[Agenda NH] INDONESIA MENDONGENG 4

[Agenda NH] INDONESIA MENDONGENG 4

 

Yuk, isi agenda liburan adik-adik kita dengan agenda spektakuler
“Indonesia Mendongeng 4”

Ahad 25 Desember 2016 mulai jam 08.00 – 11.30 WIb
Di Masjid Nurul Huda UNS.

Kita akan belajar dan menyimak berbagai kisah dari Kak Putra Chaplin – Master Pantomim – dan Kak Damar dari Magelang.

Ada banyak hadiah menarik juga buat TPA/ TPQ dan para santri.

Yuk, bisa daftar di sini :
Wilayah Jebres : 0813-3815-3217
Wilayah Pasar Kliwon : 0857-2966-0444
http://bit.ly/IM42016

2d220092-d82c-44c5-93e4-585c2574e65e

DAFTAR PEMENANG LOMBA RESENSI BUKU PERPUSTAKAAN MASJID NURUL HUDA

DAFTAR PEMENANG LOMBA RESENSI BUKU PERPUSTAKAAN MASJID NURUL HUDA

IMG_7143

Alhamdulillah tahap penjurian lomba resensi buku Perpustakaan Masjid Nurul Huda sudah selesai, dan akhirnya terpilih lah 5 terbaik dari semua peserta yang mengikuti Lomba Resensi buku..

Berikut daftar 5 terbaik Lomba Resensi Buku Perpustakaan Masjid Nurul Huda UNS
Juara 1 : Norma Ambarwati
Juara 2 : Maitsa’ Fatharani
Juara 3 : Irviana Chalifatul ‘Azmi
Harapan 1 : Abdul Wahid
Harapan 2 : Sannidya Sekar

Terimakasih atas partisipasi teman-teman yang mengikuti Lomba Resensi Buku Perpustakaan Masjid Nurul Huda UNS, semoga apa yang telah dikaryakan dapat bermanfaat.
____
Fanspage : Perpustakaan Nurul Huda Uns
Twitter : [at] Perpus_NH

Takmir Masjid Nurul Huda UNS

Takmir Masjid Nurul Huda UNS

Sejak diresmikan pada 22 Oktober 1982, masjid kampus UNS atau yang lebih dikenal dengan nama Masjid Nurul Huda UNS telah menjadi pusat kegiatan dan dakwah keislaman. Selain berfungsi sebagai tempat ibadah, Masjid Nurul huda juga menjadi sarana untuk menanamkan nilai – nilai pembentuk moral islami kepada civitas muslim UNS. Lewat berbagai kegiatan pelatihan, kajian keislaman dan pendampingan telah banyak dilahirkan sarjana – sarjana muslim yang berkomitmen tinggi pada nilai moral dan berkemampuan melakukan perubahan di masyarakat.

Sejak pertama kali berdiri masjid nurul huda telah mengalami 3 (tiga) kali perbaikan dengan skala kecil, yaitu penambahan dinding kaca lantai 1 ( pada tahun 1987 – 1988), penggantian atap seng menjadi genteng ( tahun 1990) dan perbaikan keramik lantai 1 (tahun 2002).

Peningkatan jumlah civitas akademika UNS ( saat ini terdapat sekitar 30.000 mahasiswa dan 3000 dosen / karyawan) dan tingginya antusisasme terhadap aktivitas spiritual di Masjid Nurul Huda, perlu didukung dengan penambahan daya tampung jamaah dan peningkatan manajemen pelayanan dari takmir masjid.

Baca Selengkapnya

Islamisasi Sains

Islamisasi Sains

Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A. Ed, M. Phil

architecture-books-building-2757-828x550

Westernisasi, sekularisasi, liberalisasi, Kristenisasi dan lain sebagainya adalah istilah-istilah resmi. Istilah itu mengandung konsep yang bermuatan nilai, kepercayaan atau ideologi. Istilah ini juga merupakan gerakan penyebaran nilai, agama, ideologi, cara berpikir.

Dalam Islam juga terdapat istilah “Islamisasi”. Meski istilah ini baru dipopulerkan oleh al-Attas tahun 70an, prakteknya telah berjalan sejak zaman Nabi.

Sejatinya Islamisasi adalah karakter Islam yang sesungguhnya, dan bukan akulturasi. Islam bukan produk budaya Arab. Sebab praktek kehidupan Jahiliyyah di-Islamkan. Menikah disucikan, berdagang ditertibkan, berperang diatur, ibadah ditentukan dengan tata cara khusus, kemusyrikan di-tauhid-kan.

Di dunia Melayu Islam mencerahkan worldview mitologis menjadi rasional. Buktinya banyak aspek kehidupan bangsa Melayu menggunakan istilah-istilah Arab. Nama dan jumlah hari dalam seminggu adalah hasil Islamisasi. Istilah keilmuan Islam seperti nalar, fikir, ilmu, jasmani, lahir, batin, kalbu, sadar, adil, zalim dan sebagainya diambil dari worldview Islam. Masa itu Islamisasi berjalan wajar tanpa peperangan dan resistensi.

Namun, kini istilah “Islamisasi” menjadi menakutkan dan ditolak banyak pihak secara tidak wajar. Bahkan gerakan yang berbau Islam pun segera diberi label Islamisasi. Pemberlakuan undang-undang pornografi, (PERDA) anti perjudian, pelacuran, minuman keras dan sebagainya dianggap gerakan Islamisasi.

Ketika Prof. M. Salim mengadakan pameran 1001 Inventions – Discover The Muslim Heritage In Our World, di Museum of London, ia segera dituduh melakukan Islamisasi Inggris. Di Perancis mengenakan jilbab juga dianggap Islamisasi. Jadi dunia tidak saja menolak istilah Islamisasi, tapi segala gerakan yang berbau Islam adalah upaya Islamisasi dan itu dianggap “berbahaya”.

Kasus diatas menjalar kepada gerakan Islamisasi ilmu pengetahuan kontemporer (Islamization of contemporary knowledge). Tidak sedikit profesor yang “alergi” dengan istilah ini.

Alasannya beragam. Fazlur Rahman menganggap ilmu itu netral dan tidak perlu di-Islamkan. Abdussalam peraih Nobel Fisika dari Pakistan juga sinis, “Jika ada Ilmu Islam, maka disana nanti akan ada ilmu Hindu, ilmu Budha, ilmu Kristen.”

Ada pula yang menyindir jika Islamisasi ilmu berhasil, maka nanti akan ada pesawat terbang Islam, sepeda motor Islam, kereta api Islam dan sebagainya.

Di Indonesia para profesor yang enggan menerima istilah itu mengganti dengan istilah “Pengilmuan Islam” atau integrasi ilmu. Konon untuk sekedar menghindari arogansi yang terkandung pada istilah “Islamisasi”.

Tapi ini justru mengesankan inferiority complex, seakan Islam itu tidak ilmiah. Sedang yang kedua masih menyisakan banyak hal. Sebab integrasi sesuatu yang kontradiktif jelas tidak mungkin. Integrasi, karena itu. harus berakhir dengan Islamisasi.

Benarkah ilmu itu netral? Jawabnya tentu tidak. Para saintis Barat sekelas Thomas Kuhn percaya bahwa ilmu itu sarat nilai. Jika netral mengapa ilmu politik Amerika tidak laku di Rusia, dan mengapa ilmu waris dalam Islam tidak dipakai saja di Barat.

Sejarah ilmu membuktikan bahwa ilmu tidak lahir dari ruang hampa. Artinya, masing-masing worldview berpengaruh besar dalam menentukan asumsi dasar ilmu, meski dalam beberapa aspek metodologinya bisa sama.

David K. Naugle dalam bukunya Worldview, History of Concept juga sepakat. Namun menurutnya “Pengaruh worldview terhadap epistemologi berbeda-beda pada setiap disiplin ilmu. Ilmu sosial lebih banyak dibanding ilmu eksak.

Karena ilmu tidak netral itulah maka Islamisasi menjadi mungkin. Konsepnya, Profesor Naquib al-Attas, cukup sederhana.

Pertama,Mengeluarkan elemen-elemen asing dari setiap cabang ilmu pengetahuan masa kini yang tidak sesuai dengan Islam. Tentu elemen itu tidak sedikit, karena menyangkut proses epistemologi, seperti interpretasi fakta-fakta, formulasi teori, metode, konsep, aspek-aspek nilai dan etika, dan lain sebagainya.

Kedua, Memasukkan elemen-elemen dan konsep-konsep kunci Islam kedalam setiap cabang ilmu pengetahuan masa kini yang relevan. Konsep-konsep itu adalah konsep tentang din, manusia (insan), ilmu (ilm dan ma’rifah), keadilan (‘adl), amal yang benar (amal sebagai adab) dan sebagainya.

Karena Islamisasi ilmu pengetahuan kontemporer itu mungkin, maka Islamisasi Ilmu ekonomi konvensional itu sebuah keniscayaan. Kini seluruh dunia menerima ekonomi Islam (syariat) itu ada. Dan itu sebenarnya adalah hasil integrasi dan Islamisasi yang telah, sedang dan terus berlangsung.

Kalau kita konsisten, maka Islamisasi berbagai disiplin ilmu kontemporer juga mungkin. Hanya masalahnya, tidak semua ilmuwan Muslim menguasai epistemologi dan tahu kerancuan epistemologis ilmu-ilmu sekuler. Wajar jika mereka anti Islamisasi. Mungkin benar kata pepatah Arab bahwa manusia itu adalah musuh dari apa yang tidak diketahuinya (al-nas a’daa’u ma jahiluu).

Buletin NH No 3/ April 2015

Membangun Keselarasan Dengan Al Qur’an

Membangun Keselarasan Dengan Al Qur’an

1

Sebagai seorang muslim, menjadikan Al Quran sebagai pedoman kehidupan merupakan sebuah keniscayaan. Al Quran sebagai kitab menyempurna dan paripurna menjadi sarana terpenting, termudah, dan paling banyak melimpahkan berkah. Ia ibarat sumber dari mata air yang tidak pernah kering dari perbekalan. Di dalamnya tergambar bimbingan sarana-saran lain yang dapat dijadikan bekal dalam kehidupan. Secara global dapat dikatakan bahwa di dalam Al Quran terdapat segala kebaikan yang dibutuhkan oleh manusia untuk mewujudkan kebahagiaan di dunia serta di akhirat. Selain itu, Al Quran juga sebagai pemelihara serta penyelamat dari kesengsaraan hidup di dunia dan akhirat. Di dalamnya terdapat pilar-pilar pendidikan yang dapat mencetak generasi aqidah dan menumbuhkan potensi-potensi kebaikan bagi diri manusia.

Oleh karena itu, sebagai pilar-pilar pendidikan, interakasi dan aplikasi nilai-nilai dalam Al Quran memegang peranan vital dalam menentukan sebuah generasi. Pola pendidikan yang dewasa ini hanya mendikte masalah-masalah pengetahuan umum dan berorientasi pada kecerdasan intelektual akhirnya hanya menciptakan manusia mesin yang silau akan dunia. Manusia dituntut untuk menguasai ilmu tanpa dibarengi dengan penguasaan sumber ilmu yang hakiki, dimana di sana terdapat petunjuk, rahmat sekaligus peringatan. Akhirnya, pola tersebut berimbas pada biasnya pemaknaan diri sebagai manusia.

Sebagai ikhtiar mewujudkan pendidikan yang menyeluruh, Universitas Sebelas Maret (UNS) sebagai tempat dilaksanakannya aktivitas pendidikan mencoba menyelaraskan kehidupan kampus dengan interaksi warga muslim dengan Al Quran. salah satunya dengan terbentuknya organisasi Ilmu Quran dijadikan sebagai jalan mengambil sebab untuk menciptakan lingkungan kampus yang semakin akrab dengan Kitabullah.

Ikhtiar ini mendapat sambutan yang sangat antusias dari warga muslim UNS. Berpusat di Masjid Kampus Nurul Huda, aktivitas mengakrabi Al Quran sudah ramai dilakukan oleh mahasiswa. Kegiatan membaca, tahsin, hingga program menghafal menjadi aktivitas yang tidak asing lagi ditemukan. Dukungan dari pihak birokrat menambah semangat mahasiswa untuk turut serta mengikuti program-program bimbingan.

Bak gayung bersambut, sinergi antara birokrat, pengurus Masjid Kampus Nurul Huda, dan mahasiswa, menjadikan aktivitas pengakraban dengan Al Quran semakin tumbuh pesat. Pihak masjid sendiri menilai bahwa aktivitas ini sangat membantu memakmurkan masjid. Suasana masjid yang tidak pernah sepi dengan aktivitas ibadah diharapkan dapat menciptakan lingkungan yang benar-benar islami. Oleh karena itu, sebagai bentuk dukungan berupa mengadakan program seperti camping quran gratis, seminar, hingga kajian yang diharapkan dalam menjadi motivasi dan sarana warga UNS untuk terus mengakrabi Al Quran.

Selain sebagai usaha untuk mengakrabkan diri dengan wahyu Allah SWT tersebut, beberapa mahasiswa menyakini bahwa aktivitas interaksi dengan Al Quran dapat menumbuhkan semangat berprestasi dalam diri seseorang. Seperti halnya yang diungkapkan Syayma Karima (FK ’12), ia menyakini bahwa semangat berinteraksi dengan Al Quran akan berdampak pada capaian prestasi, Menurutnya interaksi dengan Al Quran dan keseharan ruhiyah adalah kekuatan utama dalam menjalankan aktivitas agar tercapainya prestasi yang maksimal. Mahasiswa yang masuk melalui jalur hafidz ini juga telah membuktikannya dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.

Harmonisasi interaksi dengan Al Quran juga mengandung harapan bagi semua pihak yang ada di UNS. Selain sebagai penjagaan ruhiyah dan juga menjadi penyemangat untuk berprestasi, jauh ke depan masyarakat kampus berharap lulusan universitas akan menjadi manusia yang berkualitas. Sejalan dengan harapan tersebut, Dwi Prasetyo (FKIP ’10), mengatakan bahwa tantangan pasca kelulusan akan semakin beragam, maka sudah harusnya lulusan perguruan tinggi tidak hanya membutuhkan keunggulan intelektual, namun juga spiritual dan mental. Ketua Studi Ilmiah Mahasiswa (SIM) ini juga mengatakan bahwa pembelajaran Al Quran di kampus sangat relevan dan dapat memperkuat lulusan UNS.

Membaca, mentadabburi, dan menghafal ayat-ayat Al Quran memang menjadi hal yang terus digemakan di lingkungan UNS. Namun, tak berhenti sampai di sana, harapannya juga akan berkembang kegiatan yang lebih jauh mengkaji kandungan Al Quran dan mengaitkannya dalam bidang keilmuan yang menjadi konsentrasi para wagra UNS. Dengan begitu, jauh ke depan diharapkan lulusan dapat memaknai bidang keahlian dan ilmu pengetahuan selaras dengan wahyu yang diturunkan kepada Rasululullah SAW melalui pelantara Jibril itu. Jika hal ini dapat terwujud, keoptimisan menjadi generasi Islam pembangun peradaban sudah sepantasnya tersematkan dalam jiwa dan cita-cita warga muslim UNS

Buletin NH Edisi 1/ Maret 2015

Semarak Milad 32 Masjid Nurul Huda – Tahun baru Hijriyah & RAPIMNAS FSLDK III

Semarak Milad 32 Masjid Nurul Huda – Tahun baru Hijriyah & RAPIMNAS FSLDK III

cover 32

Dalam rangka milad ke 32 Masjid Nurul Huda UNS, Tahun Baru Hijriyah dan penyelenggaraan Rapat Pimpinan Nasional FSLD ke III, Masjid Nurul Huda menyelenggarakan serangkaian acara bertajuk :

“DARI MASJID KEJAYAAN BERMULA”

1. Bedah Buku Lapis-Lapis Keberkahan
Ustadz Salim A. Fillah
(Penulis, Pengelola Majelis Jejak Nabi)
Rabu 22 Oktober 2014 Jam 15.30

2. Tabligh Akbar “Islam dan Tantangan Modernisasi”
Ustadz Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A.Ed, M.Phil
(Ketua Majelis Intelektual Muda Muslim Indonesia/ MIUMI, Direktur INSIST)
Jum’at 24 Oktober 2014 Jam 13.00

3. Launching Forum Pembebasan Al Aqsa
Ustadz Suryadi saputra, S.Pd.I (Komite Nasional Untuk Rakyat Palestina)
Syaikh Mahmood Saalim (Palestina)
Ahad 26 Oktober 2014 Jam 15.30

Selain kegiatan tersebut di atas, Masjid Nurul Huda UNS juga akan meluncurkan unit usaha Warung NH dan NH Store pada tanggal 22 oktober 2014 dan Lomba #AkuDanMasjidNH