Membangun Kembali Peradaban Islam (Secara Sinergis, Simultan dan Konsisten) – Bag 1

Membangun Kembali Peradaban Islam (Secara Sinergis, Simultan dan Konsisten) – Bag 1

Oleh : Hamid Fahmy Zarkasyi

Proyek besar yang telah lama digagas dan dirintis oleh para tokoh pemikir dan pembaharu Muslim baik di Timur Tengah mapun di belahan bumi seperti di anak benua Indo-Pakistan, di dunia Melayu, dan di dunia Barat adalah Membangun Kembali Peradaban Islam. Dengan segala kekurangan dan kelebihan, kegagalan dan keberhasilan yang dicapai oleh para pendahulu kita, kita berkewajiban untuk mengambil pelajaran dari mereka dan menyusun strategi baru bagi kelanjutan proyek tersebut.

Proyek ini semakin penting untuk dibahas kembali dan perlu terus direalisasikan secara perlahan-lahan. Sebab stigmatisasi masyarakat Barat terhadap Islam dan umat Islam dengan “fundamentalisme, terrorisme, ekslusifisme” dsb. yang marak akhir-akhir ini berangkat dari asumsi bahwa Islam hanyalah denominasi agama dan kepercayaan yang menghasilkan fanatisme. Akibat stigma ini umat Islam bersikap responsif dan reaktif sehingga cenderung hanyut ke dalam bahasa-bahasa peperangan psikis (psy-war) yang tidak produktif bagi dialog peradaban. Mereka seakan melupakan fakta bahwa Islam adalah sebuah agama yang telah terbukti mampu berkembang menjadi peradaban yang bermartabat yang kaya dengan konsep dan sistem kehidupan yang teratur selama berabad-abad lamanya.

Continue reading

Khutbah Idul Adha 1437H : Belajar Dari Keteladanan Nabi Ibrahim

Khutbah Idul Adha 1437H : Belajar Dari Keteladanan Nabi Ibrahim

Khutbah Idul Adha 1437H
Belajar Dari Keteladanan Nabi Ibrahim
Oleh: DR. Cucuk Nur Rosyidi, S.T., M.T.
(Kepala Prodi S2 Teknik Industri FT UNS)

Download

Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Marilah kita senantiasa memanjatkan rasa syukur kita ke hadirat Allah SWT, yang atas izin dan kehendaknya kita masih diberikan kesempatan, kesehatan, dan keleluasaan untuk menikmati indahnya pagi, hangatnya sinar mentari dan kesejukan udaranya dan hadir di tanah lapang ini untuk menunaikan Sholat Idul Adha. Shalawat dan salam senantiasa kita sampaikan kepada Rasulullah Muhammad SAW, penghulu para nabi dan pembawa risalah yang tidak ada nabi dan rasul setelah beliau. Hari ini, takbir, tahlil dan tahmid bergema di penjuru bumi. Kaum muslimin mengagungkan asma Allah, mengesakan-Nya bahwa tiada yang patut disembah kecuali Dia, dan bersyukur atas segala karunia dan rizki yang telah diberikan. Di tanah suci, hampir dua juta jamaah haji telah menyelesaikan wukuf-nya di arafah sebagai bagian dari puncak ibadah haji.

Jamaah Idul Adha Rahimakumullah,

Idul Adha bermuara pada sejarah dua orang manusia mulia yaitu Nabi Ibrahim dan puteranya Ismail. Allah telah memilih beliau dan keluarganya sebagai manusia pilihan. Sebagaimana firman Allah dalam Surat Ali Imran ayat 33:

“Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga ‘Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing).”

Karena itu Allah menjadikan Ibrahim sebagai pemimpin yang dapat kita jadikan teladan yang baik, patuh dan taat kepada Allah dan lurus agamanya sebagaimana firman Allah dalam surat An-Nahl ayat 120:

“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.

Continue reading

Islamisasi Sains

Islamisasi Sains

Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A. Ed, M. Phil

architecture-books-building-2757-828x550

Westernisasi, sekularisasi, liberalisasi, Kristenisasi dan lain sebagainya adalah istilah-istilah resmi. Istilah itu mengandung konsep yang bermuatan nilai, kepercayaan atau ideologi. Istilah ini juga merupakan gerakan penyebaran nilai, agama, ideologi, cara berpikir.

Dalam Islam juga terdapat istilah “Islamisasi”. Meski istilah ini baru dipopulerkan oleh al-Attas tahun 70an, prakteknya telah berjalan sejak zaman Nabi.

Sejatinya Islamisasi adalah karakter Islam yang sesungguhnya, dan bukan akulturasi. Islam bukan produk budaya Arab. Sebab praktek kehidupan Jahiliyyah di-Islamkan. Menikah disucikan, berdagang ditertibkan, berperang diatur, ibadah ditentukan dengan tata cara khusus, kemusyrikan di-tauhid-kan.

Di dunia Melayu Islam mencerahkan worldview mitologis menjadi rasional. Buktinya banyak aspek kehidupan bangsa Melayu menggunakan istilah-istilah Arab. Nama dan jumlah hari dalam seminggu adalah hasil Islamisasi. Istilah keilmuan Islam seperti nalar, fikir, ilmu, jasmani, lahir, batin, kalbu, sadar, adil, zalim dan sebagainya diambil dari worldview Islam. Masa itu Islamisasi berjalan wajar tanpa peperangan dan resistensi.

Namun, kini istilah “Islamisasi” menjadi menakutkan dan ditolak banyak pihak secara tidak wajar. Bahkan gerakan yang berbau Islam pun segera diberi label Islamisasi. Pemberlakuan undang-undang pornografi, (PERDA) anti perjudian, pelacuran, minuman keras dan sebagainya dianggap gerakan Islamisasi.

Ketika Prof. M. Salim mengadakan pameran 1001 Inventions – Discover The Muslim Heritage In Our World, di Museum of London, ia segera dituduh melakukan Islamisasi Inggris. Di Perancis mengenakan jilbab juga dianggap Islamisasi. Jadi dunia tidak saja menolak istilah Islamisasi, tapi segala gerakan yang berbau Islam adalah upaya Islamisasi dan itu dianggap “berbahaya”.

Kasus diatas menjalar kepada gerakan Islamisasi ilmu pengetahuan kontemporer (Islamization of contemporary knowledge). Tidak sedikit profesor yang “alergi” dengan istilah ini.

Alasannya beragam. Fazlur Rahman menganggap ilmu itu netral dan tidak perlu di-Islamkan. Abdussalam peraih Nobel Fisika dari Pakistan juga sinis, “Jika ada Ilmu Islam, maka disana nanti akan ada ilmu Hindu, ilmu Budha, ilmu Kristen.”

Ada pula yang menyindir jika Islamisasi ilmu berhasil, maka nanti akan ada pesawat terbang Islam, sepeda motor Islam, kereta api Islam dan sebagainya.

Di Indonesia para profesor yang enggan menerima istilah itu mengganti dengan istilah “Pengilmuan Islam” atau integrasi ilmu. Konon untuk sekedar menghindari arogansi yang terkandung pada istilah “Islamisasi”.

Tapi ini justru mengesankan inferiority complex, seakan Islam itu tidak ilmiah. Sedang yang kedua masih menyisakan banyak hal. Sebab integrasi sesuatu yang kontradiktif jelas tidak mungkin. Integrasi, karena itu. harus berakhir dengan Islamisasi.

Benarkah ilmu itu netral? Jawabnya tentu tidak. Para saintis Barat sekelas Thomas Kuhn percaya bahwa ilmu itu sarat nilai. Jika netral mengapa ilmu politik Amerika tidak laku di Rusia, dan mengapa ilmu waris dalam Islam tidak dipakai saja di Barat.

Sejarah ilmu membuktikan bahwa ilmu tidak lahir dari ruang hampa. Artinya, masing-masing worldview berpengaruh besar dalam menentukan asumsi dasar ilmu, meski dalam beberapa aspek metodologinya bisa sama.

David K. Naugle dalam bukunya Worldview, History of Concept juga sepakat. Namun menurutnya “Pengaruh worldview terhadap epistemologi berbeda-beda pada setiap disiplin ilmu. Ilmu sosial lebih banyak dibanding ilmu eksak.

Karena ilmu tidak netral itulah maka Islamisasi menjadi mungkin. Konsepnya, Profesor Naquib al-Attas, cukup sederhana.

Pertama,Mengeluarkan elemen-elemen asing dari setiap cabang ilmu pengetahuan masa kini yang tidak sesuai dengan Islam. Tentu elemen itu tidak sedikit, karena menyangkut proses epistemologi, seperti interpretasi fakta-fakta, formulasi teori, metode, konsep, aspek-aspek nilai dan etika, dan lain sebagainya.

Kedua, Memasukkan elemen-elemen dan konsep-konsep kunci Islam kedalam setiap cabang ilmu pengetahuan masa kini yang relevan. Konsep-konsep itu adalah konsep tentang din, manusia (insan), ilmu (ilm dan ma’rifah), keadilan (‘adl), amal yang benar (amal sebagai adab) dan sebagainya.

Karena Islamisasi ilmu pengetahuan kontemporer itu mungkin, maka Islamisasi Ilmu ekonomi konvensional itu sebuah keniscayaan. Kini seluruh dunia menerima ekonomi Islam (syariat) itu ada. Dan itu sebenarnya adalah hasil integrasi dan Islamisasi yang telah, sedang dan terus berlangsung.

Kalau kita konsisten, maka Islamisasi berbagai disiplin ilmu kontemporer juga mungkin. Hanya masalahnya, tidak semua ilmuwan Muslim menguasai epistemologi dan tahu kerancuan epistemologis ilmu-ilmu sekuler. Wajar jika mereka anti Islamisasi. Mungkin benar kata pepatah Arab bahwa manusia itu adalah musuh dari apa yang tidak diketahuinya (al-nas a’daa’u ma jahiluu).

Buletin NH No 3/ April 2015

Membangun Keselarasan Dengan Al Qur’an

Membangun Keselarasan Dengan Al Qur’an

1

Sebagai seorang muslim, menjadikan Al Quran sebagai pedoman kehidupan merupakan sebuah keniscayaan. Al Quran sebagai kitab menyempurna dan paripurna menjadi sarana terpenting, termudah, dan paling banyak melimpahkan berkah. Ia ibarat sumber dari mata air yang tidak pernah kering dari perbekalan. Di dalamnya tergambar bimbingan sarana-saran lain yang dapat dijadikan bekal dalam kehidupan. Secara global dapat dikatakan bahwa di dalam Al Quran terdapat segala kebaikan yang dibutuhkan oleh manusia untuk mewujudkan kebahagiaan di dunia serta di akhirat. Selain itu, Al Quran juga sebagai pemelihara serta penyelamat dari kesengsaraan hidup di dunia dan akhirat. Di dalamnya terdapat pilar-pilar pendidikan yang dapat mencetak generasi aqidah dan menumbuhkan potensi-potensi kebaikan bagi diri manusia.

Oleh karena itu, sebagai pilar-pilar pendidikan, interakasi dan aplikasi nilai-nilai dalam Al Quran memegang peranan vital dalam menentukan sebuah generasi. Pola pendidikan yang dewasa ini hanya mendikte masalah-masalah pengetahuan umum dan berorientasi pada kecerdasan intelektual akhirnya hanya menciptakan manusia mesin yang silau akan dunia. Manusia dituntut untuk menguasai ilmu tanpa dibarengi dengan penguasaan sumber ilmu yang hakiki, dimana di sana terdapat petunjuk, rahmat sekaligus peringatan. Akhirnya, pola tersebut berimbas pada biasnya pemaknaan diri sebagai manusia.

Sebagai ikhtiar mewujudkan pendidikan yang menyeluruh, Universitas Sebelas Maret (UNS) sebagai tempat dilaksanakannya aktivitas pendidikan mencoba menyelaraskan kehidupan kampus dengan interaksi warga muslim dengan Al Quran. salah satunya dengan terbentuknya organisasi Ilmu Quran dijadikan sebagai jalan mengambil sebab untuk menciptakan lingkungan kampus yang semakin akrab dengan Kitabullah.

Ikhtiar ini mendapat sambutan yang sangat antusias dari warga muslim UNS. Berpusat di Masjid Kampus Nurul Huda, aktivitas mengakrabi Al Quran sudah ramai dilakukan oleh mahasiswa. Kegiatan membaca, tahsin, hingga program menghafal menjadi aktivitas yang tidak asing lagi ditemukan. Dukungan dari pihak birokrat menambah semangat mahasiswa untuk turut serta mengikuti program-program bimbingan.

Bak gayung bersambut, sinergi antara birokrat, pengurus Masjid Kampus Nurul Huda, dan mahasiswa, menjadikan aktivitas pengakraban dengan Al Quran semakin tumbuh pesat. Pihak masjid sendiri menilai bahwa aktivitas ini sangat membantu memakmurkan masjid. Suasana masjid yang tidak pernah sepi dengan aktivitas ibadah diharapkan dapat menciptakan lingkungan yang benar-benar islami. Oleh karena itu, sebagai bentuk dukungan berupa mengadakan program seperti camping quran gratis, seminar, hingga kajian yang diharapkan dalam menjadi motivasi dan sarana warga UNS untuk terus mengakrabi Al Quran.

Selain sebagai usaha untuk mengakrabkan diri dengan wahyu Allah SWT tersebut, beberapa mahasiswa menyakini bahwa aktivitas interaksi dengan Al Quran dapat menumbuhkan semangat berprestasi dalam diri seseorang. Seperti halnya yang diungkapkan Syayma Karima (FK ’12), ia menyakini bahwa semangat berinteraksi dengan Al Quran akan berdampak pada capaian prestasi, Menurutnya interaksi dengan Al Quran dan keseharan ruhiyah adalah kekuatan utama dalam menjalankan aktivitas agar tercapainya prestasi yang maksimal. Mahasiswa yang masuk melalui jalur hafidz ini juga telah membuktikannya dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.

Harmonisasi interaksi dengan Al Quran juga mengandung harapan bagi semua pihak yang ada di UNS. Selain sebagai penjagaan ruhiyah dan juga menjadi penyemangat untuk berprestasi, jauh ke depan masyarakat kampus berharap lulusan universitas akan menjadi manusia yang berkualitas. Sejalan dengan harapan tersebut, Dwi Prasetyo (FKIP ’10), mengatakan bahwa tantangan pasca kelulusan akan semakin beragam, maka sudah harusnya lulusan perguruan tinggi tidak hanya membutuhkan keunggulan intelektual, namun juga spiritual dan mental. Ketua Studi Ilmiah Mahasiswa (SIM) ini juga mengatakan bahwa pembelajaran Al Quran di kampus sangat relevan dan dapat memperkuat lulusan UNS.

Membaca, mentadabburi, dan menghafal ayat-ayat Al Quran memang menjadi hal yang terus digemakan di lingkungan UNS. Namun, tak berhenti sampai di sana, harapannya juga akan berkembang kegiatan yang lebih jauh mengkaji kandungan Al Quran dan mengaitkannya dalam bidang keilmuan yang menjadi konsentrasi para wagra UNS. Dengan begitu, jauh ke depan diharapkan lulusan dapat memaknai bidang keahlian dan ilmu pengetahuan selaras dengan wahyu yang diturunkan kepada Rasululullah SAW melalui pelantara Jibril itu. Jika hal ini dapat terwujud, keoptimisan menjadi generasi Islam pembangun peradaban sudah sepantasnya tersematkan dalam jiwa dan cita-cita warga muslim UNS

Buletin NH Edisi 1/ Maret 2015

“Khadijah Al-Kubro, Srikandi Islam Pertama”

“Khadijah Al-Kubro, Srikandi Islam Pertama”

“Khadijah Al-Kubro, Srikandi Islam Pertama” 

Kajian Muslimah 19 Maret 2015

Ustadzah Lutfiya T.H.

  1. KaMus edisi 16 April 2015 “Khadijah Al-Kubro, Srikandi Islam Pertama” brsm Ustzh Lutfiya T.H #KaMus16 #KartiniMasaKini
  2. Khadijah binti Khuwailid, pahlawan wanita pertama yg ikut berjuang bersama Rasulullah #KaMus16 #KartiniMasaKini
  3. Khadijah keturunan bangsawan. Dia dijuluki wanita suci krn akhlaknya yg terpuji #KaMus16 #KartiniMasaKini @MuslimahFKIPUNS
  4. Sebelum menikah dgn Muhammad, Khadijah pernah menikah dgn Abu Halah dan Atiq. Namun keduanya meninggal #KaMus16 #KartiniMasaKini
  5. Sejak umur 15th, Muhammad bkerja pd Khadijah. Khadijah memiliki jar bisnis perdagangan #KaMus16 #KartiniMasaKini
  6. Khadijah adl pembisnis yg handal karena bekal intelektual beliau #KaMus16 #KartiniMasaKini
  7. Khadijah mengutarakan keinginannya terlebih dhlu utk menikah dgn Muhammad #KaMus16 #KartiniMasaKini
  8. Mereka dikaruniai 6 org anak yg semuanya lahir sbelum masa kenabian, kecuali anak terakhirnya, Abdullah #KaMus16 #KartiniNspiration
  9. Akhirnya mereka menikah, Muhammad (25th) dgn Khatijah seorang janda 40th #KaMus16 #KartiniMasaKini
  10. Sbelum menikah dgn Muhammad, Khadijah memiliki anak angkat kesayangan brnama Zaid bin Haritsah yg kemudian dihadiahkan kpd Muhammad #KaMus16
  11. Khadijah sosok yg ikhlas, setia, tidak khawatir saat ditinggal berjuang oleh suaminya #KaMus16 #KartiniNspiration @JNUKMIUNS
  12. Khadijah adl sosok yg selalu bisa menentramkan hati suaminya #KaMus16 #KartiniNspiration @nurulhuda_uns @nisaaskifkuns
  13. Penghormatan utama seorg istri adl pd suaminya.
  14. Penghornatan utama sorg suami, tetap pada ibunya. #KaMus16 #KartiniNspiration
  15. Khadijah tdk pernah menghalangi penghormatan Muhammad pada ibu susunya #KaMus16 #KartiniNspiration
  16. “Sbaik-baik wanita (langit) adl Maryam binti Imran dn sbaik-baik wanita (bumi) adl Khadijah binti Khuwailid” HR.Bukhori & Muslim #KaMus16
  17. Teringat sebuah pepatah yang sering kita dengar mengatakan “Dibalik kesuksesan seorang pria ada wanita hebat” #KaMus16 #KartiniNspiration
  18. kalimat yang sepadan yang semestinya diungkapkan adalah “Dibalik kebesaran sebuah ummat ada wanita yang hebat” #KaMus16 #KartiniNspiration
  19. Kalau saja bukan karena peran seorang Khadijah, umat islam takkan berjaya. #KaMus16 #KartiniNspiration
“Menjaga Kemilau Cahaya Pesona Muslimah”

“Menjaga Kemilau Cahaya Pesona Muslimah”

 “Menjaga Kemilau Cahaya Pesona Muslimah” 

Kajian Muslimah 19 Maret 2015

Ustadzah Vida Robi’ah A.A.

  1. #KajianNH Sedang berlangsung : Kajian Muslimah “Menjaga Kemilau Cahaya Pesona Muslimah” brsma Ustdzh.Vida Robi’ah A.A. #KaMus19 @JNUKMIUNS
  2. Now, Kajian Muslimah “Menjaga Kemilau Cahaya Pesona Muslimah” brsma Ustdzh.Vida Robi’ah A.A. #KaMus19
  3. Sinetron2 mudah memengaruhi tentang lawan jenis, gaya hidup dan hal2 negatif lainnya #KaMus19
  4. Sinetron Indonesia banyak yang mengajarkan bahwa institusi sekolah adalah tempat untuk pacarann #KaMus19
  5. Kapasitas otak-pikiran menjadi hal utama seorang muslimah #KaMus19
  6. Muslimah yg tdk mengupgrade kapasitas ilmunya, maka ia akan mjd muslimah yg hanya sibuk dgn penampilan #KaMus19
  7. Seorang muslimah memiliki kemampuan memilih, mengkritisi dan mengevaluasi sesuatu #KaMus19
  8. Seorang istri yang cerdas bisa menganalisis kebutuhan suaminya #KaMus19
  9. Kecerdasan dan karakter seorang anak sebagian meniru dari ibu #KaMus19
  10. Muslimah harus memiliki moral yang baik yang nantinya akan diwariskan kepada anak-anaknya #KaMus19
  11. Berpakaian syar’i adalah komitmen kita kepada Allah #KaMus19
  12. Komitmen kita selain berjilbab yaitu menjaga pandangan dan menjaga pergaulan #KaMus19
  13. Proses berhijab kita lalui secara bertahap #KaMus19
  14. Muslimah itu juga harus berkarakter kuat. Karakter kuat bukan berarti galak ataupun diktator #KaMus19
  15. Sebanyak apapun pendapatan seorang istri, sesungguhnya lebih mulia pendapatan suami meskipun sedikit #KaMus19
  16. Meski kita memiliki kesibukan kuliah, hendaknya kita tetap sering berinteraksi dengan masyarakat #KaMus19
  17. Dengan bermasyarakat, kita akan tambah pintar dan cerdas #KaMus19
  18. Bukan hanya cantik diri seperti barbie. Mnjadi seorang ibu hrs bisa mengimbangi kebutuhan suami dan mendidik anak-anak #Kamus19
  19. Batasan berinteraksi denan lawan jenis itu bagaimana kita bisa mengendalikan keadaan sewajarnya #KaMus19
  20. Jagalah dirimu sendiri dan percayalah Allah melihatmu #KaMus19
Spirit Hijriah: Menuju Persatuan Ummat

Spirit Hijriah: Menuju Persatuan Ummat

Oleh: Ramatto Livic

             Rasullah Saw. telah memperingatkan kita yang berada di akhir zaman, dalam salah satu sabdanya: “Hampir terjadi keadaan yang mana umat-umat lain akan mengerumuni kalian bagai orang-orang yang makan mengerumuni makanannya”. Salah seorang sahabat berkata: “Apakah karena sedikitnya kami ketika itu?”,Nabi bersabda: “Bahkan pada saat itu kalian banyak jumlahnya, tetapi kalian bagai ghutsa’ (Buih kotor yang terbawa air saat banjir). Pasti Allah akan cabut rasa segan yang ada di dalam dada-dada musuh kalian, kemudian Allah campak kankepada kalian rasa wahn”. Kata para sahabat,: “Wahai Rasulullah, apa wahn itu”. Beliau bersabda: “Cinta dunia dan takut mati” (HR. Abu Daud, Ahmad)

Indonesia, negeri kita ini adalah sebuah Negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia. Tapi masyarakat muslim di Indonesia mengalami kondisi terkotak-kotak. Masing-masing mereka membanggakan golongan masing-masing. Saling mengklaim golongannya adalah jalan yang benar, dan menuduh golongan yang lain adalah sesat hanya karena perbedaan satu atau beberapa pendapat dalam hal furu (persoalan cabang).

Allah berfirman dalam surat Ar Rum ayat 32:

Yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka” (QS Ar Rum 30:32)

Perbedaan adalah suatu sunnatullah. Pasti akan selalu ada perbedaan. Yang terpenting adalah bagaimana kita menyikapi perbedaan. Karena sejak zaman Rasulullah Saw memimpin, Rasulullah saw menggolongkan kaum muslimin yang berasal dari Mekkah dengan muhajirin sedangkan kaum muslimin dari Yastrib (Madinah) dengan anshar.

Hikmah yang bisa kita ambil dari keberadaan kaum muhajirin dan anshar adalah perbedaan itu bukanlah suatu permasalahan. Selama kita mampu saling bertenggang rasa satu sama lain. Dan tidak membanggakan apa yang ada pada golongan mereka. Seperti halnya muhajirin dan anshar. Kaum muslim muhajirin tidak pernah membanggakan bahwa mayoritas sahabat Rasulullah saw yang dijamin masuk surge oleh Allah dan Rasul-Nya berasal dari golongan mereka. Dan kaum anshar tak pernah membanggakan bahwa merekalah yang menguatkan kaum muslimin kala tersisihkan dari Mekkah. Ah, inilah indahnya ukhuwah islamiyah kawan.

Kita juga harus belajar dari 4 imam madzhab dalam islam, yaitu imam Syafi’I, Imam Hanafi, Imam  Malik, dan Imam Ahmad. Meskipun memiliki banyak perbedaan dalam berpendapat,  mereka tidak pernah saling meng-klaim bahwa madzhab mereka adalah yang paling benar. Tapi justru mereka saling memuliakan satu sama lain. Seperti halnya Imam AsySyafi’i dengan Imam Ahmad. Saling berguru satu sama lain. Ah, itulah indahnya ukhuwah islamiyah kawan.

Mari di moment awal tahun 1436 Hijriah kita,umat muslim di Indonesia khususnya dan Dunia pada umumnya, untuk berhijrah menuju kesatuan umat untuk Indonesia, dunia, serta alam semesta yang lebih baik. Biarlah perbedaan itu menjadikan kita saling bersatu dan menguatkan. Seperti halnya agregat besar, kecil, semen, air serta baja yang saling mendukung hingga terbentuk beton yang sangat kokoh.

___________________________

KETERANGAN KONTRIBUTOR

Penulis bernama lengkap Dwi Nur Rahmat, Ketua Biro Asistensi Agama Islam Universitas Sebelas Maret, mahasiswa Teknik Sipil FT UNS angkatan 2010. Ramatto Livic adalah nama penanya dalam dunia kepenulisan. Penulis dan pemilik di www.menarainspirasi.com.
Sumber

Hikmah Di Balik Shalat Gerhana

Hikmah Di Balik Shalat Gerhana

Oleh: Ramatto Livic

Rabu (8/10) lalu, terjadi sebuah fenomen alam yakni gerhana bulan. Apa itu gerhana bulan? Suatu fenomena alam yang terjadi karena posisi matahari, bumi dan bulan berada dalam satu garis lurus. Karena keadaan yang segaris, sehinga bayangan bulan terhalangi oleh bumi.

Umat muslim diperintahkan untuk melaksanakan shalat Gerhana ketika melihat gerhana, baik itu gerhana matahari maupun bulan. Sebagaimana yang terekam dalam hadist riwayat Bukhari no. 1047 yakni ”Jika kalian melihat gerhana tersebut (matahari atau bulan), maka bersegeralah untuk melaksanakan shalat.”

Continue reading

Faktor Penyebab Sebagai Salah Satu Hikmah Hijrah

Faktor Penyebab Sebagai Salah Satu Hikmah Hijrah

Mengambil faktor penyebab menjadi sangat penting di samping bertawakkal kepada Allah SWT. Karena akibat yang muncul tanpa adanya sebab yang mendahuluinya adalah sebuah kemustahilan.

Peristiwa Tahun Baru Hijriah mungkin tidak banyak disambut oleh penduduk Indonesia selayaknya tahun baru Masehi. Bahkan, sebagai umat muslim pun terkadang kita masih menganggap bahwa Tahun Baru Hijriah hanya sekadar pengulangan tanggal setiap tahun. Banyak dari kaum muslimin dewasa ini yang masih alpa dalam mengambil pelajaran yang mendasari penetapan awal tahun hijriah setelah wafatnya Rasulullah saw itu.

Seperti kita ketahui bahwa penetapan tahun Hijriah merupakan salah satu prestasi Umar bin Khattab ra. di masa kekhalifahannya. Penetapan ini didasari atas peristiwa hijrahnya Rasulullah saw. dan para Muhajirin dari Mekah menuju Yatsrib atau Madinah. Peristiwa hijrah sendiri dilakukan secara bertahap. Proses hijrah Rasulullah saw. sendiri ditemani oleh Sahabat Abu Bakar Ash Shiddiq dan seorang penunjuk jalan, Abdullah bin Uraiqith.

Continue reading

Ikhlas itu Tidak Selalu Ringan

Ikhlas itu Tidak Selalu Ringan

IMG_5629

Oleh: Ramatto Livic

Lelaki tua itu berumur senja, tapi ia tidak pernah memadamkan api harapannya kepada Sang Khaliq, Allah SWT. Di usianya yang senja, ia dan istrinya belum di karuniakan seorang anak yang merupakan dambaan setiap orang tua. Karena, keluarga tanpa kehadiran seorang anak, seperti puzzle yang tidak lengkap. Tapi, ia tidak pernah menyerah. Tidak pernah berhenti berharap, bersimpuh dengan kerendahan hatinya. Entah itu pagi, siang, bahkan malam ia selalu berdo’a kepada-Nya.

Continue reading