Faktor Penyebab Sebagai Salah Satu Hikmah Hijrah

Faktor Penyebab Sebagai Salah Satu Hikmah Hijrah

Mengambil faktor penyebab menjadi sangat penting di samping bertawakkal kepada Allah SWT. Karena akibat yang muncul tanpa adanya sebab yang mendahuluinya adalah sebuah kemustahilan.

Peristiwa Tahun Baru Hijriah mungkin tidak banyak disambut oleh penduduk Indonesia selayaknya tahun baru Masehi. Bahkan, sebagai umat muslim pun terkadang kita masih menganggap bahwa Tahun Baru Hijriah hanya sekadar pengulangan tanggal setiap tahun. Banyak dari kaum muslimin dewasa ini yang masih alpa dalam mengambil pelajaran yang mendasari penetapan awal tahun hijriah setelah wafatnya Rasulullah saw itu.

Seperti kita ketahui bahwa penetapan tahun Hijriah merupakan salah satu prestasi Umar bin Khattab ra. di masa kekhalifahannya. Penetapan ini didasari atas peristiwa hijrahnya Rasulullah saw. dan para Muhajirin dari Mekah menuju Yatsrib atau Madinah. Peristiwa hijrah sendiri dilakukan secara bertahap. Proses hijrah Rasulullah saw. sendiri ditemani oleh Sahabat Abu Bakar Ash Shiddiq dan seorang penunjuk jalan, Abdullah bin Uraiqith.

Continue reading

HUMMUS FP Selenggarakan Tabligh Akbar “Kami Bangga Menjadi Muslim”

HUMMUS FP Selenggarakan Tabligh Akbar “Kami Bangga Menjadi Muslim”

IMG_5729

Himpunan Mahasiswa Muslim (Hummus) 2010 Fakultas Pertanian (FP) UNS bersama Muallaf Center Indonesia (MCI) mengadakan acara Tabligh Akbar (TA ) dengan tema “Kami Bangga Menjadi Muslim” (12/10). Acara yang diadakan di Masjid Nurul Huda Islamic Center UNS ini dihadiri oleh 3 pembicara, yaitu Ustadz Syarif Ja’far Baraja selaku Pembina MCI, dan dua orang muallaf yang juga pegiat MCI, yaitu Steven Indra Wibowo dan dr. Sunny Wadhwa asal India.

Acara yang dihadiri oleh ratusan mahasiswa dan masyarakat umum tersebut dimulai sejak pukul 08.00 WIB. Steven Indra Wibowo, pendiri MCI mengawali materi mengenai kisah perjalanan hidupnya menjadi mualllaf dari Katolik menjadi Muslim. dr. Sunny Wadhwa menjadi pembicara kedua yang menceritakan pengalaman hidupnya menjadi muallaf dari penganut hindu menjadi penganut Islam.

Pembicara ketiga, Ustadz Syarif Ja’far Baraja mengungkapkan bahwa hidayah adalah pilihan dan harus dicari. Ia mengkaitkan materi hidayah dengan kondisi orang-orang islam pada masa kini.

Pukul 11.00 WIB, sesi penyampaian materi dari ketiga pembicara telah selesai, dan berpindah pada sesi tanya jawab.  Beberapa peserta aktif bertanya, sehingga acara semakin hidup. Tepat pukul 11.30 WIB, acara yang didukung oleh FUSI FP dan Perintis 2011 itu berakhir dengan khidmat.

Jamaah Masjid Nurul Huda UNS Selenggarakan Sholat Gerhana

Jamaah Masjid Nurul Huda UNS Selenggarakan Sholat Gerhana

IMG_5678

Rabu 8 Oktober 2014 pukul 16.15 – 19.34 WIB, sebagian besar wilayah Indonesia mengalami peristiwa gerhana bulan total. Bagi umat Islam, dianjurkan untuk melaksanakan sholat sunnah ketika menyaksikan gerhana, sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.

Jika kalian melihat gerhana tersebut (matahari atau bulan) , maka bersegeralah untuk melaksanakan shalat.” (HR. Bukhari)

Tak ketinggalan Masjid Nurul Huda UNS juga menyelenggarakan Sholat gerhana , sekitar 200 jamaah melaksanakan salat gerhana. Mereka melaksanakan salat gerhana sehabis Maghrib.

Insan, salah seorang pengurus harian Masjid Nurul huda UNS mengatakan, pelaksanaan shalat gerhana diumumkan sebelum dilaksanakannya ibadah shalat Maghrib. Shalat gerhana, dipimpin oleh Ustadz. Mohammad Luthfi Anshori, Lc. Staff Pengajar IAIN Surakarta dan pengasuh Tahfidz di MAPK Surakarta.

Selepas Sholat Gerhana Ustadz Luthfi menyampaikan khutbah singkat yang menerangkan bagaimana semestinya seorang Muslim bersikap ketika terjadinya peristiwa gerhana. Sebagaimana Rasulullah mengajarkan bahwa Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Jika melihat hal tersebut maka berdo’alah kepada Allah, bertakbirlah, kerjakanlah shalat dan bersedekahlah.

Gerhana Bulan kali ini merupakan peristiwa langka bagi warga Indonesia barat karena totalitasnya terjadi bertepatan dengan saat Matahari tenggelam. Peristiwa ini langka dan mungkin baru pertama kali teramati dari Indonesia.

Saat terbit, Bulan sudah akan menunjukkan warna merah darah di ufuk timur. Sementara itu, Matahari baru akan tenggelam 3 menit setelah Bulan terbit sehingga cahaya senja dan piringan Matahari yang kemerahan juga masih akan terlihat.