rangka menyambut datangnya bulan suci Ramadhan 1438 H, LAZIS UNS mengadakan Pawai Sambut Ramadhan bersama santri TPA dan adik Rumah Anak Pintar (RAP) Binaan LAZIS UNS, Kamis (25/5). Sebanyak 116 anak mengikuti pawai ini. Pawai dimulai dari halaman parkir utara Masjid Nurul Huda UNS dan berakhir di Taman Cerdas Jebres. Di sepanjang perjalanan pawai, adik-adik bershalawat sambil membawa poster yang bertemakan Ramadhan. Tak lupa mereka juga membagikan jadwal imsakiyah kepada warga sekitar.

Setelah sampai di Taman Cerdas adik-adik beristirahat sembari menyaksikan penampilan dari masing-masing TPA. Berikutnya ada kak Erma yang menyampaikan dongeng tentang Ramadhan dan disimak dengan antusias oleh adik-adik.

Candra Arum Kusumawati, penanggung jawab kegiatan pawai mengungkapkan, pawai Ramadhan ini selain bertujuan untuk mempererat tali silaturrahmi antarTPA dan RAP Binaaan LAZIS UNS, juga sebagai syiar Ramadhan di lingkungan masyarakat sekitar.