[KHUTBAH IED] Reaktualiasi  Suri Tauladan  Nabi Ibrahim Dalam Mewujudkan Keluarga  Yang Taat Dan Patuh Terhadap Perintah  Allah

[KHUTBAH IED] Reaktualiasi Suri Tauladan Nabi Ibrahim Dalam Mewujudkan Keluarga Yang Taat Dan Patuh Terhadap Perintah Allah

Reaktualiasi  Suri Tauladan  Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam Dalam Mewujudkan Keluarga  Yang Taat Dan Patuh Terhadap Perintah  Allah Subhanahu Wa Ta’ala

oleh : DR. M. Hudi Asrori Suyuti, S.H., M.H

[pdf]

اللهُ أكْبرُ اللهُ أكْبرُ اللهُ أكْبرُ اللهُ أكْبرُ كبِيرْاً والْحمْدُ للهِ كثِرْاً وسُبحْان اللهِ بُكْرة وأصِيْلاً لا إلِه إلِا اللهُ اللهُ أكبرُ ، اللهُ أكبرُ ولله الْحمْدُ

إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ،

وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه.

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلىَ اَلِهِ وَ أَصْحَابِهِ وَ مَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا .

أَمَّا بَعْدُ

فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَ خَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ و كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ

Hadirin, Jamaah Shalat Idul Adha yang dimuliakan Allah Subhanahuwataa’ala. Setelah tidak henti-hentinya kita memanjatkan puja & puji syukur ke hadhirat Allah Subhanahu wata’ala, atas segala nikmat dan karuniaNYA, maka marilah kita saling berwasiat untuk senantiasa meningkatkan iman & taqwa kepada Allah Subhanahuwata’ala dengan sebenar-benar taqwa.

Hari ini semua Umat Islam di seluruh penjuru dunia menyambut dan merayakan hari raya Idul Adha dengan melaksanakan ibadah shalat ‘ied dan menyembelih ternak korban. Setiap ibadah tentu sudah dituntunkan rukun dan tata cara melaksanakannya, yang di dalamnya tentu mengandung hikmah yang hanya Allah sendiri yang mengetahuinya.

Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahilhamdu.

Bagi manusia hikmah setiap ibadah seringkali tidak mampu menangkapnya secara nalar ataupun dhohir, sehingga sering menggiring kita untuk bersu’udhon kepada Allah Subhanahu wata’ala, bahkan bermaksiat dengan melanggar hukum-hukumNYA. Astaghfirullahal’adzim.

Hikmah dari ibadah Qurban diantaranya adalah mendekatkan diri kepada Allah atas segala kenikmatan yang telah diberikan kepada kita, sebagaimana disabdakan oleh Allah Subhanahuwata’ala di dalam Al Qur’an, Surat Ibrahim  ayat 34,

وَآتَاكُمْ مِنْ كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لا تُحْصُوهَا إِنَّ الإنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ

yang artinya “Dan Dia telah memberikan kepadamu segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah)“.

Inilah karakter manusia, yaitu sering berani berbuat maksiat, mengingkari nikmat Allah dan tidak mensyukurinya. Dengan ayat ini Allah mengajak hamba-hamba-Nya mensyukuri nikmat-nikmatNya, serta meminta dan berdoa kepada-Nya di setiap waktu.

Mengapa kita seringkali ingkar? Karena kita sering silau terhadap kebahagiaan kehidupan dunia yang bersifat sementara ini dan melupakan kehidupan di akhirat yang abadi kelak.

Sudah kita yakini kehidupan di dunia ini “mung mampir ngombe“. Oleh karena itu, kebahagiaan  mestinya kita cari untuk kehidupan di dunia dengan cara halalan thayibah, supaya kita bisa meraih kebahagiaan yang kekal dan abadi di akhirat.

Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahilhamdu.

Hadirin para Jamaah Yang dimuliakan Allah Subhanahu wata’ala.

Kebahagiaan fiddini wa dunya wal akhirat harus menjadi target kehidupan manusia. Oleh karenanya amat tidak disukai oleh Iblis, sebagai musuh abadi manusia. Iblis, akan terus menghalangi upaya meraih kebahagiaan tersebut.

Untuk menjaga kebahagiaan, baik dalam berkeluwarga, bermasyarakat & bernegara, salah satu benteng yang kuat, sehingga dapat mengatasi halangan iblis adalah ketaqwaan kita kepada Allah Subhanahuwata’ala. Tingkatkan taqwa & kuatkan selama-lamanya, karena ia akan mencegah masuknya intervensi Iblis dalam menghancurkan kebahagiaan anak-anak Adam. Namun demikian kita sering berpikir praktis, yaitu mengutamakan kebahagiaan dunia dengan mengabaikan kebahagiaan di akhirat.

Inilah yang menjebak kita untuk terperosok kepada kebahagiaan semu. Kebahagiaan yang dilandasi nafsu kehidupan di dunia yang tidak ada puasnya, segala sesuatu yang telah didapatkan hanya dinikmati sementara dan selalu diikuti nafsu mencari yang lain dan berlebih, dengan segala cara. Nafsu manusia seperti inilah, yang dijadikan skema penelitian dan pengabdian masyarakat Iblis yang sangat sistematis dan tersetruktur. Godaan iblis bersifat komprehensif dan holistik, subyeknya berbentuk manusia dan ghaib, obyeknya adalah nafsu-nafsu manusia, dan cakupannya meliputi semua hal yang menyenangkan manusia : materialistik- kapitalistik, prestisius-egoistik lengkap dengan sentimentilnya. Kita sering terbuai, lupa peringatan dari Allah Subhanahuwata’ala (Yaasin : 60)

أَلَمْ أَعْهَدْ إِلَيْكُمْ يَا بَنِي آدَمَ أَنْ لا تَعْبُدُوا الشَّيْطَانَ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

Bukankah Aku telah perintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaitan? Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu.

Saat ini, Iblis sedang meraih sukses besar. Banyak di antara kita yang menghambakan diri kepada Iblis. Perilaku pelanggaran hukum dan kejahatan  merajalela bahkan seperti gurita yang menggapai-gapai di semua lini kehidupan kita, seiring dengan fatamorgana keelokan duniawi yang membelokan mata dan pikiran menjadi tidak jernih lagi.

Dalam konteks interaksi antar manusia dalam kehidupan sosial, yg di dalamnya terkandung perbedaan-perbedaan tetapi saling pengaruh mempengaruhi, pada dasarnya merupakan dampak dari pembawaan karakteristik pribadi-pribadi manusia yang spesifik dengan kelebihan dan kelemahannya. Konsekwensinya adalah perbedaan dan persaingan adalah suatu keniscayaan. Keteguhan adalah kegoncangan yang tertahan karena digoyang godaan yang sangat mempesona untuk diraih oleh nafsu manusia. Oleh karena itu, saling mengingatkan pd hal yg haq & kesabaran,  watawa shoubil haq, watawa shoubishshabr’, merupakan suatu kewajiban sekaligus kebutuhan bagi manusia.

Berkaitan erat dengan ibadah korban adalah ibadah haji, yang saat ini saudara-saudara kita sudah selesai melaksanakan wukuf di arafah dan malam ini, waktu Saudi, sedang mabit di Muzdalifah, untuk selanjutnya melaksanakan pelemparan jumrah aqabah serta thawaf ifadhah dan sya’i sebagai kesempurnaan terhadap rukun hajinya.

Kita melihat ada hikmah yang besar dari ibadah korban dan ibadah haji yang semuanya bersumber pada keimanan dan ketaqwaan satu keluarga sebagai basic tata kehidupan Muslim Mukmin, yaitu ketaatan Nabi Ibrahim terhadap perintah Allah, kepatuhan Nabi Ismail terhadap ayahnya yang melaksanakan perintah Allah dan keshalihahan Siti Hajar yang ihlas dan tabah ditinggalkan suaminya di pedang gersang dekat Baitullah di sisi pohon Dauhah bersama anaknya Ismail karena memenuhi perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dialog penuh kesabaran dan kemesraan nampak diantara mereka berdua. Pada saat Ibrahim meninggalkan keduanya. Siti Hajar mengikutinya dan bertanya, “Hendak ke manakah, wahai Ibrahim? Engkau meninggalkan kami di lembah yang tiada teman atau apa pun?” Hajar mengulang pertanyaannya beberapa kali. Saat dilihatnya Ibrahim hanya diam, segera ia tersadar. “Apakah Allah yang menyuruhmu berbuat demikian?” tanyanya dengan kecerdasan luar biasa.

“Benar,” jawab Ibrahim. “Jika demikian, maka Allah tak akan menelantarkan kami.” Kemudian Hajar kembali ke tempat semula, sedangkan Ibrahim melanjutkan perjalanannya. Sebagai seorang suami yang bertanggung jawab, Nabi Ibrahim menghadapkan wajahnya ke Baitullah seraya mengangkat kedua tangannya dan berdoa, “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak memiliki pepohonan, yaitu di sisi rumah-Mu yang suci. Mudah-mudahan mereka berterima kasih.” Sementara itu, Siti Hajar menyusui Ismail kecil dan minum dari tempat perbekalannya. Setelah air itu habis, ia dan anaknya kehausan. Dengan penuh cinta, ia beranjak pergi mendaki Bukit Shafa dan Marwa untuk menemukan lokasi air. Terus-menerus seperti itu sebanyak tujuh kali, sampai datanglah pertolongan Allah. Tiba-tiba air keluar dari bawah kaki Ismail kecil yang menangis karena kehausan. yang dikenal dengan air Zamzam. Demikianlah satu episode nan indah dari kehidupan suami yang taat kepada Allah dan istri yang patuh kepada suami yang taat kepada Allah. Nuansa kehidupan harmonis yang dilandasi cinta kasih yang ihlas dan tulus karena Allah, sehingga tercipta sinergitas keluarga yang saling asah, asuh dan asih di segala situasi, baik suka dan duka.

Satu episode yang melengkapi keharmonisan Ibrahim dan Siti Hajar berkaitan erat dengan ibadah Qurban, yang berawal dari ketaatan Nabi Ibrahim terhadap perintah Allah Subhanahuwata’ala untuk menyembelih puteranya yang sangat dikasihinya, Nabi Ismail. Allah sangat menghargai dan memuji pengurbanan Nabi Ibrahim yang dilandasi oleh iman dan takwanya yang tinggi dan murni, kemudian mengganti puteranya Ismail yang akan dikurbankan itu dengan seekor hewan domba yang besar. Sebagaimana dituangkan dalam Al Qur’an Surat Ash-Shaaffat ayat 100-108, yang artinya :

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ (100) فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلامٍ حَلِيمٍ (101) فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ (102) فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ (103) وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ (104) قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ (105) إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلاءُ الْمُبِينُ (106) وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ (107) وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الآخِرِينَ (108)

 “Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shaleh. (100). Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar.(101). Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata. ‘Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!’ Ia menjawab, ‘Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar’. (102). Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). (103). dan Kami panggillah dia, ‘Hai Ibrahim, (104). Sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. (105). Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. (106). dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. (107). Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian.

Subhanallah, suatu suri tauladan yang valid dan terhormat karena dituangkan di dalam Al-Qur’an.

Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahilhamdu.

Hadirin, Para Jamaah rahimakumullah.

Anak adalah amanah Allah SWT kepada ayah dan ibunya, oleh karena itu harus senantiasa dipelihara, dididik dan dibina dengan sungguh-sungguh agar supaya menjadi orang yang shalih atau shalihah, jangan sampai anak tersebut tersesat jalan dalam menempuh jalan hidupnya. Maka kewajiban orang tua terhadap anaknya bukan hanya mencarikan nafkah dan kesenangan-kesenangan yang sifatnya duniawi, tetapi lebih dari itu orang tua harus mengarahkan anak-anaknya untuk mengerti kebenaran, mendidik akhlaqnya, memberinya teladan yang serta mendoakannya. Firman Allah SWT :

يايُّهَا الَّذِيْنَ امَنُوْا قُوْآ اَنْفُسَكُمْ وَ اَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَ اْلحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلئِكَةٌ غِلاَظٌ شِدَادٌ لاَّ يَعْصُوْنَ اللهَ مَآ اَمَرَهُمْ وَ يَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ. التحريم:6

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, tidak mendurhakai (perintah) Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. [QS. At-Tahrim : 6]

Dan sabda Rasulullah SAW :

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ. وَالرَّجُلُ رَاعٍ فيِ اَهْلِهِ وَمَسْئُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ. وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ فيِ بَيْتِ زَوْجِهَا وَمَسْئُوْلَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا. البخارى 1: 215

Kamu sekalian adalah pemimpin dan kamu akan ditanya tentang kepemimpinanmu. Orang laki-laki (suami) adalah pemimpin dalam keluarganya dan akan ditanya tentang kepemimpinannya. Isteri adalah pemimpin dalam rumah tangga suaminya dan akan ditanya tentang kepemimpinannya [HR Bukhari juz 1, hal. 215]

Dengan ayat dan hadits tersebut menunjukkan bahwa orang tua mempunyai tanggungjawab yang berat terhadap anaknya. Fenomena masyarakat sekarang yang timbul adalah orang tua sibuk dengan urusan duniawi, anak terjebak pada iklim modernisasi yang seakan tak terkendali, sehingga komunikasi di dalam keluarga menjadi tidak intens seakan terurai bagaikan “sapu ilang suhe“. Alih peradaban dan perilaku dari orang tua yang seharusnya melekat di dalam kehidupan sehari-hari menjadi renggang dan longgar. Situasi kekeluargaan yang jauh dari suri tauladan nenak moyang kita.

Di dalam masyarakat banyak sekali petuah-petuah yang berdasarkan ajaran Islam, dalam bentuk budaya dan olah rasa, namun kini sudah banyak ditinggalkan. Sebagai contoh, ada pepetah “anak polah bopo kepradah“, “ojo cedhak kebo gupak“, “kacang mongso ninggalo lanjaran“, dan lain sebagainya. Itu semua merupakan ungkapan yang menunjukan tanggung jawab orang tua kepada anak-anaknya. Akibat dari semua itu adalah banyak yang terjebak pada perilaku yang melanggar ketentuan-ketentuan di dalam hukum agama dan hukum negara. Saat ini muncul kejahatan dengan berbagai modus dan sarananya. Orang tua melakukan korupsi untuk mengejar gelimang duniawi dan anak-anak terperosok dalam perilaku negatif penyalahgunaan narkoba, hubungan bebas, perkelahian bahkan pembunuhan, dan lain sebagainya.

Memang, di dalam tata kehidupan bermasyarakat dan bernegara konsekwensi logis dari hukum negara, ciptaan manusia, terdapat banyak kelemahan. Meskipun berlaku asas iedereen wordt geacht de wet te kennen, semua orang dianggap tahu hukum, namun substansinya selain double faced chatarters, juga sering tdk lengkap, tdk jelas, tdk mengatur atau mengatur tdk sesuai dng keadilan masyarakat. Inilah pintu masuk terhadap pelanggaran2 hukum/UU. Oleh karenanya orang tdk takut hukum/UU (dunia) karena terbuka lebar pintu2 penyelematan, namun tdk ingat bahwa orang juga akan berhadapan dng Hukum Allah yang dengannya tdk mungkin dpt dihindarinya dan harus dipertanggungjawabkan di hari qiyamat kelak, dng sanksi yg sangat berat.

Oleh karena itu, Orang tua harus dan harus menanamkan pendidikan serta  pengawasan terhadap ‘aqidah dan syariah yang benar terhadap anak-anaknya. Orang tua wajib mendidik, menjaga dan menyelamatkan keluwarganya jangan sampai syirik, dan menyuruh mereka untuk mendirikan shalat sebagai benteng yang kokoh. Allah berfirman :

وَأْمُرْ اَهْلَكَ بِا لصَّلوةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ، لاَنَسْاَلُكَ رِزْقًا ، نَحْنُ نَرْزُقُكَ ، وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوى. طه :132

Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bershabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezqi kepadamu, Kamilah yang memberi rezqi kepadamu. Dan akibat (yang baik) adalah bagi orang yang bertaqwa. [QS. Thaahaa : 132]

Bagi masyarakat Jawa, oleh nenek moyang kita, kehidupan keIslaman sebagai agama yang haq sudah ditanamkan sehingga hidup, tumbuh dan berkembang di dalam masyarakat kita, khususnya Jawa Tengah, sebagai pewaris dan penerus dinasti Mataram Islam. Hadirin tentu hafal dengan tembang Sabdhatama, YayasanDalem KGPAA Mangkunegara IV, pada pupuh Pangkur, Gatra pertama, yaitu “mingkar mingkuring angkara, akarana karnan mardi siwi, sinawung resmining kidung, sinubo sinungkarta, mrih krtarto pakartining ngelmu luhung, kang tumrap ing tanah jawa, agama ageming aji“. Mingkar mingkuring angkara, berarti mengendalikan diri dari angkara (kemurkaan), Akarana karenan mardi siwi berarti dalam hal akan mendidik putra, Sinawung resmining kidung,  berati  dipresentasikan dengan syair, Sinuba sinukarta, berarti dirangkai dengan  keindahan,  Mrih kretarta pakartining ngèlmu luhung, berarti agar tercapai implemntasi ilmu yang luhur, dan Kang tumrap ing tanah Jawa, berarti yang berlaku di tanah Jawa, Agama ageming aji berarti agama pegangan para pemimpin (keluwarga).

Untuk mencapai tujuan tersebut di dalam keluwarga harus tercipta sinergi yang saling kait mengkait dengan erat dan kuat antara ayah, ibu dan anak-anaknya secara “golong gilig“. Golong berarti bulat dan gilig berarti membujur sejajar tanpa tepi. Memang itu suatu idea yang tidak mudah untuk dilaksanakan. Tetapi itu adalah taget kehidupan dan hidup bagi seseorang baik secara mandiri ataupun di dalam keluwarga dan masyarakatnya yaitu Muslim Mukmin yang ingin mencapai kehidupan yang baik di dunia dan akhirat. Hal ini pulalah yang mengilhami NgarsaDalem Sri Sultan Hamengku Buwono I untuk memberikan pendidikan moral dan karakter orang (satria) Jawa dengan sikap “nyawiji, greget, sengguh lan ora mingkuh“. Nyawiji yang berarti di dalam dirinya satu, menyatu, terpadu. Greget diartikan sebagai gigih, semangat, kerja keras dan dinamis. Sengguh berarti percaya diri dalam bertindak tanpa pongah atau besar kepala (tetap rendah hati). Ora mingkuh berarti tidak akan mundur dalam menghadapai tantangan maupun halangan dan tidak lari dari tanggung jawab.

Demikianlah, untuk mengarungi mahligai rumah tangga yang didalamnya terdapat anak-anak yang menjadi tanggung jawab kita, perlu kiranya mereaktualisasi suri teladan ketaatan Nabi Ibrahim, keshalihahan Siti Hajar dan kepatuhan Nabi Ismail di dalam keluarga kita. Semoga Allah Subhanahu wata’ala memberikan taufiq dan hidayah kepada kita semua.

Sebagai akhir dari khutbah kali ini, marilah kita berdo’a kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامً

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْإِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِلَّذِيْنَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

اَللَّهُمَّ آمِنَّا فِيْ أَوْطَانِنَا وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةَ أُمُوْرِنَا وَاجْعَلْ وِلَايَتَنَا فِيْ مَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ وَاتَّبَعَ رِضَاكَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. اَللَّهُمَّ وَفِّقْ وَلِيَّ أَمْرِنَا لِهُدَاكَ وَاجْعَلْ عَمَلَهُ فِيْ رِضَاكَ، وَارْزُقْهُ الْبِطَانَةَ الصَّالِحَةَ النَاصِحَةَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِيْ أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ

85 Adik Asuh Ikuti Pesantren Ramadhan LAZIS UNS

85 Adik Asuh Ikuti Pesantren Ramadhan LAZIS UNS

Solo, LAZIS UNS – LAZIS UNS kembali mengadakan Pesantren Ramadhan untuk Adik Asuh usia SMP-SMA, Sabtu-Ahad (10-11/6). Agenda ini rutin diadakan setiap bulan Ramadhan setiap tahunnya sebagai salah satu bentuk pembinaan terhadap Adik Asuh LAZIS UNS yang merupakan penerima beasiswa Kakak Asuh LAZIS UNS. Sejumlah 85 Adik Asuh mengikuti Pesantren Ramadhan yang kali ini diadakan di Markazul Quran Masjid Darussalam Pundunggede, Kadipiro, Banjarsari, Surakarta.

Kegiatan Pesantren Ramadhan dibuka oleh Manajer Operasional LAZIS UNS, Tri Asmoro Budi W., S.Pd. Dalam sambutannya Pak Tri mengharapkan peserta dapat mengikuti kegiatan dengan tertib dan saling menjaga keamanan. “Kami berharap adik-adik dapat mengikuti rangkaian kegiatan dengan tertib dan dapat mengisi Ramadhan dengan kegiatan yang positif, dan tentunya kami berharap agar saling menjaga keamanan masing-masing”, Kata Pak Tri dalam sambutannya.


Sabtu sore, peserta membagikan makanan untuk buka puasa (ifthar) kepada pengguna jalan raya dan tukang becak di sepanjang jalan Makam Bonoloyo hingga ke Palang Joglo. Ifthar yang dibagikan yaitu sebanyak 150 paket berupa 1 cup kolak pisang dan buah kurma. Selepas membagikan ifthar, adik-adik kembali ke Markazul Quran Masjid Darussalam untuk sharing pengalaman berbagi ifthar.

Waktu berbuka yang dinantikan tiba dan peserta bersama-sama berbuka puasa dilanjutkan dengan melaksanakan shalat Maghrib berjamaah dan kegiatan pribadi. Selepas shalat Isya dan Tarawih berjamaah, peserta mengikuti acara Training  Motivasi oleh Ustadz Amron Yuflaeli, S.Sn. Ustadz Amron menyampaikan materi “Remaja Idaman Surga” dengan gaya anak muda, penuh semangat dan sesekali mengundang gelak tawa. Kondisi peserta yang awalnya mengantuk pun menjadi semangat kembali.

Memasuki hari Ahad, selepas sahur bersama, peserta Pesantren Ramadhan kembali membagikan nasi bungkus kepada para tukang becak dan tunawisma di sekitar. Kegiatan dilanjutkan dengan shalat Subuh berjamaah dan tilawah bersama kelompok mentoring masing-masing. Pukul 6.30 pagi, peserta mengikuti Senam Pokemon yang dipandu oleh relawan LAZIS UNS dan dilanjutkan aktivitas bersih-bersih masjid. Kegiatan berikutnya adalah kreasi majalah dinding. Peserta berdasarkan kelompok mentoringnya membuat majalah dinding yang memuat konten tentang kesan dan kegiatan adik asuh selama setahun.

Kegiatan Pesantren Ramadhan yang bertujuan untuk memberikan alternatif kegiatan positif dan saling mempererat tali silaturahmi antar adik asuh ini menurut Indra Setiawan, S.S. (penanggung jawab program adik asuh, -red) berjalan lancar dan sesuai harapan. “Alhamdulillah kegiatan Pesantren Ramadhan LAZIS UNS selama dua hari ini berjalan lancar, bahkan  ada program dadakan yaitu Berbagi Sahur on the road untuk menyalurkan makanan kepada tukang becak dan orang-orang jalanan dari paket sahur yang masih tersisa banyak”, tutur Indra.

Pesantren Ramadhan LAZIS UNS ditutup dengan penyerahan dana beasiswa bulan Juni kepada adik asuh yang hadir.  serta penghargaan kepada beberapa peserta dengan kriteria khusus, di antaranya Peserta Terbaik, Peserta Tersemangat, dan Peserta Termanis.

Santri TPA & RAP Binaan LAZIS UNS Ikuti Pawai Sambut Ramadhan

Santri TPA & RAP Binaan LAZIS UNS Ikuti Pawai Sambut Ramadhan

Solo, LAZIS UNS – Dalam rangka menyambut datangnya bulan suci Ramadhan 1438 H, LAZIS UNS mengadakan Pawai Sambut Ramadhan bersama santri TPA dan adik Rumah Anak Pintar (RAP) Binaan LAZIS UNS, Kamis (25/5). Sebanyak 116 anak mengikuti pawai ini. Pawai dimulai dari halaman parkir utara Masjid Nurul Huda UNS dan berakhir di Taman Cerdas Jebres. Di sepanjang perjalanan pawai, adik-adik bershalawat sambil membawa poster yang bertemakan Ramadhan. Tak lupa mereka juga membagikan jadwal imsakiyah kepada warga sekitar.

Setelah sampai di Taman Cerdas adik-adik beristirahat sembari menyaksikan penampilan dari masing-masing TPA. Berikutnya ada kak Erma yang menyampaikan dongeng tentang Ramadhan dan disimak dengan antusias oleh adik-adik.

Candra Arum Kusumawati, penanggung jawab kegiatan pawai mengungkapkan, pawai Ramadhan ini selain bertujuan untuk mempererat tali silaturrahmi antarTPA dan RAP Binaaan LAZIS UNS, juga sebagai syiar Ramadhan di lingkungan masyarakat sekitar.

Muslimah Nurul Huda Kunjungi Masjid Jogojaryan

Muslimah Nurul Huda Kunjungi Masjid Jogojaryan

Komunitas Muslimah Nurul Huda UNS mengadakan kunjungan dengan tema “Wisata Ruhani Komunitas Muslimah Nurul Huda Uns” di Masjid Jogokariyan Jogjakarta. Kegiatan ini diselenggarakan pada hari Kamis, 11 Mei 2017 bertepatan dengan hari libur nasional.

Diadakannya kegiatan ini bertujuan untuk menambah ilmu berkaitan dengan kegiatan muslimah Nurul Huda. Serta mempererat silaturahim muslimah Nurul Huda yang pengurusnya adalah dosen dan karyawan muslim UNS.

Studi Ruhani ini memilih Masjid Jogokariyan karena merupakan salah satu masjid percontohan nasional dengan manajemen yang sudah tertata.

Sebagaimana disampaikan perwakilan Takmir Masjid yang menyambut rombongan Komunitas Muslimah Nurul Huda,  manajemen yang di terapkan di masjid tersebut adalah dengan suatu rumus yaitu S=F+K yang berarti “K” merupakan “kepentingan” , “F” adalah “fungsi”, serta “S” untuk “Sikap”.

Artinya  suatu masjid pastinya mempunyai tugas dan fungsi dalam membangun  dakwah dilingkungan, kemudian kepentingan masjid ini untuk apa dan siapa. Baik pengurus maupun jamaah di lingkungan, bersama sama mempunyai kepentingan yang sama yaitu memakmurkan masjid. Dari fungsi dankepentingan ini maka lahirlah sikap yaitu bergerak untuk mewujudkan kemakmuran dari masjid tersebut.

Melahirkan Mahasiswa Yang Da’i Lewat Training Da’i Muda

Melahirkan Mahasiswa Yang Da’i Lewat Training Da’i Muda

Biro AAI UNS bekerja sama dengan takmir Masjid Nurul Huda UNS menyelenggarakan Training Da’i/Da’iyah Muda (TDM) Universitas Sebelas Maret. TDM kali ini merupakan periode keempat setelah sukses diselenggarakan pada 3 tahun sebelumnya.

Dengan mengangkat tema “Membentuk Generasi Da’i Cendekia sebagai Gerbang menuju Kejayaan Islam”, training ini merupakan bekal bagi calon Asisten Agama Islam, dan juga terbuka untuk seluruh mahasiswa muslim UNS.

“TDM adalah agenda rutin yang dilakukan guna mengkader da’i/da’iyah muda di UNS. Secara khusus untuk calon Asisten AAI, dan secara umum untuk seluruh mahasiswa muslim UNS. Karena pada dasarnya setiap diri kita adalah da’i sebelum menjadi yang lainnya”, ujar Asrori, Ketua Biro AAI UNS dalam sambutannya di awal TDM.

TDM #4 dilaksanakan dalam empat pertemuan yang dimulai pada hari ini, Sabtu (29/4) dari pukul 08.00 hingga 12.00 di Ruang Seminar NHIC UNS dan akan dilanjutkan pada tanggal 6, 13, dan 20 Mei 2017 mendatang.

Sesi pertama disampaikan materi ‘Pengertian dan Urgensi Dakwah’ oleh Ustadz Hatta Syamsuddin, Lc dan dilanjutkan oleh Ustadz Dr. Sc. Agr. Rahayu, S.P., M.P. pada sesi berikutnya dengan materi ‘Strategi dan Metodologi Dakwah’.

Pertemuan pertama ini telah menarik paling tidak 218 peserta yang terdiri dari 57 orang laki-laki dan 161 orang perempuan.

JN UKMI UNS SELENGGARAKAN SEBELAS MARET ISLAMIC FESTIVAL

JN UKMI UNS SELENGGARAKAN SEBELAS MARET ISLAMIC FESTIVAL

Bertempat di Aula Gedung F FKIP UNS, JN UKMI UNS menyelenggarakan kegiatan Grand Opening Sebelas Maret Islamic Festival (SIFT).  Acara yang berlangsung Ahad (16/4) ini menghadirkan dua orang da’i muda lulusan Universitas Al Azhar Kairo, Ustadz Hanan Attaki dari Bandung dan Ustadz Tri Bimo dari Solo.

Mengambil tema “Way of Success: Our Effort and Allah’s Help” dua pembicara menyampaikan kekuatan tawakkal kepada Allah sebagai salah satu kunci kesuksesan dalam hidup. Melibatkan ALlah dalam setiap urusan kehidupan kita, Allah akan mencukupkan keperluan-keperluan kita.

Dibuka secara resmi oleh  Presidium Takmir Masjid Nurul Huda, DR. Syafi’i, Sebelas Maret Islamic Festival adalah kegiatan rutin tahunan yang diselenggarakan oleh JN UKMI dan UKM Kerohanian Islam tingkat fakultas yang ada di UNS. Selama kurang lebih sebulan berbagai agenda seperti tabligh akbar, seminar, pameran, dan kegiatan seni budaya akan menghiasi event yang telah memasuki tahun ke-4 penyelenggaran ini.

Kegiatan ini cukup  menarik perhatian generasi muda Islam di Kota Solo. Lebih dari seribu  peserta telah memenuhi  Aula Gedung F sejak pukul 7 pagi. Bahkan cukup banyak peserta yang tidak memperoleh tempat duduk dan terpaksa harus duduk lesehan.

 

MENJADIKAN RUMAH TANGGA SEINDAH SURGA

MENJADIKAN RUMAH TANGGA SEINDAH SURGA

Bertempat di Ruang Seminar Masjid Nurul Huda UNS, Forum Komunikasi Dakwah Islam menyelenggarakan Seminar Parenting Islami, Ahad (16/04).

Mengambil tema “Menjadikan Keluarga Surga sebelum Surga Sebenarnya”, lima orang pembicara membersamai peserta mulai dari pembahasan tentang komunikasi  suami istri, komunikasi orangtua dan anak, hingga psikologi anak.

Seminar ini sekaligus ajang kopdar komunitas yang berawal dari grup kajian online ini. puluhan peserta datang dari berbagai daerah tidak hanya dari Solo, bahkan cukup banyak yang berasal dari luar kota.

Bijak Berteknologi Yuk…

Bijak Berteknologi Yuk…

Kemajuan teknologi adalah sesuatu yang tidak bisa kita pungkiri dalam kehidupan ini, karena kemajuan teknologi akan berjalan seiring dengan adanya kemajuan ilmu pengetahuan. Setiap inovasi diciptakan untuk memberikan manfaat positif bagi kehidupan manusia, memberikan banyak kemudahan dalam melakukan aktivitas sehari hari.

Namun, ketika teknologi di salah gunakan, maka justru bisa menjadi sebuah ancaman yg merugikan dan membahayakan.

Bertempat di Masjid Nurul Huda UNS, Persatuan Orangtua Santri TPA IT – KB IT – RA/TKIT ALAM MIFTAHUL JANNAH SURAKARTA pada 9 April 2017 mengadakan Kajian Keluarga Islami dengan tema “Bijak Berteknologi Yuuk…” dengan mengundang seluruh keluarga besar Miftahul Jannah, adik adik asuh Lazis UNS, adik adik binaan PKPU SKA, perwakilan sekolah TK se SKA, takmir masjid di SKA dan jamaah umum.

Kajian ini diadakan dengan tujuan mengajak masyarakat untuk memanfaatkan kemajuan teknologi dengan bijak dan tepat. Kajian dikemas secara menarik dan kekeluargaan, dengan sasaran anak usia dini, kaula muda, hingga orang dewasa. Materi disampaikan oleh Kak Wuntat (pendongeng nasional) dan Bu Setiawati Intan Savitri, S.P M.Si (praktisi literasi dan psikolog nasional), tampilan tilawah dan dai cilik dari siswa Miftahul Jannah pun, menjadi pembuka acara apik.

Mahasiswa, Guru Hingga Anggota TNI Hadiri Seminar Pra Nikah Di UNS

Mahasiswa, Guru Hingga Anggota TNI Hadiri Seminar Pra Nikah Di UNS

Takmir Masjid Nurul Huda UNS bekerja sama dengan LSM Komunitas Perlindungan Perempuan dan Anak (KPPA) Benih Surakarta adakan Seminar Pra Nikah pada 19 Maret 2017.

Menghadirkan Kang Abay (Motivasinger) dan Mbak Vida (Ketua KPPA Benih), acara yang digelar sejak pagi sampai siang ini berhasil menyedot perhatian banyak pihak. Sekitar 1000 peserta hadir memenuhi aula gedung F FKIP UNS. Uniknya, acara ini tak hanya dihadiri oleh kalangan mahasiswa se-Solo raya saja, namun juga dihadiri kalangan guru dan bahkan anggota TNI.

Dalam sambutannya, Bapak Suwarto A.Md selaku penanggung jawab harian Takmir NH menyampaikan bahwa Masjid Nurul Huda melalui Nurul Huda Family Center berkomitmen hadir di tengah-tengah masyarakat untuk melakukan berbagai macam pembinaan. Salah satu sasaran pembinaan tersebut adalah pembinanan terhadap keluarga sebagai sel terkecil dalam masyarakat, mulai dari persiapan pernikahan hingga pasca pernikahan (parenting) termasuk diantaranya NH menyediakan jasa paket walimah syar’i.

Di hadapan peserta, Kang Abay mengajak para peserta agar senantiasa memantaskan diri setiap waktunya, mengisi hari-harinya dengan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat dan menyiapkan rencana berkeluarganya dengan sebaik-baiknya, karena separuh usia kita nanti akan kita lalui bersama pasangan kita masing-masing.

“Tingginya antusiasme peserta, khususnya peserta putra ini semakin menguatkan kami untuk membuka Sekolah Pra Nikah kelas Putra”, kata mbak Vida selaku pembicara sekaligus pengelola Sekolah Pra Nikah.

Sebagai informasi, seminar ini merupakan acara penutup dari rangkaian Sekolah Pra Nikah kelas putri angkatan ke – 6 yang berlangsung sejak Oktober – Desember 2016 kemarin.

Khataman Al Qur’an Serentak Perguruan Tinggi se-Indonesia

Khataman Al Qur’an Serentak Perguruan Tinggi se-Indonesia

Menristekdikti M Nasir meluncurkan Gerakan Kampus Nusantara Mengaji di Universitas Sebelas Maret, Solo, Jawa Tengah, Jumat (10/3) malam. Peluncuran yang dirangkai dengan acara peringatan Dies Natalis Ke-41 UNS itu sekaligus menandai deklarasi gerakan serupa di 40 kampus negeri seluruh Indonesia.

Hadir dalam acara itu antara lain mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD, mantan Mendikbud Muhammad Nuh, Pendiri ESQ Ary Ginanjar, dan Rektor UNS Prof Ravik Karsidi. Rektor UNS dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan khataman Al Qur’an telah menjadi agenda rutin dalam kegiatan dies natalis UNS sejak tahun 2014.

“Saya yakin dengan menghatamkan Al Quran dapat memperkuat mental mahasiswa serta meminimalkan gerakan radikalisme di kampus,” ujar Menristekdikti. Sementara mantan Mendikbud M Nuh mengungkapkan bahwa ide dasar Kampus Nusantara Mengaji adalah untuk memberikan penghargaan kepada anak-anak yang hafal Al Quran.

“Kita semua ingin memberikan penghargaan apa pun yang punya prestasi. Jika selama ini prestasi diukur oleh olimpiade-olimpiade, mengapa pihak terkait tidak mengakui prestasi menghafal Al Quran,” kata dia. Mahfud MD yang juga memberikan sambutan menambahkan bahwa mahasiswa sebaiknya tidak hanya mengembangkan aspek rasional, tapi juga harus mengasah keimanan dan spiritual.

Dalam kegiatan Khataman Al Qur’an Serentak Perguruan Tinggi Se -Indonesia kali ini didukung juga oleh FSLDK Indonesia yang mengkoordinir 41 kampus yang terlibat dalam kegiatan ini.